PEKANBARU – Pemerintah Kota (Pemkot) Pekanbaru menghadapi tantangan berat dalam menekan angka stunting atau tengkes pada tahun ini. Pasalnya, upaya mencapai target zero stunting harus tetap berjalan di tengah pemangkasan dana transfer dari pemerintah pusat ke kas daerah yang mencapai sekitar Rp400 miliar.

Menyiasati tekanan anggaran fiskal tersebut, Wali Kota Pekanbaru, Agung Nugroho, mendorong penguatan kolaborasi dengan berbagai pihak, terutama dunia usaha. Langkah ini dinilai krusial agar percepatan penurunan gangguan pertumbuhan anak tetap berjalan optimal.

"Kita targetkan Pekanbaru bisa zero stunting. Ini adalah misi kemanusiaan untuk menyiapkan generasi masa depan yang tangguh," ujar Agung.

Sepanjang 2025 lalu, Pemkot Pekanbaru tercatat berhasil menangani lebih dari 3.000 kasus tengkes melalui program intervensi gizi terintegrasi. Guna melanjutkan tren positif tersebut, Wakil Wali Kota Pekanbaru, Markarius Anwar, menginstruksikan seluruh camat dan lurah untuk memantau langsung kondisi anak tengkes di wilayah masing-masing, Senin (9/3/2026).

"Intervensi gizi ini kita teruskan. Jadi kita minta camat dan lurah memberikan perhatian khusus terhadap anak-anak stunting ini," urai Markarius.

Keterlibatan multipihak sangat dibutuhkan agar pemenuhan nutrisi berjalan berkelanjutan hingga kondisi anak membaik. Pemerintah kecamatan dan kelurahan didorong aktif menggandeng pelaku usaha setempat agar menyalurkan program Corporate Social Responsibility (CSR) tepat sasaran.

"Seperti beberapa waktu lalu ada dari pihak Angkasa Pura dan BRI yang memberikan bantuan untuk penanganan stunting. Nanti bisa kita arahkan ke program bapak asuh, sehingga anak stunting ini bisa mendapatkan intervensi gizi secara rutin sampai selesai," paparnya. ***