HARI AIDS se-Dunia ikut diperingati di sejumlah daerah di Indonesia, 7 Desember 2014 lalu, termasuk juga di Rokan Hulu. Berbagai kegiatan sosial dilakukan dengan semarak yang sarat dengan pesan-pesan moral.

Terkait dengan itu, Dinas Kesehatan Kabupaten Rokan Hulu (Rohul) juga baru saja melakukan pendataan terhadap penderita penyakit HIV/AIDS di negeri seribu suluk. Hasilnya ditemukan sekitar 44 orang warga telah positf terjangkit virus mematikan ini.

Jelas ini bukan angka yang sedikit dan semua kita harus waspada. Artinya penyebaran virus HIV AIDS kini sudah semakin dekat dengan lingkungan kita semua dan semua kita menjadi berpotensi untuk tertular, karena proses penyebarannya tak hanya lewat seks, tapi bisa lewat cara lain, seperti jarum suntik.

Bahkan ibu-ibu rumah tangga yang tak tau apa-apa, bisa tiba-tiba sudah terjangkit virus berbahaya tersebut. Terbukti penderita terbesar memang dari kalangan perempuan, termasuk di dalamnya para ibu-ibu rumah tangga yang tak tau apa-apa.

Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) mencatat kasus kumulatif AIDS di kalangan perempuan di Indonesia hingga tahun 2010 lalu sudah menunjukkan rekor tertinggi yang dipegang oleh ibu rumah tangga yakni 1.970 kasus.

Termasuk juga kalangan ibu-ibu rumah tangga di Provinsi Riau, yang sudah menduduki peringkat tiga nasional. Ini memang menjadi masalah kita semua yang harus mendapat perhatian serius kita semua. Jangan sampai generasi muda kita menjadi korbannya.

Menurut catatan yang saya ketahui, total penderita hingga Maret 2014 kemarin di Indonesia sudah tercatat lebih dari 100 ribu kasus HIV dan lebih dari 40 ribu telah berada pada tahap AIDS. Sejak HIV ditemukan di Dumai pada tahun 1992, juga terjadi peningkatkan yang signifikan kasus HIV dan AIDS di Riau, mungkin juga termasuk di Rokan Hulu, karena dari tahun ketahun, dimana-mana tren penderitanya terus bertambah.

Tapi walau demikian, mereka yang terinfeksi di Rokan Hulu, belum bisa dipastikan apakah mereka asli orang Rokan Hulu atau orang-orang pendatang. Terlepas dari itu, mereka bisa menjadi bibit dan bisa menyebar ke masyarakat lainnya, karena proses penyebarannya bisa saja dengan cara lain.

Sebagaimana diketahui bersama, penyakit mematikan ini umumnya ditularkan melalui percampuran aliran darah dan cairan tubuh lain antara penderita penyakit HIV/AIDS dengan non penderita.

Kemudian juga disebabkan oleh prilaku seks bebas dan narkoba. Lewat cara ini sangat dapat menjadi pemicu utama penyakit HIV AIDS, khususnya pada penggunaan jarum suntik yang tidak steril.

Untuk pencegahannya secara medis, kita akan mendorong penguatan fungsi peranan pemerintah di Rokan Hulu lewat Klinik Visiti yang sudah ada  di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pasir Pengaraian.

Keberadaan Klinik Visiti ini  penyebarluasan virus HIV/AIDS  di wilayah Rohul kita harapkan dapat di minimalisir. Terlepas dari itu, pondasi yang paling ampuh dan kuat adalah prilaku setiap individu dari kita semua untuk  menghindari gaya hidup hedonis dan dapat lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT, agar terhindar dari prilaku-prilaku negatif yang menjerumuskan.

Virus HIV AIDS ini adalah menyerang kita lewat  sistem kekebalan (imunitas) tubuh, sehingga mengakibatkan  tubuh menjadi lemah dalam melawan infeksi.  

Tanpa pengobatan, seorang dengan HIV bisa bertahan hidup selama 9-11 tahun setelah terinfeksi. Kehadiran virus ini dalam tubuh akan menyebabkan kekurangan sistem imun. HIV bekerja dengan membunuh sel-sel penting yang dibutuhkan oleh manusia, salah satunya adalah Sel T pembantu, Makrofaga, Sel dendritik dan Ini menyebabkan penurunan pada angka CD4 Sel T.

Secara nasional, penderita di Riau kini berada di urutan ke-11, dari 33 provinsi. Artinya cukup tinggi juga penderita HIV AIDS di Riau. Berkaca dari data tersebut, menjadi tugas kita bersama bagaimana mencari jalan keluar agar penderitanya tidak lagi bertambah, bahkan harus terus berkurang dan sampai kelak berada pada titik zero.

Pemerintah sesuai dengan fungsinya memang sudah melakukan sejumlah kebijakan strategis untuk mengurangi kelompok-kelompok masyarakat yang berpotensi besar terjangkit, seperti adanya penutupan lokalisasi di Pekanbaru dan pemberantasan peredaran narkoba. Saya pikir ini sudah bagian langkah pemerintah untuk mengurangi ruang-ruang gerak penyebaran virus HIV AIDS.

Tapi tak cukup dengan itu, pemerintah tetap membutuhkan peran kita semua dan dimulai dari kita masing-masing untuk tidak melakukan prilaku menyimpang di tengah masyarakat, di antaranya lewat penguatan iman. Jika sikap ini sudah ada pada diri kita masing-masing, Insha Allah ruang gerak peredarannya akan semakin sempit, hingga akhirnya benar-benar tak ada lagi tempatnya untuk mereka bergerak di Riau dan Rokan Hulu khusunya, amin. ***

Nasrul Hadi ST MT adalah Ketua DPRD Rokan Hulu