
TANGGAL 24 November 2014 baru saja berlalu. Setiap tanggal itu, yang jatuh pada bulan November, maka diperingati sebagai HARI GURU. Maka lewat tulisan sederhana ini, saya sedikit ingin menulis soal GURU.
Tapi saya sempat bingung mau memulainya dari mana, karena bercerita tentang guru dengan berbagai dinamikanya, tak akan pernah bertemu ujung. Banyak cerita dan jasa mereka yang tak akan mampu kita balas dan sulit untuk diungkapkan lewat untaian kata-kata.
Tulisan ini juga terlambat saya gores. Mestinya sudah muncul sebelum tanggal 24 November lalu. Tapi karena berbagai kesibukan sana sini, baru sekarang bisa saya gores dengan kupasan sederhana.
Saya dan mungkin kita semua, punya kesan mendalam tentang sosok yang dikenal sebagai 'Pahlawan Tanpa Tanda Jasa" ini. Selain orangtua, maka dialah yang berperan besar membentuk watak dan mengisinya dengan ilmu-ilmu.
Saya tahu betul bagaimana sosok ini berjuang tanpa lelah. Kalau di kampung-kampung pedalaman, ia rela berjalan kaki atau bersepeda berkilo-kilo meter untuk bisa menjangkau tempat mengajar, sementara penghasilannya dapat dipastikan jauh dari cukup.
Maka tidak sedikit pula di antara mereka, sepulang mengajar, berlanjut mengais rezeki dengan pekerjaan lain. Ada yang berkebun, bersawah, berdagang dan lain-lain. Ini mereka lakukan dengan ikhlas, agar asap dapur tetap juga bisa mengepul dan anak-anaknya tetap pula bisa bersekolah.
Ini bukti bahwa menjadi guru tidak mudah, terutama di kampung-kampung pelosok. Orangtua saya dulu juga seorang guru di Dalu-dalu (Rokan Hulu). Saya paham betul apa yang dilakukannya sepulang dari mengajar agar perekonomian kami tetap berimbang. Ya, begitulah potret guru kebanyakan di negeri ini yang butuh perhtian kita semua.
Saya sependapat dengan pernyataan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Anies Baswedan yang menyatakan bahwa menjadi guru itu memang berat, tapi sebuah penghormatan. Karena guru merupakan tempat awal pembentukan karakter seseorang selain orangtua yang berada di rumah. Dan semua kita berharap seluruh bangsa menghormati dan memuliakannya.
Berkat jasa guru, kita dapat berdiri di posisi dan profesi kita masing-masing. Guru pula yang membuat kita semua berada di posisi sekarang. Kita-kita yang kini mengerjakan begitu banyak profesi, juga karena guru.
Pak Menteri Anies Baswedan juga menyebutkan kita sebagai bangsa harus memiliki tanggung jawab moral, tidak hanya menghormati, tapi juga melakukan sesuatu untuk guru, terutama memikirkan kesejahteraan mereka, hingga akhirnya ia bisa fokus menjalankan profesi guru.
Ya, seyogyanya memang harus demikian. Saya yang kini diamanahkan sebagai wakil rakyat di DPRD Rokan Hulu, bersama teman-teman lainnya, juga akan melakukan berbagai kebijakan strategis untuk memajukan pendidikan Rokan Hulu, yang didalamnya juga memberi perhatian serius kepada guru-guru yang terlibat, karena jantung dari pendidikan itu, termasuk guru di dalamnya.
Guru yang berkualitas, siap melahirkan generasi bangsa yang berkualitas. Saya bisa seperti sekarang, juga tak lepas dari peran mereka para guru, baik guru formal di bangku sekolah, maupun guru-guru informal yang menjadi panutan saya di tengah-tengah masyarakat.
Terima kasih guru, karena jasa-jasamu tak akan pernah mampu kami balas. Semoga apa yang sudah dilakukan, mendapat ridho Allah SWT, amin. ***
Nasrul Hadi ST MT adalah Ketua DPRD Rokan Hulu, Riau.