PEKANBARU – Pemerintah Provinsi Riau menyambut hangat kehadiran autobiografi karya Brigadir Jenderal TNI (Purn) Edy Afrizal Natar Nasution, SIP. Karya literasi ini dinilai bukan sekadar rekam jejak personal seorang tokoh militer dan birokrat, melainkan wujud sumur inspirasi bagi generasi muda di Bumi Lancang Kuning untuk meneladani nilai-nilai kepemimpinan.

Apresiasi tersebut mengemuka dalam agenda peluncuran sekaligus bedah buku autobiografi yang dihelat di Rumah Makan Pondok Khas Melayu, Minggu (27/9/2026). Lembaran demi lembaran buku ini merekam berbagai fase kehidupan Edy Natar, mulai dari ketegasannya saat memegang komando di lingkungan militer, menakhodai roda pemerintahan, hingga kembali membaur dalam kehidupan masyarakat sipil.

Asisten II Sekretariat Daerah Provinsi Riau, Helmi D menilai pendokumentasian pengalaman seorang tokoh ke dalam bentuk tulisan merupakan langkah penting. Menurutnya, rekam jejak tersebut akan memperkaya khazanah literasi daerah dan memberikan gambaran nyata tentang proses panjang pembentukan karakter seorang pemimpin.

"Semoga autobiografi ini mampu memantik semangat literasi dan menjadi tuntunan bagi generasi muda Riau untuk menjadi pemimpin yang berkarakter, berintegritas dan bertakwa," harapnya.

Helmi menguraikan, perjalanan yang tertuang dalam buku ini membuktikan bahwa sebuah kepemimpinan tidak lahir secara instan. Karakter tersebut dibentuk melalui konsistensi, pengabdian tanpa henti, serta nilai-nilai moral yang terus dijaga dalam kehidupan sehari-hari.

"Melalui momentum bedah buku ini, kita tidak hanya melihat strategi kepemimpinan militer atau birokrasi, tetapi juga bagaimana nilai-nilai dakwah dan kehidupan dapat diintegrasikan dalam ruang publik," terangnya.

Sementara itu, Edy Natar Nasution mengungkapkan bahwa dorongan terbesarnya menulis autobiografi ini adalah agar rupa-rupa pengalaman berharga yang pernah ia lalui tidak menguap begitu saja ditelan waktu. Ia ingin buku tersebut menjadi jembatan pembelajaran yang bisa diwariskan.

"Harapan saya masyarakat luas bisa membaca lebih banyak lagi, sehingga ada hal-hal yang mungkin dapat menjadi referensi bagi anak muda kita semua," sebutnya.

Mantan perwira tinggi militer ini memandang perjalanan hidupnya sebagai rangkaian dinamika yang terus membentuk cara pandangnya terhadap sebuah tanggung jawab. Oleh sebab itu, ia merasa berkewajiban meninggalkan sebuah catatan yang bisa diteruskan dan dikaji oleh para penerus bangsa, khususnya di Riau.

"Saya ingin setidak-tidaknya buku ini menjadi legacy edukasi minimal untuk anak dan cucu saya, dan syukur-syukur bisa memberi pelajaran kepada anak-anak muda di tanah Melayu ini," pungkasnya. ***