ORANG tua kita dahulu, jika akan menidurkan anak-anaknya didahului dengan menceritakan berbagai kisah dongeng sampainya ia tertidur. Cerita Dongeng itu sendiri adalah sebuah cerita rakyat yang tidak pernah tahu siapa pengarangnya. Ia timbul begitu saja ditengah kehidupan masyarakat. Orangtua kita adalah ''Pendongeng'' yang handal. Terkadang cerita itu dikarang mereka sendiri berdasar imajinasinya, mungkin terilhami oleh perilaku dan keserdahanaan kehidupan penduduk di zamannya.
Cerita dongeng adalah sebuah cerita khayalan yang lazimnya menceritakan tentang pemerintahan raja-raja yang kejam atau raja yang berbudi, tentang dewa-dewa, tentang peri-peri yang turun ke bumi menggoda manusia, tentang putri kayangan yang cantik jelita menghiurkan kaum adam di muka bumi. Dongeng tentang anak yatim piatu yang disiksa oleh ibu tirinya namun akhirnya menjadi Ratu dari sebuah kerajaan dan tentang anak yang durhaka. Dongeng, juga merupakan sebuah cerita jenaka sekadar pelipur lara, penghibur diri ketika duka.
Daya pikir pengarang-pengarang dongeng dizaman dahulu mendongeng didasarkan naluri sebagai manusia yang mempunyai rasa dan karsa. Mereka tidak pernah mengenal sepotong huruf pun. Paranan alam di sekelilingnya serta pengalaman hidup itulah yang membuahkan cerita-cerita dongeng. Cerita itu kemudian tersimpan didalam benak mereka. dan disetiap ada kesempatan, diceritakannya lagi. Begitulah seterusnya beredar dari mulut kemulut. Pada akhirnya cerita dongeng itu menjadi cerita rakyat yang turun temurun.
Cerita-cerita dongeng yang jauh dari sumber ilmu pengetahuan yang mereka bualkan pada anak-anak cucu mereka, terkandung makna filsafah kehidupan kemanusiaan sejatinya, memberi pembelajaran tentang kehidupan, sopan santun dalam pergaulan, etika, tentang berbuat baik sesama manusia, karena hidup ini tidak abadi. Cerita dongeng bukan saja merupakan cerita jenaka tapi adalah sebuah satire bagi pemimpin-pemimpin agar para penguasa negeri selalu memikirkan kehidupan rakyat, karena mereka berkuasa karena adanya rakyat. Tidak selalu seorang penguasa itu lebih pintar dari rakyatnya.
Dongeng, sekalipun sebuah cerita khayalan yang tidak mungkin dapat dicerna oleh akal, adalah berupa imijinasi yang timbul dari alam pikiran pendongeng itu sendiri. Akan tetapi kalau dihayati maka cerita dongeng itu sebenarnya penuh dengan makna kehidupan. Suatu tuntunan tentang kehidupan, kesantunan, menggambarkan tentang kesombongan seseorang, keangkuhan. Sebuah pembelajaran bagi anak-anak mereka dikala itu. Kita tentu tidak pernah lupa dengan cerita dongeng ''Malin Kundang'', yang kaya raya beristerikan wanita cantik dan iapun jadi kaya, tidak mau mengakui ibunya sendiri akhirnya jadi batu disumpah sang ibunda. Dongeng ''Jaka Tarub'' yang terpikat dengan putri kayangan yang sedang mandi dan mencuri salah satu pakaian sang putri kayangan akhirnya jadi isteri dan karena ''lupa janji'' ia ditinggalkan oleh isterinya kembali kekayangan. Demikian juga dongeng ''Sangkuriang''.
Di negeri Melayu sendiri ada cerita dongeng ''Batu belah batu bertangkuk''. Anak yang durhaka akhirnya ditelan oleh batu bertuah. Dongeng ''bawang putih bawang merah'', ibu tiri yang kejam, akhirnya anak tirinya menjadi isteri raja. Di negeri seberang pun ada cerita dongeng yang sudah mendunia ''Cinderella''. Di negeri Arab dongeng ''seribu satu malam'', mengisahkan anak manusia/rakyat yang sederhana akan tetapi cerdas, akhirnya disayangi/penasihat raja. Seribu macam cerita dongeng sampai sekarang masih tertinggal di otak manusia kini.
Hikmah yang dapat ditarik dari cerita-cerita dongeng mengandung pembelajaran amat substansial bagi manusia di muka bumi ini apakah itu untuk anak kecil atau orang dewasa sekalipun. Tentang budi pekerti yang terpuji, pemimpin yang tidak memperhatikan kehidupan rakyatnya. Cerita-cerita dongeng penuh dengan isyarat tentang kehidupan, merupakan sebuah rujukan untuk dipedomani oleh manusia-manusia sesudahnya. Akhir dari sebuah cerita dongeng selalu memberikan amanat berupa petuah ''yang benarlah yang menang'', perbuatan baiklah yang dipuji dan dituruti, yang jujur akan mendapatkan berkah atas kejujurannya. Orang-orang yang angkuh akan terbenam didalam keangkuhannya.
