PEKANBARU – Tren penjual kopi keliling semakin mendominasi ruas jalan di Pekanbaru dalam beberapa tahun terakhir. Gerobak, sepeda, hingga motor yang dimodifikasi lengkap dengan espresso maker dan grinder menjadi pemandangan baru di berbagai titik keramaian kota. Kehadirannya menawarkan pengalaman menikmati kopi dengan cara yang lebih praktis, terjangkau, dan dekat dengan aktivitas masyarakat.

Dari Jalan Sudirman, Nangka, Soebrantas, Arifin Ahmad, Tuanku Tambusai hingga Naga Sakti, deretan gerobak kopi tampak saling berjejer hanya berjarak puluhan meter. Masing-masing membawa ciri khas, menyajikan kopi dingin siap saji yang aromanya kerap menyatu dengan hiruk pikuk lalu lintas.

Salah satu gerobak yang cukup dikenal adalah Kopiers, beroperasi di beberapa titik, termasuk Jalan Tuanku Tambusai Ujung, dekat Universitas Muhammadiyah Riau. Gerobak ini tampak rapi dengan pendingin kecil dan tampilan visual yang sederhana namun menarik.

Setiap hari sejak pukul sembilan pagi hingga enam sore, Arif, penjual kopi dari Kopiers, melayani pelanggan dengan ramah. Ia mengaku penjualan hariannya cukup tinggi.

“Saya biasanya habis 150–250 cup per hari, kadang lebih kalau ramai. Beberapa hari terakhir karena hujan terus paling tidak 150 cup. Yang paling laris tetap kopi gula aren dan americano, tapi varian butterscotch, Milo, dan matcha juga banyak peminatnya,” kata Arif, Selasa (9/12/2025) sore.

Enam bulan menjalani profesi ini, Arif menyebut sistem kerja di Kopiers cukup menguntungkan. Ia mendapatkan gaji tetap serta insentif jika target penjualan terlampaui.
“Alhamdulillah hampir setiap bulan saya dapat insentif. Bersyukur bisa kerja dan dapat bonus kalau melewati target,” ujarnya.

Ia menambahkan, interaksi hangat dengan pelanggan menjadi alasan mengapa ia nyaman bekerja sebagai penjual kopi keliling.
“Sejak jualan kopi, kebutuhan cukup terpenuhi. Bersyukur dapat tempat yang strategis, pelanggan ramai terus,” ungkapnya.

Salah satu pelanggan setia Arif adalah Dhea Ananda, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Riau. Hampir setiap hari ia membeli kopi sebagai penyemangat sebelum kuliah.
“Saya anaknya ngopi banget. Rasanya pas, nggak kemanisan dan tetap strong. Kadang saya ajak teman juga karena harganya terjangkau,” ujarnya.

Dhea mengatakan ia sudah mencoba berbagai kopi keliling lainnya, namun Kopiers menurutnya memiliki rasa lebih konsisten.
“Awalnya coba-coba, ternyata cocok. Pelayanannya cepat dan ramah, jadi nggak buang waktu,” terangnya.

Selain rasa, harga turut menjadi alasan banyaknya pelanggan.
“Dengan Rp10.000 sampai Rp12.000 sudah dapat kopi yang kualitasnya hampir sama seperti di kafe,” jelas Dhea.

Fenomena serupa juga terlihat di Jalan Naga Sakti, tempat gerobak kopi Tepi Jalan cukup diminati. Khalil, sang penjual yang menggunakan sepeda listrik modifikasi, mengaku mampu menjual hingga 100 cup saat ramai.
“Paling laku kopi susu gula aren dan butterscotch. Banyak juga yang pesan rasa strong atau minuman non-kopi seperti cokelat dan matcha,” kata Khalil.

Ia menyebut pekerjaan ini memberinya fleksibilitas waktu dan tambahan penghasilan.
“Saya ingin bantu perekonomian keluarga. Setidaknya kebutuhan saya sendiri sudah tercukupi, apalagi kalau dapat bonus mingguan,” jelasnya.

Menjamurnya usaha kopi keliling seperti Kopiers, Tepi Jalan, hingga Kopi Ajoe menunjukkan bahwa tren ini bukan sekadar gaya hidup baru, tetapi juga peluang ekonomi bagi masyarakat. Usaha ini berkembang pesat karena sesuai dengan kebutuhan mobilitas masyarakat perkotaan yang ingin menikmati kopi dengan harga terjangkau tanpa meninggalkan kualitas. ***