PEKANBARU - Roda perekonomian Provinsi Riau menunjukkan pergerakan yang menggembirakan menjelang akhir tahun. Tingginya permintaan global terhadap komoditas andalan daerah sukses mencetak surplus perdagangan yang besar, berbarengan dengan sektor pariwisata yang kembali bergairah menyambut ribuan pelancong mancanegara. Di sisi lain, laju harga kebutuhan pokok dan jasa di tengah masyarakat tetap terkendali pada level yang moderat.

Kekuatan utama penopang ekonomi bumi Lancang Kuning ini bertumpu pada arus ekspor yang mengalir deras dari berbagai pelabuhan. Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, neraca perdagangan daerah ini membukukan surplus mencapai US$12,37 miliar. Angka ini didominasi oleh transaksi produk nonmigas yang menjadi tulang punggung andalan Riau di pasar internasional.

"Surplus perdagangan kita dipicu oleh kinerja sektor nonmigas yang menyumbang US$12,05 miliar, disusul sektor migas sebesar US$322,46 juta," papar Statistisi Ahli Madya BPS Riau, Fitri Hariyanti, Kamis (1/10/2026).

Secara keseluruhan, nilai barang yang dikirim ke luar negeri menyentuh US$14,62 miliar atau naik 2,33 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Tiongkok masih menjadi magnet utama yang menyerap produk nonmigas Riau hingga US$2,66 miliar, mengekor di belakangnya India dan Malaysia. Tingginya angka ekspor ini mampu menutupi laju impor yang tercatat sebesar US$2,24 miliar, meski terdapat lonjakan tajam pada pemasukan barang modal guna mendukung aktivitas industri lokal.

Geliat Sektor Pariwisata dan Perhotelan

Sejalan dengan laju perdagangan yang berdenyut kencang, lalu lintas manusia dari mancanegara menuju Riau juga memperlihatkan grafik yang mendaki. Catatan kedatangan di sejumlah pintu imigrasi merekam kehadiran 23.144 wisatawan asing selama Agustus 2026. Angka kunjungan ini bertambah 3,08 persen jika disandingkan dengan bulan sebelumnya.

Pelancong asal negeri jiran mendominasi arus kedatangan ini. Warga negara Malaysia mengambil porsi hampir separuh dari total kunjungan, disusul wisatawan asal Tiongkok, Filipina, dan India. Bandara Sultan Syarif Kasim II di Pekanbaru tetap menjadi gerbang udara tersibuk, melengkapi jalur laut seperti Pelabuhan Dumai dan Bengkalis.

Hadirnya ribuan turis ini memberikan napas segar bagi pelaku usaha jasa akomodasi. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di Riau menyentuh angka 49,99 persen, menandakan bahwa separuh kapasitas kamar di kawasan ini laku terjual setiap malam.

"Untuk Rata-rata Lama Menginap Tamu asing tercatat 2,39 malam, yang berarti para turis ini menghabiskan waktu sekitar dua hingga tiga hari di hotel berbintang kita," terang Fitri.

Dinamika Harga Kebutuhan Masyarakat

Di tengah perputaran uang dari perdagangan dan pariwisata internasional, masyarakat lokal menghadapi dinamika penyesuaian biaya hidup sehari-hari. Berdasarkan Indeks Harga Konsumen (IHK) terbaru, inflasi tahunan Riau pada September 2026 berada di level 2,79 persen.

Kabupaten Kampar merasakan hantaman laju kenaikan harga paling tajam hingga mencapai 3,21 persen. Sebaliknya, warga di Kota Dumai menikmati pergerakan harga yang lebih ramah dengan angka inflasi terendah yakni 2,35 persen. Kenaikan biaya hidup ini tidak hanya dipicu oleh urusan perut, melainkan merata pada hampir semua kelompok pengeluaran rutin rumah tangga.

Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi penyedot isi dompet terbesar dengan lonjakan indeks hingga 8,26 persen. Biaya transportasi juga menguras kantong masyarakat dengan kenaikan 4,74 persen, diikuti oleh kelompok kesehatan dan layanan makanan siap saji.

"Secara keseluruhan terjadi inflasi year on year karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya seluruh indeks kelompok pengeluaran masyarakat," rincinya mengakhiri. ***