''Mendongeng'' adalah merupakan metode nenek moyang kita dahulu menjalani serta membenahi hidup dankehidupan. Mengoreksi diri sebagai manusia yang beradap dan sopan santun. Mereka tidak pandai membaca dan menulis. Tidak ada radio untuk didengar, kereka mencari/mendapatkan ilmu dari kehidupan mereka sendiri. Kehidupan itu bagi mereka adalah Perguruan Tinggi untuk menimba ilmu. Kehidupan itu sendiri adalah guru mereka. Kehidupan itu adalah ilmu yang paling sempurna. Mereka ambil intisari ilmu tentang kehidupan, mereka olah didalam otak dan kemudian mereka bukukan didalam hati sanubarinya, seterusnya diwariskan kepada anak cucu mereka. Sebagai cerminan bagi hidup kehidupan mereka dan keturunannya. Orang-orang yang bodoh dalam ''pendidikan'' tetapi kaya dengan falsafah kehidupan. Mereka dapat menjaga diri dari kehausan materilistis, mereka terhindar dari kemunafikan. Mengsinkronisasikan antara kata dan perbuatan. Tidak ada gejolak hidup yang berkelebihan yang selalu diikuti dengan fitnah-fitnahan. Hidup pun menjadi tenang sejahtera dan damai.
Kini dongeng-dongeng seperti itu ternyata masih hidup subur ditengah masyarakat moderen. Kehidupan masyarakat yang saling berkompetisi sesamanya. Namun versi dan makna cerita dongeng masyarakat sekarang sudah jauh bergeser dari sumbu falsafah hidup para Pendongeng dahulu. Perbedaannya ''pendongeng'' zaman orang-orangtua kita lazimnya berisikan nasihat-nasihat tantang kehidupan manusia. Pengarang dongeng di zaman itu tidak pernah diketahui, tidak pernah menyebutkan namanya. Cerita dongeng itu mengalir begitu saja dari mulut kemulut. Karena mereka tidak tahu menulis dan tidak ingin dikenal. Suatu karakter terpuji dari masyarakat dahulu.
Lain halnya dengan cerita dongeng di zaman kemajuan teknologi sekarang ini. Pendongeng sekaligus ''pembuat dongeng'' dapat diketahui oleh pendengar dongeng. Kemajuan teknologi, terutama teknologi komunikasi, memungkinkannya. Pendongeng masa kini menyampaikan dongengannya dengan pembicaraan yang menggebu-gebu lewat televisi, media masa. Mereka bercerita pada orang-orang/rakyat dengan mengatakan negeri ini akan maju dan makmur bila kelak ia menjadi kepala daerah. Negeri ini akan dibangun sekolah-sekolah supermoderen. Anak-anak belajar tanpa biaya. Anak-anak miskin dapat maju bersama dengan anak orang kaya, tidak ada diskriminasi. Maka ''nobatkanlah'' saya sebagai penguasa negeri. Rakyat tidak lagi membayar biaya apapun bila diserang penyakit. Uang negeri hasil dari pajak rakyat akan kembali pada rakyat, berbentuk kemakmuran yang akan diselenggarakan dengan penuh pertanggung jawab. Demikianlah bentuk dongeng sekarang ini. Uang pun mengalir membungkam mulut anak negeri, maka rakyat pun menjadi bertambah ''dungu'.
Tidak perlu dipungkiri kenyataan-kenyataan sudah membuktikannya. Yang harus dipikirkan sekarang bagaimana memotivasi agar dalam memilih pemimpin bukan seorang ''pembual'' atau ''pendongeng'' munafik. Akan tetapi sebagai pemimpin idealis yang bermoral. Karena pendongeng-dongeng seperti itu, bukannya membuat rakyat negeri menjadi terharu, semakin sadar akan dirinya untuk berbuat baik. Malah kekacauan terjadi dimana-mana, karena si Pendongeng-pendongeng sekarang yang sekaligus adalah pemimpin, dalam kenyataannya tidak mengsinkronisasikan ''antara kata dan perbuatan''.
Pendongeng dahulu jauh lebih bermakna, membentuk watak manusia yang berbudi dan bermarwah. Dongeng yang berawal dari sebuah imajinasi atau khayalan semata lambat laun berujung pada suatu kenyataan, membentuk kehidupan rakyat anak negeri yang santun, berbudi, aman dan tenteram.
Masyarakat yang sinisme dan skeptisme tentu akan berkata tidaklah mungkin menyamakan dua zaman yang berbeda. Suatu zaman memang tidak dapat dipersamakan satu dengan lainnya. Tapi, suatu zaman merupakan rentetan dari satu zaman ke zaman berikutnya. Tidak ada sekarang kalau tidak ada yang dahulu. Lalu mengapa zaman dahulu akhlak manusia masih mengenal sopan santun, masih mengemban naluri sebagaimana layaknya manusia yang memiliki akal budi untuk tidak berbuat kemunafikan dan serakah. Mengapa sekarang tidak meniru sifat-sifat akal budi manusia dahulu.
Fenomena itu tidak lain disebabkan kerena para pemimpin, para ulama, para cerdik pandai, para pemikir, berbuat dan berpikir hanya untuk kepentingan diri sendiri dan kelompoknya. Berbeda dengan dahulu. Pendongeng-pendongeng sekarang ini adalah sebaliknya. Dongeng-dongeng yang mereka buat terinspirasi pada suatu kenyataan-kenyataan dari perbuatan dan kehidupan mereka sendiri. Implementasinya dari dongeng-dongeng mereka justru membentuk manusia oportunisme. Manis dalam ucapan ''sadis'' dalam perbuatan. Sebentar lagi negeri ini akan memilih sang Raja baru. Berbagai cerita dongeng dari para calon Pemimpin sudah mulai dilontarkan. Rakyat tinggal pilih Pendongeng ''honesties'' atau ''falselities''. Kita harapkan anak negeri Melayu sudah semakin pintar. ***
Jakarta, 6 Januari 2014Penulis adalah orang Riau tinggal di Jakarta.


