TEPAT 10 November 2014 lalu, pemerintah baru saja mengumumkan nama-nama tokoh pejuang baru yang ditetapkan sebagai pahlawan nasional. Ia adalah Letjen Purn Djamin Gintings, pejuang melawan penjajahan Belanda di Tanah Karo, Sukarni Kartodiwirjo, pemimpin pemuda yang amankan Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok.

Kemudian KH Abdul Wahab Chadbullah, ulama moderat, pendiri surat kabar "Soeara Nahdlatul Oelama", pelopor gerakan kebebasan berpikir; dan terakhir Mayjen TKR Purn HR Mohamad Mangoendiprojo, pendiri Badan Keamanan Rakyat (BKR).

Empat nama ini melengkapi ratusan deret nama tokoh pejuang nasional lainnya yang sudah duluan ditetapkan sebagai pahlawan, termasuk didalamnya dua tokoh pejuang besar dari Riau: Tuanku Tambusai dan Sultan Syarif Kasim II.

Nama lain asal Riau, yang kini tengah diperjuangkan adalah Sultan Zainal Abidin. Ia adalah sosok keturunan dari Kerajaan Tambusai, Rokan Hulu, yang dinilai berjasa semasa perang menentang kolonial Belanda.

Sultan Zainal Abidin lahir dan dibesarkan di Kampung Binuang Sakti, yang kini sudah menjadi Desa Rantau Binuang Sakti, Kecamatan Kepenuhan, Rokan Hulu. Ia wafat pada 5 September 1916 silam di Kediri, Jawa Timur dan dimakamkan di sana. Semoga segera ditetapkan sebagai pahlawan nasional, amin.

Terkait sosok Tuanku Tambusai, secara pribadi cukup familiar dalam kehidupan saya dan juga mungkin masyarakat Rokan Hulu secara keseluruhan, karena memang berasal dari Rokan Hulu, tepatnya di Dalu-dalu, Tambusai, Rokan Hulu.

Saya sendiri juga menghabiskan masa bersekolah di Dalu-dalu, mulai dari TK sampai menamatkan jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA). Jadi ikut bangga juga punya tokoh besar yang memang berasal dari Dalu-dalu.

Tuanku Tambusai adalah seorang tokoh Paderi terkemuka. Ia lahir di Tambusai, Rokan Hulu, 5 November 1784 silam dan meninggal di Negeri Sembilan, Malaysia, 12 November 1882, saat umurnya menginjak 98 tahun.

Dulunya, Dalu-dalu adalah salah satu desa pedagang Minangkabau yang didirikan di tepi sungai Sosah, anak Sungai Rokan. Dan Tuanku Tambusai memiliki nama kecil Muhammad Saleh. Ayahnya, Tuanku Imam Maulana Kali berasal dari nagari Rambah dan merupakan seorang guru agama Islam. Oleh Raja Tambusai, ayahnya diangkat menjadi imam dan kemudian menikah dengan perempuan setempat yang berasal dari nagari Tambusai bersuku Kandang Kopuh.

Terus apa yang menjadi bukti perjuangan besar dari sosok bergelar Harimau Paderi dari Rokan ini. Di antaranya keberadaan Benteng Aur Berduri, atau disebut juga Bambu Berduri. Sebutan ini adalah nama lain Benteng Tujuh Lapis. Benteng ini memang persis terletak di Dalu-dalu.

Dulunya, lewat benteng ini pula pasukan Tuanku Tambusai menghadapi serangan Belanda. Menariknya, situs itu sampai sekarang masih ada, walaupun kurang terawat dengan baik.

Bertolak dari itu, sepertinya kita semua butuh langkah besar untuk mendorong merevitalisasi keberadaan situs seperti ini sebagai bukti sejarah untuk mengenang jasa Tuanku Tambusai, mulai dari fasilitas pendukung di dalam areal dan sekitar situs, akses transportasi, sampai fasilitas pendukung lainnya.

Semua stakeholder memang harus duduk bersama menyatukan visi untuk memikirkan ini. Tapi terlepas dari itu, secara pribadi kapasitas saya sebagai anggota legislatif, juga akan melakukan dorongan-dorongan untuk mewujudkan pengembangan atas situs sejarah ini, bersama rekan- rekan yang lain, yang punya kewenangan anggaran.

Situs ini saya anggap penting, sebagai bukti perjuangan seorang Tuanku Tambusai yang kita banggakan bersama. Kalau kita bercerita mana bukti sejarah seorang Tuanku Tambusai, maka Benteng Tujuh Lapis inilah salah satu jawabannya. Untuk itu, keberadaan Benteng Tujuh Lapis harus mendapat perhatian serius, karena punya nilai sejarah besar buat bangsa ini.

Artinya keberadaan Benteng Tujuh Lapis harus menggambarkan kebesaran sosok seorang Tuanku Tambusai. Upaya revitalisasi juga harus dilakukan terhadap situs-situs Tuanku Tambusai lainnya yang tersebar di Rokan Hulu.

Perlakuan yang sama juga akan kita beritkan terhadap situs-situs sejarah pejuang Rokan Hulu lainnya, karena kita juga punya sosok pahlawan lain bernama Sultan Zainal Abidin, dan hingga kini masih menunggu pengakuan dari pemerintah.

Jadi situs-situs bernilai tinggi ini, memang harus mendapat perhatian serius. Selain memang sebagai bukti sejarah dan bentuk penghargaan, kedepan tempat-tempat seperti ini bisa menjadi objek wisata. Jika kemudian dikelola dengan baik, maka tak ada yang tak mungkin, tempat ini akan menjadi tujuan wisata dunia.

Untuk itu, butuh pekerjaan besar mewujudkannya. Keterlibatan banyak pihak juga sangat dibutuhkan, termasuk pihak swasta. Tapi yang perlu dipahami, jika ada kemauan, tidak ada yang tak bisa dan tak ada yang tak mungkin. Bersama kita bisa, amin. (*)

* Nasrul Hadi ST MT adalah Ketua DPRD Rokan Hulu