
PADA Sabtu lalu, Provinsi Riau yang kita cintai berada pada usia 57 tahun. Bilangan usia yang mengandung banyak asa dan cita, terutama dari segenap masyarakat provinsi ini. Asa dan cita itu sedikit atau banyak tidak diragukan menuai banyak pertanyaan sekaligus intropeksi, apa yang telah provinsi ini peroleh setakad ini, dan apa langkah dan tantangan yang akan dihadapi ke depannya.
Usia 57 tahun barangkali bisa diintrepretasi mempunyai banyak arti. Dalam mitologi astrologi, angka 5 dalam bilangan puluhan disimbolkan sebagai perlambangan sifat Mars, yang mempunyai muatan sikap berupa keberanian dan pantang menyerah menghadapi tantangan.
Tapi mitologi tetaplah mitologi. Sebuah hiburan sampingan kreasi manusia memaknai lingkungannya. Artinya tidak layak untuk dipercaya. Namun ada muatan pesan dalam mitologi ini yang dapat diambil sebagai gambaran sikap positif yang harus dimiliki segenap elemen di provinsi ini dalam menghadapi hari jadinya dan menghadapi tantangan ke depannya.
Sikap yang dipaparkan tadi menggambarkan bahwa di usia 57 tahun provinsi ini bisa dimaknai matang sebagai punggawa. Terlebih peringatan hari jadi kali ini memiliki nilai signifikansi berbeda dibanding tahun sebelumnya. Karena ada tantangan momentum dan tantangan proyeksi. Tantangan momentum yakni bagaimana merencanakan capaian provinsi ini ke depan. Terlebih, dengan adanya peristiwa transisi kekuasaan yang kita semua telah melaluinya bersama.
Proyeksi
''Sejarah terus berulang''. Ungkapan bapak ilmu sosial Ibnu Khaldun itu benar adanya. Berbicara mengenai apa yang dihadapi manusia secara berkelompok dan individu relatif punya kesamaan. Begitu pula halnya dengan yang dihadapi bumi lancang kuning ini. Meski secara eksplisit persoalan yang dihadapi berbeda, namun secara implisit memiliki substansi yang sama. Berdasarkan itu, agaknya istilah ''persoalan atau permasalahan'' mungkin tak lagi akurat dipakai pada momen refleksi hari jadi provinsi ini. Karena ini mendekatkan pada sikap defensif. Lebih baik jika kita sebut sebagai tantangan.
Menginventarisir tantangan yang akan dihadapi provinsi ini tentu tak akan muat dipaparkan pada tulisan ini. Namun melihat berbagai persoalan secara prioritas, ada beberapa tantangan ke depan yang mesti jadi perhatian utama, baik itu untuk didesain dalam konteks pola pikir maupun pola sikap. Tidak semata bagi kepemimpinan dan pihak penyelenggara pemerintahan, akan tetapi juga entitas provinsi ini secara keseluruhan.
Pertama, tantangan distribusi pembangunan. ini menjadi sesuatu hal yang mesti dilihat secara prioritas. Keberadaan infrastruktur diyakini modal penting mendukung aktivitas masyarakat, dan dalam kekinian semakin mendesak untuk direalisasikan. Bukan semata untuk meningkatkan angka pertumbuhan ekonomi secara statistik, namun lebih dari itu bahwa kebutuhan akan sektor ini didasarkan pada fenomena sekaligus fakta, yakni pertumbuhan itu sendiri yang dapat dilihat secara kasatmata.
Pertumbuhan ekonomi yang menjanjikan ini akan sangat disayangkan jika dilewatkan. Gelembung ekonomi di provinsi ini dinilai sangat menjanjikan. Apalagi dari segi dukungan secara geografis, demografis dan nilai kenyamanan wilayah yang relatif aman dari potensi bencana membuat provinsi ini banyak dilirik masyarakat luar dan dipandang bak land of hope.
Kedua, tantangan memaksimalkan APBD sesuai prinsip anggaran, yang efektif, efisien dan ekonomis. Potensi anggaran yang cukup besar diharapkan dapat berdampak secara masif dalam upaya menyejahterakan masyarakat. Prioritas penggunaan anggaran akan sangat menentukan bagaimana provinsi ini ke depannya.
Ketiga, last but not least tantangan untuk memperkaya wacana yang juga disertai pengembangan secara rill dan bergradual mengenai sektor alternatif di luar Migas. Ini ditujukan untuk mengantisipasi ketergantungan pendapatan dari minyak selama ini. Karena, secara empirik ketergantungan selama ini membuat pertumbuhan ekonomi tidak maksimal. Konstruksi berpikir ke depan yang kita harapkan dari pemerintah provinsi ke depan adalah bagaimana thinking out of box. “Tak hanya minyak”, namun diharapkan mulai serius mengelola potensi lain dari ada. Salah satunya yang berpeluang untuk digarap adalah industrialisasi budaya.
Karena kita jenuh mendengar kata Melayu disebutkan dan elemen-elemennya dipertontonkan di berbagai kesempatan. Namun secara internalisasi, itu semua hanya melekat pada ruang birokrasi dan formal saja. Padahal, di banyak negara, telah mulai kembali melirik budaya mereka sebagai trigger dan penggerak. Baik itu untuk menonjolkan keunikan mereka ke tengah dunia, maupun memperoleh bonus dibaliknya, yakni keuntungan ekonomi. Jadi, masyarakat pun semakin kuat keinginan untuk melestarikannya.
Begitu pula hendaknya dengan kita. Sudah saatnya budaya Melayu dipandang dalam perspektif yang lebih besar. Untuk itu perlu di sisi kepemimpinan, perlu pendekatan dengan model ''politik''. Karena raihan itu hanya akan dapat dicapai jika ada integritas dan loyalitas dalam memajukan daerah ini secara total. Karena kemajuan bukan hanya terbatas pada hal yang construct semata, namun juga hal yang abstract, seperti penjagaan budaya melayu sebagai identitas.
Tantangan-tantangan ini tentu butuh lebih dari sekedar kemapanan perencanaan. Kemapanan sikap dan mental lebih diutamakan. Semoga momen refleksi di hari jadi ke 57 Provinsi Riau ini kemudian dapat dielaborasi oleh segenap elemen provinsi ini menjadi sebuah keinginan dan kemauan untuk memantaskan identitas kita ke hadapan khalayak lain. Dengan budaya Melayu sebagai pengeraknya. ***
Ir. H. Mansyur HS, MM adalah anggota DPRD Provinsi Riau