PEKANBARU - Kiasan 'Ular Makan Linggis' mungkin terdengar ganjil bagi sebagian orang. Namun, di balik istilah unik ini, tersimpan rekam jejak ketegasan Brigadir Jenderal TNI (Purn) Edy Afrizal Natar Nasution, SIP dalam mengawal prinsip hidupnya, mulai dari medan militer hingga panggung sipil.

Kisah pengabdian tersebut dikupas tuntas saat peluncuran sekaligus bedah autobiografi miliknya di Rumah Makan Pondok Khas Melayu, Pekanbaru, Minggu (27/9/2026). Buku ini merangkum narasi perjalanan panjang sang jenderal purnawirawan, merekam fase hidupnya sejak berseragam hijau, mengabdi di birokrasi pemerintahan, hingga berbaur kembali bersama masyarakat sipil.

Semasa berdinas aktif di lingkungan TNI, sosok Edy dikenal tanpa kompromi, sampai-sampai juniornya menyematkan julukan 'Ular Makan Linggis'. Alih-alih tersinggung, ia justru merengkuh sebutan itu sebagai pengingat akan keteguhan sikapnya saat berhadapan dengan aturan yang pantang ditawar.

"Ular kalau berjalan bisa berbelok-belok, tetapi kalau diberi makan linggis yang ada di dalam perutnya, dia tidak bisa lagi berbelok dan berjalan lurus. Itulah makna 'Ular Makan Linggis' bagi saya," urainya merinci analogi tersebut.

Mantan perwira tinggi militer ini memaparkan bahwa filosofi berjalan lurus itu terus terpatri dalam batinnya. Saat beralih haluan menapaki dunia pemerintahan dan ranah politik, prinsip yang sama tetap ia jadikan jangkar penahan segala bentuk godaan demi menjaga integritas pribadi.

Berdiri di atas tanah Riau, Edy turut menarik garis lurus antara keteguhan prinsip dan upaya merawat nilai-nilai kebudayaan lokal. Menurutnya, muruah kebudayaan Melayu semestinya dijaga dengan kehormatan tingkah laku, bukan semata-mata dikuantifikasi lewat lembaran harta kekayaan.

"Saya ingin menjaga marwah Melayu, dan bagi saya marwah itu tidak bisa diukur dengan rupiah karena tanah Melayu harus dijaga oleh kita sendiri dengan prinsip dan integritas," pungkasnya. ***