
PEKANBARU - Ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) terus membayangi Pulau Sumatera. Kondisi kemarau panjang memicu lonjakan titik panas secara masif di sejumlah provinsi, menciptakan risiko kabut asap pekat yang mengintai kesehatan pernapasan masyarakat.
Berdasarkan pembaruan data sistem pemantauan satelit terbaru pada pukul 23.00 WIB, deteksi panas bumi di Sumatera menyentuh angka 914 titik. Jumlah yang sangat tinggi ini menjadi sinyal bahaya bagi kualitas udara dan ekosistem lingkungan di hamparan wilayah Sumatera.
Angka sebaran titik panas tertinggi berpusat di wilayah selatan pulau. Ribuan hektare lahan di sana kini berada dalam pengawasan ketat akibat masifnya kemunculan hotspot. Berikut rincian tiga provinsi dengan penyumbang titik panas terbesar di Sumatera:
Berbanding terbalik dengan provinsi tetangga yang mulai dikepung ratusan titik panas, kondisi udara di Provinsi Riau terpantau jauh lebih kondusif. Dari ratusan titik yang terdeteksi satelit di sekujur Pulau Sumatera, Riau mencatatkan anomali positif dengan berhasil menekan angka karhutla secara drastis.
Hanya tersisa satu titik panas yang terdeteksi di seluruh daratan Riau, yakni berada di kawasan Kabupaten Indragiri Hilir. Keberhasilan menekan kemunculan titik api ini membuat langit Riau relatif aman dari paparan kabut asap tebal, meski Satgas Karhutla dan patroli lahan gambut dipastikan terus disiagakan untuk mengunci angka tersebut. ***