SEMUA orang sudah pasti tahu dengan hewan Kambing. Bahasa Ilmu Pengertahuan disebut Capra yaitu sejenis domba termasuk jenis hewan mamahbiak. Ada beberapa jenis kambing seperti capre entewa, kambing hutan, kambing saanen, kambing anggono, kambing Belanda dan sebagainya. Walau banyak jenis kambing tapi kambing-kambing itu mempunyai satu kesamaan yaitu: baunya yang sangat menusuk hidung. Dalam jarak 10 - 20 meter baunya sudah dapat menyerang hidung kita. Bahkan bekas ''parkirnya'' saja di tempat penjualan, baunya masih tertinggal beberapa hari. Bulu kambing berbagai warna, putih, coklat, hitam dan sebagainya. Bulu-bulu itu jika dibersihkan oleh pemiliknya cukup menarik, warna sejati.
Walaupun banyak keburukan hewan ini, namun aku sangat heran sekali dengan sifat manusia, mengapa kambing sangat disenangi manusia. Coba ingat disetiap menghadapi Idul Adha hewan ini menjadi primadona bisnis. Orang belomba-lomba mencarinya. Para tetangga yang rumahnya berjarak beberapa meter dari ''terminal'' penjualan kambing di kota, di kampung sekalipun, tidak pernah memprotes penjual kambing.
Konon kata orang, selain untuk memenuhi syarat ibadah Idul Adha, daging kambing mempunyai khasiat menambah stamina, mendatangkan gairah, terutama malam-malam pertama orang-orang yang akan memadu kasih. Aku tidak tahu apakah cerita dari mulut ke mulut itu benar adanya. Tapi itulah berita yang hidup dalam masyarakat kita.
Selain cerita tentang kambing senyatanya, masih ada cerita lain lagi tentang hewan ini. Cerita didalam ontologi khusus tentang kambing yang berwarna hitam. Kalau diperhatikan warna-warna yang terdapat pada kambing biasa-biasa saja. Akan tetapi ternyata kambing yang berwarna hitam, selain merupakan salah satu warna yang terdapat pada seekor kambing dalam arti senyatanya, akan tetapi ''kambing hitam'', yang berwarna gelap menciptakan ''interprestasi'' yang sangat menyudut sang kambing berwarna hitam. Aku tidak tahu darimana asalmula dan penciptakan interprestasi itu.
Mungkin banyak orang yang belum begitu mengerti dengan makna dalam konotasi lain dari kambing berwarna hitam. Seperti contoh ''si X itulah yang menjadi kambing hitamnya''. Kata-kata kambing hitam merupakan suatu konotasi bahasa yang menyatakan bahwa seseorang yang telah melakukan perbuatan jahat akan tetapi ''pengecut'' untuk mengaku lalu menuduh orang lain penyebab terjadinya suatu malataka. Orang itulah disebut sebagai kambing hitam.
Kata-kata kambing hitam bisa juga terjadi bila seseorang yang melakukan perbuat ''korupsi'' karena tidak berani bertanggung jawab dan takut nama baiknya tercemar dan bakal jadi santapan berita dan ejekan rakyat atau pengikutnya, maka untuk melepaskan dirinya dari petaka itu ia ''mengkambing hitamkan'' oranglain, komunitas, situasi politik bahkan hukum atau menuduh isu-isu musuhnya sendiri. Orang itu berdaya upaya melakukan akal muslihatnya yang busuk dengan mencari upaya dan argumentasi, dan berkata ''itu adalah isu untuk mengalihkan perhatian''. Dengan maksudnya menghilangkan suatu persoalan yang sedang dihadapinya, dan menimbulkan persoalan baru sehingga hilanglah persoalan lama. Atau orang yang melakukan perbuatan tercela itu menuduh telah terjadi konstelasi ingin menjatuhkan dirinya. Tragisnya lagi ''mengkambing hitamkan'' situasi demikian itu tanpa dasar, selain menunjukkan kekonyolan dirinya yang tidak tertolong lagi.
