PEKANBARU – Hampir empat dekade berlalu sejak kawasan perkebunan kelapa sawit di Kecamatan Tapung, Kabupaten Kampar, Riau, mulai dikembangkan sebagai tempat membangun kehidupan baru.

Waktu telah mengubah banyak hal. Permukiman tumbuh menjadi desa, anak-anak para petani beranjak dewasa, dan generasi baru mulai mengambil peran dalam kehidupan.

Namun, ada satu hal yang terus dijaga, ikatan persaudaraan di antara keluarga-keluarga petani yang sejak awal tumbuh bersama.

Ikatan itulah yang kembali terasa ketika sedikitnya 1.500 warga dari sembilan desa di kawasan Transmigrasi Perkebunan Inti Rakyat (Trans-PIR) ADB berkumpul dalam Pengajian Akbar Jam'iyah Al Ittihadiyah di Desa Tri Manunggal, akhir pekan lalu.

Mereka datang dari desa-desa yang memiliki akar sejarah serupa. Sebagian merupakan keluarga petani mitra PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IV Regional III, perusahaan yang dahulu dikenal sebagai PTPN V. Meski kini tersebar dalam wilayah administrasi desa berbeda, mereka tetap terhubung oleh sejarah panjang kawasan perkebunan rakyat tersebut.

Pengajian yang sekaligus menjadi bagian dari peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-34 Desa Tri Manunggal itu pun memiliki makna lebih dari sekadar pertemuan keagamaan.

Ada silaturahmi yang terus dirawat, ingatan tentang perjalanan para pendahulu, serta kesadaran bahwa kehidupan masyarakat di kawasan itu dibangun melalui proses panjang yang saling berkaitan.

"Selama puluhan tahun, masyarakat di sembilan desa ini tumbuh dan berkembang bersama. Kami memiliki sejarah yang sama, membangun kehidupan dari kawasan transmigrasi hingga menjadi desa-desa yang terus berkembang seperti sekarang," kata Kepala Desa Tri Manunggal Edi Bambang.

Untuk memahami kedekatan masyarakat di kawasan tersebut, kisahnya perlu ditarik kembali ke penghujung dekade 1980-an.

Pada periode 1986 hingga 1991, PTPN V yang kini bertransformasi menjadi PTPN IV Regional III, bagian dari PTPN IV PalmCo mengembangkan kawasan perkebunan rakyat melalui program Trans-PIR dengan dukungan pendanaan Asian Development Bank (ADB).

Program tersebut menjadi bagian dari upaya pengembangan perkebunan kelapa sawit sekaligus pembentukan kawasan permukiman masyarakat transmigrasi di Riau.

Perkebunan menjadi salah satu tumpuan ekonomi masyarakat. Sementara itu, kehidupan sosial berkembang seiring tumbuhnya permukiman, fasilitas umum, serta aktivitas masyarakat dari waktu ke waktu.

Perjalanan panjang itu kemudian membentuk sembilan desa yang kini dikenal sebagai Desa Sumber Makmur, Tri Manunggal, Tanjung Sawit, Indrapuri, Mukti Sari, Indra Puri, Pelambaian, Gading Sari, dan Kijang Rejo.

Kendati telah berkembang dengan identitas dan pemerintahan desa masing-masing, sebutan Trans-PIR ADB masih melekat kuat di tengah masyarakat.

Nama itu tidak hanya penanda kawasan. Ia menyimpan ingatan kolektif tentang perjalanan para keluarga petani yang membangun kehidupan di tengah hamparan perkebunan sawit.

Bagi sebagian masyarakat, kawasan tersebut merupakan tempat orang tua mereka memulai kehidupan. Bagi generasi yang lahir kemudian, kawasan yang sama telah menjadi kampung halaman tempat mereka tumbuh dan membangun masa depan.

Karena itu, ketika warga dari sembilan desa kembali berkumpul, pertemuan tersebut tidak hanya mempertemukan masyarakat dari wilayah berbeda. Mereka juga dipertautkan kembali oleh sejarah yang sama.

Edi Bambang mengatakan nilai-nilai kebersamaan yang tumbuh selama puluhan tahun merupakan modal sosial yang harus terus dipertahankan, terlebih ketika masyarakat menghadapi perubahan zaman dan tantangan pembangunan.

Menurut dia, pembangunan kawasan perkebunan tidak dapat semata-mata dinilai dari pertumbuhan ekonomi maupun kemajuan infrastruktur.

Ada nilai lain yang tidak kalah penting, yakni kerukunan, kepedulian dan kemampuan masyarakat menjaga persaudaraan di tengah perubahan antargenerasi.

