BAGANSIAPIAPI - PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) menyelenggarakan kegiatan Media Visit Apresiasi Jurnalistik Pertamina (AJP) 2026 ke Kabupaten Rokan Hilir, Senin (25/10/2026).

Kunjungan ini berfokus meninjau langsung keberhasilan Program Community Involvement and Development (CID) di Kepenghuluan Parit Aman dan Rumah Oleh-oleh Bagansiapiapi.

Program pemberdayaan masyarakat tersebut dirancang untuk menggerakkan kemandirian ekonomi lokal di sekitar wilayah operasi perusahaan.

Rombongan pewarta diajak melihat dari dekat ekosistem perikanan yang dikelola secara swadaya oleh masyarakat setempat.

Saat ini terdapat sekitar 150 hingga 200 unit kolam budidaya ikan patin yang tersebar di wilayah Parit Aman, Kecamatan Bangko.

Salah satu lokasi percontohan adalah lahan seluas 0,5 hektare milik Aditya di Dusun Makmur Abadi.

Pemuda ini meneruskan jejak sang ayah, Rahmad, dengan mengelola 18 kolam berukuran bervariasi yang bisa dipanen setiap dua bulan sekali.

Sebagian besar masyarakat pembudidaya di daerah tersebut dulunya merupakan petani kelapa sawit.

Lantaran hasil panen kebun dinilai semakin menurun, warga secara bertahap memutar haluan menjadi pembudidaya ikan patin sejak belasan tahun lalu.

Pengelola Lapangan Perikanan Parit Aman, Mustakim menceritakan bahwa transisi usaha kelompoknya sempat menghadapi banyak tantangan.

"Awalnya kami menghadapi berbagai persoalan, mulai dari pencarian bibit yang baik, mahalnya pakan, hingga minimnya pengetahuan operasional. Semua terjawab setelah kami menerima bimbingan dan pelatihan dari pihak PHR," kenangnya.

Pendampingan Tepat Guna Tingkatkan Omzet

Sejak tahun lalu, perusahaan energi ini hadir memberikan pendampingan teknis tanpa menyalurkan bantuan berupa uang tunai.

PHR menyuplai sarana fisik pendukung, seperti mesin pembuat pakan dan tiga unit mesin pompa air, demi menekan biaya operasional kelompok tani.

Penyuluh Perikanan Parit Aman, Jufrizal Yasin menyebutkan kelompoknya kini mampu berkreasi memproduksi pakan secara mandiri.

Apabila bahan baku olahan pabrik menipis, mereka memanfaatkan tumbuhan kiambang, sisa sayur mayur, hingga usus ayam sebagai pakan substitusi untuk ribuan ekor patin.

"Ada tiga titik lokasi kolam binaan di Parit Aman ini, yaitu di Jalan Wahab, Kampung Tengah, dan Pematang Ibung," rincinya.

Hasil kolaborasi ini berdampak langsung pada kantong perekonomian 106 anggota dari 10 kelompok tani binaan.

Mereka mampu menjual patin segar seharga Rp22.000 per kilogram, yang sanggup menyumbang total omzet kelompok hingga Rp80 juta setiap tahunnya.

Tidak hanya menjual hasil mentah, kaum ibu di desa tersebut turut mengolah patin menjadi aneka makanan ringan seperti keripik ikan berskala industri rumahan, yang bermuara di Rumah Oleh-oleh Bagansiapiapi.

Community Development Officer PHR, Rovdaian Baqrur Roji memaparkan bahwa pihaknya telah menyiapkan rancangan program lanjutan untuk tahun depan.

Pihaknya merencanakan pelatihan manajemen tingkat lanjut serta penyaluran bantuan alat tangkap demi memberdayakan kelompok nelayan pesisir.

"Lewat pembinaan berkesinambungan ini, kelompok usaha budidaya ikan patin ataupun pelaku UMKM Riau dapat terus meningkatkan keterampilan dan kapasitas produksi mereka ke depannya," pungkasnya di hadapan awak media. ***