
MUHAMMAD, saat dilahirkan bukan lah siapa-siapa di kalangan suku-suku di Arab saat itu. Ayah beliau hanyalah seorang papa yang meninggal ketika masih dalam kandungan. Ibu beliau pun keadaannya nyaris sama, yang meninggal saat Muhammad menginjak usia enam tahun. Dalam hal karakter beliau layaknya kita banyak dipengaruhi lingkungan sekitar. Namun memberi perspektif berbeda terhadap dalam bersikap.
Lahir dan tumbuh dalam keadaan miskin dan dikelilingi kondisi yang berasosiasi dengan itu, membuat Muhammad tumbuh dengan perasaan yang sangat peka tentang statusnya sebagai anak yatim piatu di tengah masyarakat saat itu sama sekali tak dianggap. Masa kecil inilah yang menanamkan dalam diri beliau kepedulian seumur hidup terhadap para yatim, piatu, dhuafa dan janda.
Terkait sejarah kelahiran dan masa kecil beliau bisa dibilang banyak perbedaan pendapat di kalangan sejarawan Islam. Terutama ketika membicarakan kapan waktu beliau dilahirkan. Menurut salah seorang sejarawan, Tamim Ansary pada bukunya Dari Puncak Baghdad: Sejarah Dunia Versi Islam, momen kelahiran beliau tak banyak menarik perhatian saat itu. Meskipun Muhammad merupakan anggota Quraisy, suku yang punya kedudukan paling kuat di Makkah, namun beliau tak memiliki status di sana. Karena beliau tergolong salah satu klan suku yang miskin, yakni Bani (marga atau keluarga) Hasyim.
Inspirasi
Meski begitu, kehidupan Rasulullah SAW tak pernah sepi penuturan kembali dan multi perspektif, baik sebagai cerita dan inspirasi. Kerinduan tentang sosok manusia (terlebih kepemimpinan) ideal yang secara eksplisit ada dalam diri beliau, plus kebimbangan tentang apa yang didapati saat sekarang, membuat perjalanan hidup beliau bak api abadi yang menerangi. Begitu pula halnya tulisan ini, yang secara subjektif berupaya menyegarkan poin sejarah yang patut diambil ibroh, khususnya bagi kami.
Pertama, kebenaran adalah fitrah. Pesan dalam ajaran menyeru Tuhan yang satu. Apa yang beliau sampaikan ini pada dasarnya tak ada keraguan. Karena ini merupakan bagian yang selalu diulang-ulang dalam sejarah manusia dengan kehadiran utusan dan nabi-nabi. Jauh sebelum Rasulullah ada.
Namun mengapa kemudian terjadi penolakan oleh kaum beliau sendiri yang secara terang benderang telah melabeli beliau dengan gelar Al Amin? bahkan Rasulullah pun kemudian mengujinya dengan berkata: “Jika aku mengatakan ... apakah kalian akan percaya”, para pembesar suku pun tanpa ragu menjawab: “percaya”.
Sebenarnya bukan inti ajaran Islam yang ditakuti, namun konsekuensi ketika membenarkannya. Sebuah ancaman terbesar di kalangan pembesar suku saat itu untuk mempercayai (yang secara otomatis memeluk keyakinan) kebenaran Islam. Salah satu yang cukup mengemuka adalah ketergantungan mereka (secara bisnis), yang mana telah menikmati banyak uang dari pariwisata religius di Makkah saat itu.
Jika ide tentang satu Tuhan ini menyebar, maka praktis para penyembah berhala (Makkah saat itu merupakan kiblat dimana hampir semua kepercayaan pagan bersemayam di sana) akan berhenti datang ke Makkah. Dan ini tentu tak baik bagi bisnis. Selain bisnis religi, keuntungan lain juga datang dari pengelolaan tempat mabuk-mabukan, prostitusi, perjudian dan atraksi lainnya. Dalam konteks ini, selalu relevan bahwa penentangan terhadap kebenaran bukan berasal dari nafsu bukan hati.
