
LAYAR ponsel menjadi satu-satunya pengobat rindu bagi Rival Amri dan Indah Lorayana selama beberapa pekan terakhir. Melalui kiriman foto di sebuah grup perpesanan, pasangan suami istri ini memantau setiap aktivitas putri mereka yang tengah dikarantina. Sesekali, mereka tersenyum melihat sang anak menyantap makanan, meminum vitamin, hingga berlatih baris-berbaris di bawah terik matahari.
Rasa rindu itu berpadu dengan kebanggaan yang tak ternilai. Putri mereka, Raisa Dinda Agnia, siswi SMAN 2 Pekanbaru, terpilih menjadi salah satu anggota Pasukan Pengibaran Bendera Pusaka (Paskibraka) Tingkat Provinsi Riau. Raisa dijadwalkan bertugas mengibarkan bendera pusaka pada peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia di Halaman Kantor Gubernur Riau, Senin (17/8/2026).
Berawal dari Lapangan Basket
Ketangguhan fisik Raisa untuk bertahan dalam kerasnya pelatihan Paskibraka bukanlah sesuatu yang didapat secara instan. Jauh sebelum mengenakan seragam putih-putih khas pasukan pengibar bendera, arena bermainnya adalah lapangan basket. Olahraga yang ia tekuni sejak duduk di bangku SMP tersebut ternyata menjadi modal utama dalam membangun stamina dan daya tahan tubuhnya.
"Fisik kuat dia saya rasa karena dari SMP dia sudah aktif main basket. Makanya, Raisa itu mau latihan kapan pun pasti selalu siap dia," urai Rival, Minggu (16/8/2026).
Minat Raisa pada dunia baris-berbaris baru muncul saat ia melangkah ke jenjang menengah atas. Begitu menginjakkan kaki di SMAN 2 Pekanbaru, remaja ini langsung memilih ekstrakurikuler Paskibra murni atas kemauannya sendiri, tanpa paksaan dari siapa pun.
Menjawab Keraguan Keluarga
Sebagai seorang pedagang, Rival mengaku tidak pernah membayangkan putrinya akan menembus panggung provinsi. Pada awalnya, ia bahkan sempat menasihati Raisa agar tidak terlalu memaksakan diri mengikuti berbagai kegiatan tambahan, dan memintanya lebih mengutamakan pelajaran di sekolah.
"Awalnya kami orang tua sempat mengingatkan bahwa untuk fokus sekolah seperti biasa saja, tetapi dia tetap mantap mau menjalani Paskibra. Maklumlah, saya inikan pedagang, gak pernah terbayang dia bakal sampai ke tingkat provinsi," kenangnya.
Namun, seiring berjalannya waktu, Raisa konsisten membuktikan kemampuannya membagi waktu. Pembinaan rutin setiap minggu di sekolah, ditambah dukungan dari para seniornya, perlahan membentuk karakter, kemandirian, dan kedisiplinan yang tinggi dalam dirinya.
Kekhawatiran orang tua akan terganggunya akademik perlahan sirna. Latihan fisik yang menguras tenaga sukses dijalani Raisa tanpa mengorbankan kewajibannya sebagai seorang pelajar.
"Sempat kami tanya Raisa capek gak? Dia selalu memastikan kami kalau dia sanggup dan bisa. Alhamdulillah, sudah jalannya ternyata sampai di saat ini," jelasnya.
Obat Rindu via Grup WhatsApp
Kini, Raisa harus berpisah sementara dari keluarganya demi menjalani pemusatan pendidikan dan pelatihan. Demi menjaga fokus para peserta, komunikasi melalui telepon pun dibatasi. Beruntung, pihak Kesbangpol Riau dan para pembina memiliki cara tersendiri untuk menenangkan hati para orang tua.
"Pihak Kesbangpol dan pembina sangat baik pelayanannya. Mereka membuat grup WhatsApp untuk orang tua dan rutin membagikan foto serta pembaruan kegiatan anak-anak, seperti ada makan bersama, latihan, hingga pemberian vitamin malam hari. Jadi, obat rindu kami ya dari foto-foto yang dikirimkan itu," sebut Rival.
Di balik setiap lembar foto dan rasa rindu tersebut, tersemat doa panjang untuk kesuksesan sang putri. Rival berharap pengalaman berharga ini mampu membentuk karakter Raisa dalam meraih impian masa depannya, termasuk cita-citanya menjadi seorang dokter gigi.
"Yang jelas, kami selalu mendoakan dia. Semoga juga pengibaran bendera di Kantor Gubernur Riau besok dapat berjalan lancar dan tanpa ada hambatan apapun," pungkasnya. ***