PEKANBARU – Pekan Budaya Melayu Serumpun 2025 tak hanya menyajikan ragam seni dan budaya, tetapi juga menjadi ajang pesta rasa. Deretan tenant kuliner tradisional berjajar rapi di Jalan Sultan Syarif Qasim, menghadirkan cita rasa khas dari berbagai daerah di Riau, termasuk hidangan legendaris dari Kampar.

Stan kuliner Kampar yang dikelola Siompu Kampar menjadi salah satu yang paling ramai diserbu pengunjung. Menu andalan seperti palito daun, ondang maco, dan es tebak menjadi incaran utama. Di antara semua sajian, palito daun menjadi primadona karena keunikannya.

“Rasa manisnya khas sekali, ditambah aroma pandan yang meresap ke dalam,” ujar Ketua Siompu Kampar, Didis, Kamis (7/8/2025).

Selain palito daun, kuliner ondang maco yang berbahan dasar ikan teri dan dimasak seperti rendang juga menarik perhatian. Tidak ketinggalan, galopuong dan kalamai gegek turut disajikan sebagai jajanan tradisional yang sarat makna sejarah.

Momen spesial terjadi saat Gubernur Riau, Abdul Wahid, menyambangi stan kuliner Kampar. Ia terlihat mencicipi langsung kudapan khas Kampar, yang disambut dengan antusias oleh para pelaku UMKM.

“Alhamdulillah, Pak Gubernur mampir ke stan kami dan menikmati kuliner yang ada. Kami sangat bangga,” jelas Didis.

Didis juga menyebut satu hidangan spesial yang belum sempat ditampilkan, yakni jangkau durian. Kudapan ini merupakan warisan turun-temurun yang dibuat dari olahan durian secara tradisional.

Harga makanan yang dijajakan pun sangat ramah di kantong, berkisar antara Rp5.000 hingga Rp10.000. Didis berharap stan kuliner Kampar bisa menjadi tempat persinggahan favorit para pengunjung.

“Di sini banyak jajanan tradisional yang jarang ditemukan di tempat lain,” tuturnya.

Siompu Kampar bukan sekadar nama, melainkan wadah perempuan Kampar di Pekanbaru. Nama Siompu sendiri merupakan gelar tertinggi bagi perempuan dalam struktur adat Kampar.

“Makanya kami pilih nama itu. Kami ingin menunjukkan bahwa perempuan Kampar punya peran besar dalam pelestarian budaya dan kuliner,” jelas Didis.

Selain stan Kampar, puluhan tenant lainnya juga meramaikan acara ini. Gerai seperti Makan Beradap, Gerai Juadah Melayu, Mie Sagu Boedjang, Dapur Bunda Lin, Kopi Puan, Canai Ikhwan, hingga Luminary Ice Cream menawarkan beragam kuliner otentik khas Riau.

Kepala Dinas Pariwisata Riau, Roni Rahmat, menyampaikan bahwa kehadiran puluhan tenant ini bukan sekadar meramaikan acara, tapi bagian dari upaya memperkuat identitas budaya.

“Kuliner adalah bagian penting dari budaya dan menjadi daya tarik wisata yang efektif,” ujarnya.

Menurutnya, makanan tradisional tidak hanya bernilai ekonomi, tapi juga kaya akan filosofi, sejarah, dan nilai sosial. Ia berharap ajang ini menjadi momentum penting untuk memperkenalkan dan melestarikan kekayaan kuliner Riau.

“Kalau kita tidak lestarikan, lama-lama bisa hilang ditelan zaman. Justru inilah saatnya kita perkenalkan,” tegasnya.

Melalui kolaborasi pemerintah dan masyarakat, Pekan Budaya Melayu Serumpun berhasil menunjukkan potensi besar Riau dalam pengembangan ekonomi kreatif. Kuliner tradisional yang disajikan bukan sekadar sajian, tapi bagian dari warisan budaya yang harus dijaga untuk generasi mendatang. ***