PEKANBARU – Malam Jumat (29/8/2025), Pemerintah Provinsi Riau resmi memiliki Sekretaris Daerah (Sekda) definitif baru. Syahrial Abdi, birokrat berpengalaman sekaligus cucu pejuang kemerdekaan, dilantik melalui Keputusan Presiden Nomor 123/TPA Tahun 2025 tentang Pengangkatan Pejabat Pimpinan Tinggi Madya.

Syahrial Abdi bukan nama baru di pemerintahan Riau. Alumni Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) itu telah meniti karier panjang, mulai dari camat, kepala dinas, hingga dipercaya menjadi Penjabat Bupati Kampar dan Bengkalis. Ia juga dikenal dekat dengan kalangan pesantren, sebab pernah menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Babussalam Pekanbaru sebelum melanjutkan studi hingga meraih gelar doktor.

Ketua Harian Ikatan Alumni Ponpes Babussalam, Androy Ade Rianda, menyebut penetapan Syahrial Abdi sebagai Sekda Riau menjadi kebanggaan sekaligus motivasi bagi para santri. "Dari seorang santri hingga kini menjadi Sekda Riau, perjalanan beliau adalah bukti nyata kualitas pendidikan pesantren. Kami berharap Pak Syahrial dapat membantu gubernur dan wakil gubernur membangun daerah ini," ujarnya.

Menurut Androy, sejak remaja Syahrial sudah menunjukkan prestasi baik akademik maupun nonakademik. "Beliau pernah menjuarai olimpiade, ikut pertukaran pelajar ke luar negeri, dan dikenal disiplin. Itu modal besar yang terus terbawa hingga memimpin birokrasi," jelasnya.

Sementara itu, Anggota IKA Babussalam, Rizki Auliansyah, menilai Syahrial Abdi sebagai teladan bagi alumni. "Pak Syahrial adalah contoh nyata bahwa santri bisa meniti jalan panjang hingga duduk di posisi strategis pemerintahan. Dari pesantren, beliau membawa nilai moral yang menjadi fondasi kuat kepemimpinan," katanya.

Selain dukungan dari kalangan pesantren, kiprah Syahrial Abdi juga mendapat sorotan dari sejarawan dan budayawan Riau, OK Nizami Jamil. Ia mengingatkan bahwa Syahrial adalah cucu Haji Imam Ismail bin Bidin atau lebih dikenal Imam Sabun, tokoh Kesultanan Siak sekaligus pejuang kemerdekaan.

"Dengan titah Sultan Assaidis Syarif Abdul Djalil Saifoedin, Haji Ismail diangkat menjadi Imam Jumat tahun 1940. Beliau bukan hanya imam salat, tetapi juga pejuang yang cerdas dalam bernegosiasi sehingga digelari Imam Sabun," ungkap Nizami.

Perjuangan Haji Imam Ismail kemudian diakui negara melalui SK Menteri Pertahanan Keamanan Panglima ABRI Nomor Skep/956/VIII/1981, yang menganugerahkan gelar Veteran Pejuang Kemerdekaan. Ia bahkan tercatat ikut mengibarkan bendera Merah Putih di Siak pada 17 Oktober 1945, setelah kabar proklamasi baru sampai ke daerah itu.

Mantan Gubernur Riau, Wan Abu Bakar, juga mengenang Haji Imam Ismail sebagai ulama dan pejuang. "Beliau diangkat sebagai khatib Kesultanan Siak pada 1940. Semangat pejuang dan ulama itulah yang menjadi warisan bagi Syahrial Abdi. Saya yakin, semangat itu bisa memotivasi beliau untuk bekerja lebih baik di Pemprov Riau," tegasnya.

Syahrial Abdi lahir di Pekanbaru pada 1 Oktober 1975 dari pasangan Syaharuddin dan Robiah. Latar belakang keluarga, pendidikan pesantren, serta garis keturunan pejuang kemerdekaan menjadikannya figur yang tidak hanya berpengalaman di birokrasi, tetapi juga memiliki akar kuat dalam sejarah dan nilai-nilai perjuangan.

Kini, dengan jabatan barunya sebagai Sekda definitif, Syahrial Abdi diharapkan mampu mempercepat kerja pemerintahan, khususnya dalam memimpin Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD). Para kolega, alumni, dan tokoh Riau berharap kiprahnya mampu membawa perubahan positif bagi daerah. ***