Kedua, kebaikan bersama jauh lebih baik. Jika kita membaca perjalanan sejarah kehidupan beliau, dalam merekonstruksi pandangan masyarakat saat itu terhadap status yang pernah dirasakan semasa kecil (juga dalam menyampaikan kebaikan ajaran Islam) diartikulasikan tak hanya lingkup pribadi. Akan tetapi beliau juga menginstitusionalisasikannya. Tujuannya agar wahyu Illahi ini dapat diimplementasikan secara luas dan kolektif, konkrit serta berkelanjutan.
Jadi, masuk ke dalam Islam bukan sekedar menisbahkan diri dalam identitas komunitas Muslim saja. Namun, masuk ke dalam Islam berarti masuk dalam konteks pemahaman Islam itu sendiri, yang berarti bergabung dengan proyek sosial yang penuh inspirasi. Termasuk di dalamnya pembangunan masyarakat yang adil setara secara sosial; penyelenggaraan kehidupan yang bersandar pada kebaikan universal yang berasal dari Sang Pencipta.
Oleh karena itu, pemahaman yang mempersempit Islam dalam konteks ritual adalah keliru besar, tak mendasar dan justru berseberangan dengan esensi Islam sebagai rahmatan lil’alamin. Islam adalah perangkat penting untuk mewujudkan dunia yang berkeadilan. Tujuan ini tak mengenal batas demografis, identitas, pimordial dan perbedaan dalam bentuk apapun. Karena setiap orang berhak atas kebaikan untuk diri dan lingkungannya.
Terlebih ketika melihat persoalan demi persoalan di sekitar kita, yang nyaris tanpa penyelesaian bahkan semakin parah. Salah satunya persoalan kemiskinan dan kesenjangan hidup di dalam masyarakat, yang sejatinya hadir dari mangkirnya spirit sosial masyarakat kalangan mampu. Ini perlu dijembatani. Oleh apa? Tentu saja hanya keimanan dan akidah yang kokoh yang mampu mendorong munculnya sikap ini. Karena, setiap manusia selalu dan pasti ada sifat baik. Dengan ibadah adalah simulakrum untuk menyemai sifat ini.
Yang ketiga, kebaikan hanya tumbuh dalam lingkungan yang baik. Islam adalah agama berkomitmen membentuk peradaban manusia sesungguhnya. Untuk menuju ke sana tak bisa dicapai dengan mengerucutkan implementasi ajaran Islam ke wilayah privasi, sebagaimana pandangan sekuler menghendaki. Sejarah menuturkan bahwa saat Islam tumbuh, Rasulullah dan para sahabat selalu melakukan ikatan kontak, baik secara sosial dan politik dengan pemeluk kepercayaan lainnya.
Tujuannya bukan untuk menjajah. Tapi agar terbentuk komunitas yang dapat saling menjaga, dan bagi komunitas muslim dan pemeluk lain, berbuah kenyamanan dalam beribadah dan menjalankan kehidupan. Bicara stigma miring yang dituduhkan kepada Islam seperti selama ini, justru semakin membuka mata dunia bahwa ajaran yang dibawa Rasulullah bagian penting dari peradaban yang selama ini telah absen.
Kebenaran vs Ego
Kebaikan selalu beroposisi dengan mereka yang punya kecenderungan pada ego dan hasrat pribadi; rela mengabaikan kebaikan walaupun dia menyadarinya. Kekacauan, bencana dan kerusakan di sekitar kita adalah buah dari itu. Diperparah dengan kezaliman tertata rapi dan di sisi lain kebaikan justru berserakan. Semoga peristiwa Maulid Nabi dapat menyadarkan dan menyatukan hati kita menuju fitrah berupa kebenaran itu sendiri. Kemudian membagi dan menjaga nyalanya secara berjama’ah. Dengan begitu bermanfaat bagi alam semesta.
H. Syafruddin Sa’an, Lc, Penulis adalah Anggota DPRD Provinsi Riau