
BANGKOK, GORIAU.COM - Ribuan demonstran anti-pemerintah memblokade jalan utama di kota Bangkok, Thailand, Senin (13//2014). Mereka berusaha melumpuhkan ibukota Thailand ini dan mendesak Perdana Menteri Yingluck Shinawatra mundur dari jabatannya.
"Tujuan kami bukan perang. Kami hanya ingin menekan pemerintah sampai lumpuh," kata Kasit Piromya, mantan Menteri Luar Negeri dan anggota oposisi, Senin.Sebanyak 18 ribu polisi dan tentara berjaga untuk mengantisipasi aksi ini mengarah pada kekerasan dan anarkis. Mereka hanya mengawasi aksi dan tidak menunjukan tanda-tanda untuk melawan para pengunjuk rasa. "Kami tidak ingin konfrontasi dengan pengunjuk rasa. Di beberapa tempat, kami akan membiarkan mereka ke gedung-gedung pemerintah," kata Menteri Luar Negeri Surapong Tovichakchaikul.Pergolakan ini adalah kelanjutan dari konflik delapan tahun antara kelas menengah dan warga pedesaan yang sebagian besar miskin, pendukung Yingluck dan kakaknya, Thaksin Shinawatra yang juga bekas perdana menteri.Oposisi, Partai Demokrat dan Thaksin memang telah berseteru sejak penggulingan pemerintahannya oleh militer 2006. Thaksin dijatuhi hukuman penjara in absentia karena melanggar kekuasaan 2008. Untuk menghindari hukuman, Thaksin tinggal di Dubai, sebagai pengasingan. Delapan orang termasuk dua polisi, tewas dan puluhan terluka dalam kekerasan antara demonstran, polisi dan pendukung pemerintah sejak kampanye melawan pemerintah Yingluck digelar November tahun lalu.Minggu malam, penembakan terjadi di dekat kompleks administrasi pemerintah saat blokade dilakukan. Tujuh orang terluka oleh penembak gelap.Meski demonstrasi besar-besaran digelar alat transportasi masal, seperti kereta api dan kapal feri sungai masih beroperasi. Demonstran hanya memblokasi tujuh persimpangan. Sementara pengguna sepeda motor masih banyak yang berlalu lalang di jalan arteri kota Bangkok.Yingluck penah menawarkan solusi dengan menggelar pemilu pada 2 Februari. Namun, usulan itu ditolak pimpinan oposisi. Bahkan, kelompok oposisi mencegah para kandidat pemilihan untuk mendaftar ke KPU. Kondisi yang semakin memburuk, KPU mengusulkan agar pemilu ditunda sampai 4 Mei. "Perdana menteri harus mempertimbangkan usulan dari Komisi Pemilihan," kata Abhisit Vejjajiva, mantan perdana menteri dan pemimpin oposisi.Kelompok demonstran ini telah kalap dengan upaya Yingluck untuk mengembalikan Thaksin ke Thailand. Thaksin sebenarnya telah dilarang berpolitik selama lima tahun bersamaan dengan putusan hukumannya pada 2008. Namun, kuatnya jaringan Thaksin di partai dan pemerintahan mengakibatkan upaya-upaya untuk membuka jalan bagi Thaksin terus dilakukan.Tak Libatkan JenderalSementara pemimpin Komite Reformasi Demokrasi Rakyat (PDRC) Suthep Thaugsuban menegaskan tidak ada keterlibatan tentara dalam gerakan pelumpuhan Kota Bangkok. Pernyataan ini untuk membantah pemberitaan sebelumnya yang menyebut adanya jenderal Angkatan Darat yang menjadi pendukung. Suthep memang dikenal sangat dekat dengan sejumlah jenderal militer karena dia pernah memegang komando keamanan saat menjabat Wakil Perdana Menteri 2010."Tidak ada jenderal di balik operasi Bangkok Shutdown," katanya dalam wawancara dengan televisi BlueSky saat memimpin pengunjuk rasa dari jalan Ratchadamnoen menuju persimpangan Ratchaprasong, Senin.Ditanya soal peran Yingluck yang hanya memantau melalui Departemen Pertahanan, Suthep mengatakan tidak memperdulikan apakah Yingluck sudah tidak mampu menjalankan tugasnya dengan baik.Dia meminta maaf kepada warga Bangkok atas ketidaknyamanan yang disebabkan pengunjuk rasa anti-pemerintah dan meminta mereka berkorban untuk negara. "Saya sekarang memimpin massa untuk unjuk rasa di beberapa titik. Warga bisa bergabung di salah satu titik yang mereka inginkan," kata Suthep .Sathit Wongnongtoey, anggota PDRC, mengatakan setelah para pengunjuk rasa PDRC telah mencapai tujuh titik utama sasaran pengujuk rasa. Tentara akan terus mengawal aksi itu. "Pengamanan ini akan memberikan jaminan pengunjuk rasa tidak akan lagi diserang," katanya.***