MANADO, GORIAU.COM - Ronny Djasri (40), pilot pesawat Elang Nusantara Air dengan nomor regitrasi PK-ELR, tipe pesawat THRUSH-510P yang jatuh di pesisir Pantai Kema, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, Selasa (2/12/2014), ternyata Warga Pekanbaru, Riau. Ronny Djasri beralamat di Jalan Embun RT 02 RW 04 Kecamatan Rumbai Pesisir, Pekanbaru.
Sedangkan mekaniknya, Pian Sopiah Hadiansah, beralamat di Rancasawo Nomor 13C RT 003 RW 018 Bandung, Jawa Barat. "Sampai saat ini belum ditemukan," kata Harry Cahyono District Manager Air Nav Indo-Samratulangi, Selasa.
Pangkalan Militer Angkatan Laut (Lantamal) VIII Manado melalui Kadispen Mayor Laut Budiyanto mengungkapkan detik-detik kecelakaan pesawat tersebut.Menurutnya, berdasar keterangan dari saksi mata penduduk setempat, pesawat begitu jatuh kemudian meledak.
Sementara Kepala Informasi Badan Meteorologi Klimotologi dan Geofisika (BMKG) Sulawesi Utara (Sulut) Riyadi mengungkapkan di Atas Wilayah Kema terdapat banyak awan hujan dengan ketinggian rendah antara 400 Meter- 1 Kilometer. "Sedangkan kecepatan angin sekitar 18 kilometer per jam yang bertiup dari barat ke selatan," ungkapnya, Selasa.
Penyebab jatuhnya pesawat Elang Nusantara Air dengan nomor regitrasi PK-ELR, tipe pesawat THRUSH-510P, diduga akibat banyaknya awan berkumpul.Sebab pesawat kecil biasanya terbang rendah, kemudian masuk di intas dan awan hujan, sehingga jarak pandang terbatas. Untuk pesawat berbadan besar biasanya minta rekomendasi cuaca kepada BMKG, namun kalau pesawat kecil tidak.
Sedangkan Prakiraan BMKG Stasiun Samrat Farid Mufti mengungkapkan dengan posisi matahari berada sekitar 18,28 Lintang Selatan menyebabkan wilayah belahan bumi selatan menerima intensitas penyinaran matahari yang lebih kuat.Dengan begitu suhu udara menjadi lebih tinggi dan tekanan udaranya lebih rendah bila dibandingkan dengan wilayah di belahan bumi utara
Dengan kondisi tersebut serta adanya Badai Tropis Hagupit di Samudera Pasifik sebelah Timur Laut Papua menyebabkan pergerakan angin di atas wilayah Sulut bertiup dari arah barat hingga utara dengan kecepatan 10-20 kilometer perjam.Pada umumnya hujan berintesitas ringan hingga sedang dari pagi, siang sampai malam hari.
Tim SAR dari TNI AL yakni KRI Tedong Naga-819 & Katamaran Kamla-1206 bersama penyelam marinir dari Yonmarhanlan VIII Bitung & Tim Kesehatan serta ambulans RSAL dr Wahyu Slamet Bitung, Lanud SRI Manado & SAR Bitung dibantu masyarakat setempat berusaha mengevakuasi korban kecelakaan pesawat.
Potongan Organ Tubuh
Tim SAR gabungan TNI, Polri, Basarnas dan warga setempat menemukan puing-puing pesawat dan serpihan tubuh korban.Menurut Kadispen Lantamal VIII Mayor Laut Budiyanto ditemukan di area kecelakaan serpihan tubuh manusia seperti usus dan hati.Selain itu ditemukan pula puing-puing pesawat antara lain, dua buah roda, tas, satu buah sayap pesawat, satu buah life jaket, tas, laptop, paspor atas nama Pan Sopyan (Tian) dan Roni Jasril (Captain Pilot).
Lokasi kecelakaan tepatnya sekitar 3 mil antara Pulau Lembeh dan Pesisir Pantai Kema, yakni di Desa Aaparagus Kecamatan Kema Kabupaten Minahasa Utara.***


