PEKANBARU – Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Riau menindaklanjuti laporan perusakan Pos Satuan Tugas (Satgas) Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) yang terjadi di Dusun Kenayang Blok 10, Lubuk Kembang Bunga, Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan. Insiden yang berlangsung Jumat, 21 November 2025, tersebut sebelumnya viral dan menimbulkan keprihatinan luas.

Penyelidikan dimulai setelah personel Satgas TNTN melayangkan laporan resmi dengan nomor LP/B/488/XI/2025/Polda Riau bertanggal 25 November 2025. Direktur Reskrimum Polda Riau, Kombes Asep Darmawan, memastikan pemeriksaan terhadap saksi dan pihak terkait sedang berjalan.

"Laporan sudah diterima secara resmi dan penyidik sedang melakukan pemeriksaan saksi-saksi serta pendalaman terhadap seluruh pihak yang diduga terlibat. Tidak ada pembiaran. Semua proses berjalan sesuai ketentuan," jelasnya, Rabu (26/11).

Dari kronologi yang disampaikan, petugas Satgas tengah berjaga di Poskotis Kenayang berdasarkan Surat Perintah Tugas ketika sekelompok massa datang ke lokasi. Massa memberikan desakan agar pos dikosongkan dalam waktu satu jam. Karena petugas tetap bertahan menjalankan tugas negara, massa yang jumlahnya terus bertambah kemudian melakukan pembongkaran paksa.

Kerusakan tercatat cukup luas, mulai dari lima baliho, gerbang portal, plang akrilik, satu tenda pleton milik TNI AD, satu tenda biru, hingga dokumen serta 3.000 bibit tanaman yang dimusnahkan. Aksi massa juga berlanjut ke Pos 2 Kenayang, tempat gapura, portal, dan plang kembali dirusak. Sejumlah barang bukti bahkan diangkut menggunakan truk. Estimasi awal menyebut total kerugian mencapai Rp190 juta.

Kombes Asep menegaskan bahwa tindakan merusak fasilitas di kawasan konservasi merupakan pelanggaran serius. Ia menyebut penyidik akan menerapkan Pasal 170 KUHP juncto Pasal 406 KUHP terkait kekerasan bersama terhadap barang.

"Semua tindakan main hakim sendiri tidak dapat dibenarkan. Penegakan hukum dilakukan profesional, objektif, dan transparan. Setiap orang yang terlibat akan dimintai pertanggungjawaban," ungkapnya.

Saat ini, penyidik masih mendalami rekaman video yang beredar serta mempelajari pola pergerakan massa untuk mengetahui motif di balik penyerangan terhadap fasilitas Satgas TNTN tersebut. ***