"Melalui momentum HUT ke-34 Desa Tri Manunggal ini, kami ingin mengingatkan kembali bahwa keberhasilan pembangunan bukan hanya diukur dari kemajuan ekonomi, tetapi juga dari persaudaraan, kerukunan dan semangat gotong royong yang terus terjaga," katanya.

Kemitraan yang Melampaui Hubungan Ekonomi

Perjalanan kawasan Trans-PIR ADB juga tidak dapat dilepaskan dari keberadaan PTPN IV Regional III.

Hubungan yang semula dibangun melalui pola kemitraan perkebunan rakyat itu telah berlangsung selama puluhan tahun. Seiring waktu, hubungan perusahaan dan masyarakat berkembang menjadi bagian dari kehidupan sosial di kawasan tersebut.

Perjalanan kawasan Trans-PIR ADB menjadi gambaran bahwa kemitraan perkebunan memiliki dimensi yang jauh lebih luas daripada hubungan usaha antara perusahaan dan petani.

Di balik aktivitas produksi tandan buah segar, pengelolaan kebun, dan keberlanjutan usaha perkebunan, terdapat hubungan antarmanusia yang telah berlangsung dari satu generasi ke generasi.

Perusahaan dan masyarakat memiliki kepentingan yang saling berkaitan. Keberhasilan pengelolaan perkebunan membutuhkan dukungan lingkungan sosial yang harmonis, sementara keberlanjutan ekonomi masyarakat juga tidak terlepas dari terjaganya ekosistem usaha perkebunan.

"Keberlanjutan perkebunan tidak cukup hanya ditopang oleh produktivitas dan pertumbuhan ekonomi. Ada hubungan sosial yang harus terus dijaga. Ketika perusahaan dan masyarakat memiliki ikatan yang kuat, semangat untuk saling mendukung dan tumbuh bersama juga akan semakin besar," kata Manajer Kebun/PKS Sei Garo PTPN IV Regional III Rico Irwansyah Surbakti.

Dalam konteks itulah, kegiatan seperti Pengajian Akbar Jam'iyah Al Ittihadiyah memiliki arti tersendiri.

Pertemuan tersebut membuka ruang bagi masyarakat lintas desa untuk kembali berinteraksi, mempererat hubungan yang telah lama terbangun, sekaligus menjaga nilai-nilai kebersamaan yang menjadi bagian dari sejarah kawasan.

Ia mengatakan hubungan harmonis antara perusahaan dan masyarakat merupakan bagian penting dari keberlanjutan, terutama di kawasan yang memiliki sejarah panjang kemitraan seperti Trans-PIR ADB.

Menurut Rico, hubungan baik yang terbangun saat ini merupakan hasil proses panjang yang telah dirintis generasi sebelumnya.

Karena itu, hubungan tersebut perlu terus dirawat, bukan hanya melalui kegiatan usaha perkebunan, melainkan juga melalui komunikasi dan keterlibatan perusahaan dalam kehidupan sosial masyarakat.

"Kami ingin keberadaan perusahaan senantiasa memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat sekitar. Karena itu, hubungan baik yang telah dibangun para pendahulu harus terus kita rawat dan kita wariskan kepada generasi berikutnya," ujar Rico.

Ia berharap kebersamaan yang terbangun melalui kegiatan keagamaan tersebut dapat memperkuat hubungan masyarakat, pemerintah desa, tokoh agama, dan perusahaan.

Terlebih, kawasan Trans-PIR ADB telah melewati perjalanan panjang yang mempertemukan berbagai generasi masyarakat dalam satu ikatan sejarah perkebunan rakyat.

Pengajian akbar yang turut dihadiri ulama asal Kebumen, Jawa Tengah, KH Miftahuddin Zuhri, bersama tokoh agama, tokoh masyarakat, unsur pemerintah desa, dan perwakilan PTPN IV Regional III itu menjadi salah satu ruang untuk menjaga ikatan tersebut.

Hampir empat dekade setelah kawasan Trans-PIR ADB mulai dikembangkan, wajah sembilan desa di Kecamatan Tapung telah banyak berubah.

Generasi berganti. Kehidupan masyarakat terus berkembang. Perkebunan yang dahulu menjadi bagian dari awal perjalanan kawasan itu pun kini tetap menjadi salah satu penopang kehidupan masyarakat.

Di tengah perubahan tersebut, ribuan warga yang berkumpul di Desa Tri Manunggal seolah kembali mengingatkan bahwa ada sesuatu yang tidak boleh terputus dari perjalanan panjang sebuah kawasan perkebunan, persaudaraan yang diwariskan dari para pendahulu.

Sebab, di kawasan Trans-PIR ADB, yang tumbuh selama puluhan tahun bukan hanya pohon-pohon sawit, melainkan juga akar kebersamaan masyarakat yang hidup di sekitarnya. ***