Alkisah, disuatu ''kerajaan alam ilustrasi'' ada seorang pembesar negeri yang sangat berpengaruh dan dipuja serta dibuji oleh masyarakat dan terutama pengikut-pengikutnya yang setia. Suatu ketika sang pembesar sekaligus pemimpin idola itu terkena musibah yang sangat memalukan dan yang paling parah lagi memporak perandakan tatanan komunitasnya yang terkenal sangat solit. Dan terjadilah kometmen politik antar komunitasnya bahwa ia bersih dan tidak tahu apa-apa dengan pemainan yang kotor. Akhirnya dilakukanlah prakarsa-prakarsa oleh dirinya sendiri dan dari komunitasnya, bahwa sitokoh idola dan kumunitasnya telah terserang konstelasi politik yang akan menggusurnya untuk menjadi Yang Dipertuan di negeinya. Anehnya lagi ia tidak pernah dapat menunjuk siapa dan ''setan'' mana yang melakukannya. Semua orang dapat berkata: puluhan kilo emas yang ada dipuncak Monas berasal warisan nenek moyangnya. Begitulah omong kosong orang tak tahu diri.
Banyak lagi sebenarnya predikat yang diamanatkan oleh orang-orangtua kita dahulu tentang kambing. Selain konotasi kambing hitam, maka yang sangat krusial predikat terhadap hewan kambing, disebut dengan ''bandot'' . Bandot sebenarnya adalah nama lain dari pada kambing jantan. Jadi tidak ada kambing betina yang disebut dengan bandot. Mungkin dari situlah awal pemikiran nenek moyang kita dahulu. Bandot, diberi nama demikian karena mempunyai nafsu sex yang lebih besar dari kambing biasa. Bandot dengan perfomennya yang kekar, berjenggot, tinggi, bertanduk bengkok kebelakang, benar-benar terlihat jantan dari pejantan kambing biasa. Maka, dengan imajinasi yang natur orangtua kita dahulu menganalogi bandot disejajarkan dengan laki-laki tua yang gemar dengan daun muda supaya badannya segar selalu siap bertugas. Manusia seperti ini indentik dengan orangtua yang tidak tahu diri, selain ingin “mengunyah” pucuk daun yang masih muda dan lembut, sibandot dapat mencari daun muda lagi daripada mengunyah daun yang sudah berserabut, karena giginya sudah tanggal satu demi satu disdot usia.
Konon, disebuah koloni manusia disuatu dusun-kota ada seorang Prabu berkuasa daerahnya. Dengan kekuasaan dan harta yang banyak memikat, ia terlibat bermain cinta dengan putri muda belia masih belasan tahun. Setelah madu dapat direguk dan hasrat hati telah terpenuhi dengan gelora cinta. Episode pun berakhir, bunga ditinggal tanpa belaian kasih lagi dan tinggallah bunga yang layu sebelum berkembang.
Maka lagu lamapun terjadi. Sang prabu mencari seribu alasan, juga dengan kewenangan dan hartanya. Ia mencari kambing hitam, untuk menutupi ''kebejadan'' moralnya. Tidak sulit tentunya karena harta yang masih melimpah, ia dapat membeli dan membayar apa saja yang diinginkannya. Para sesepuh, para hulubalang, para pengikutnya bahkan cerdiakiwanpun berlomba-lomba memasang badan bersedia dijadikan taming sebagai kambing hitam.
Maka harga kambing hitam di negeri inipun kini akan semakin melonjak tinggi. Mungkin dapat mengalahkan harga daging sapi yang diimpor dari negeri Kanguru. Para komunitas tertentu banyak yang berani pasang badan bila orang yang mereka patuhi, mereka teladani dan hormati terkait musibah yang menimpa pemimpin yang mereka hormati kagumi katanya pelindung anak negeri itu.
Dari pelupuk mata rakyat di negeri ini terlihat dan bila diamati tingkah polah, prilaku pemimpin mereka rakyat dapat mengambil makna bahwa pemimpin di negeri sudah sangat sulit untuk disanjung dan disembah. Pembicaraan yang keluar dari mulut para pemimpin-pemimpin ini layaknya amanah seorang ulama dan dengan penampilan elegen layaknya seorang imam besar. Tapi semua kamuflase. Pemimpin-pemimpin seperti inikah yang harus dipanuti dan dituruti. Rakyat akhirnya akan bertanya apakah pada tahun 2014 mendatang masih ada lagi sisa-sisa para pemimpin santun, sopan yang dapat menjadi panutan, tidak lagi bersifat munafik. Dan dapat membawa rakyaknya bersama-sama mengayuh bahtera yang sudah semakin keropos. Mari kita tunggu bersama. ***
Jakartta, 2013
Penulis adalah orang Riau bermastautin di Jakarta.


