Senyelemen Saleh Djasid bahwa jumlah Golput pada Pemilukada di Riau putaran pertama mendekati 45 persn dan diprediksi pada putaran kedua akan meningkat lagi menjadi sekitar 60,1 persen (goriau com). Prediksi ini mungkin juga tidak akan jauh berbeda dengan pesta demokrasi tingkat nasioal pada pemilu yang akan diselenggarakan pada bulan April 2014 mendatang.

Kita tentu tidak menghendaki hal demikian itu. Tapi setidaknya kita pasti akan bertanya mengapa ini bisa terjadi. Jawabannya tentu tidak mudah. Terlalu banyak faktor penyebab kegagalan pemerintah didalam memberikan makna demokrasi sesungguhnya pada masyarakat sehingga untuk menarik rakyatnya agar tidak ikut terlibat kedalam kelompok yang tidak ikut memilih atau mempergunakan haknya, yang lazimnya disebut Golongan Putih (Golput). Dari banyak faktor penyebab timbulnya skeptisme dikalangan masyarakat tidak lain disebabkan sifat karakter yang dipertontonkan oleh para caleg itu sendiri.

Kamuflase

Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa setiap mendekati pemilu atau pemilukada, para tokoh-tokoh apakah itu pimpinan partai, pejabat negara, Caleg yang ingin masuk ke gedung rakyat (DPR, DPRD) berbondong-bondong mengalir bak air bah yang melanda masuk ke desa-desa dengan berbagai macam atraksi. Ada yang membagi-bagikan sembako, menaburkan uang recehan, berdialog dengan rakyat kecil seraya bergandengan tangan dan berpelukan menunjukkan keaktaban, berpidato memberikan arahan tentang kemiskinan yang harus ditumpas. Semua ''sandiwara'' yang dipertontonkan oleh para calon legislatif/eksekutif itu tidak lebih dari sebuah ''kamuflase'' kosong tidak ada maknanya.

Kamuflase kosong itu dapat dilihat sendiri oleh rakyat, sesudah mereka dapat kursi empuk, yang terpikir oleh mereka tidak lain adalah bagaimana mereka dapat mengisi kekosongan pundi-pundi yang telah mereka kuras ketika mereka turun menapaki jalan kaki kedusun-dusun memamerkan diri agar mereka dipilih untuk memperjuangkan nasib rakyat. Tidak perlu mencari alasan dengan membantah semuanya itu adalah ''issu'' semata. Rakyat tidak sebodoh dan ''sebebal'' yang mereka pikirkan. Dari realita kehidupan para anggota Legislatif maupun Lembaga lainnya rakyat telah melihat dengan mata kepala sendiri, betapa mewahnya hidup mereka yang duduk dikursi Parlemen atau Penguasa yang memegang kekuasan. Sementara dibenak rakyat selalu saja bertanya kapan berakhirnya suatunya penderitaan. Rakyat hanya dapat menatap kelangit, berimajinasi.

Oportunitas

Semua anak negeri ini tahu, mengapa banyak orang ingin menjadi Caleg. Siapa yang tidak merasa bangga bila seseorang itu disebut anggota dewan, tepatnya Anggota Parlemen (DPR). Disamping sebutan sebagai ''orang yang terhormat dan mulia'' tentu adalagi pengertian yang tersirat dalam predikat itu, yaitu suatu kehidupan yang berbahagia dengan materi yang berlimpah ruah. Dalam kesempatan ini saya tidak akan mengkalkulasi materi yang diterima oleh seorang anggora yang terhormat itu.

Dibeberapa ungkapan baik melalui media maupun kenyataannya kehidupan seorang anggota DPR jauh melebihi dari aparatur negara lainnya di negeri ini. Kesempatan itu pasti tidak akan disia-siakan, karena mereka pasti sadar dan berpikir mereka hanya dapat menikmati kesempatan ini hanya dalam waktu lima tahun saja.

Betapa kerugian morel dan meriel yang mereka hamburkan untuk mendapat status itu, apakah dapat tertutupi selama lima tahun mereka berkarier. Syukur jika mereka dapat menjalaninya untuk lima tahun lagi. Maka timbullah sifat oportunisme itu, karena lima tahun bukan masa yang terlalu panjang untuk mencapai kebahagiaan sebagai "Tuan-tuan anggota DPR yang terhormat".

Avonturisme

Banyak jalan lain ke Roma, itulah yang mungkin ada dikepala mereka yang ingin merangkul sesuatu demi mewujudkan cita-citanya. Sebuah Partai Politik adalah merupakan "gerobak" pengangkut orang yang ingin melangkah masuk kegedung yang tergormat bernama Parlemen ataupun gedung-gedung Lembaga terhormat lainnya. Maka tidak heran bila orang-orang yang berambisi ingin mendapatkan sesuatu melaku tindakan dengan jalan pentas. Mereka tidak segan-segan dan merasa malu-malu "mencoret" mukanya atau "menodai" harga dirinya sendiri.

Rakyat Negeri ini tentu sudah menginventarisir dan mempunyai catatan sendiri, sudah berapa banyak orang-orang partai yang tadinya lantang berkotek-kotek memuja serta mempertahankan eksistensi partainya. Mereka berkoar-koar berteriak partainyalah yang akan memperjuangkan nasib rakyat. Dan tragisnya lagi berkomitmen ingin mati bersama partainya.

Namun celakanya, setelah tidak mendapat kedudukan apa-apa dan bicaranyapun tidak laku dijual oleh Partainya, akhirnya minggat dan menyelusupi Partai lain yang mau menerima "bualnya". Kini ia mencaci maki almamaternya dengan berbagai ungkapan kata yang tidak layak sebagai seorang politikus. Inilah kenyataan yang hidup dinegeri ini.

Ketika Bung Karno dan Hatta partainya dibubarkan Pemerintah Belanda, apakah mereka hijrah ke partai lainnya atau mendirikan partai baru yang menguntungkan mereka. Demi kemerdekaan negeri sendiripun mereka tidak pernah luntur. Sifat konsekuensi dan idelisme terhadap partai inilah yang tidak dipunyai oleh anak bangsa yang tergabung dalam Partai dinegeri ini sekarang.

Dari secuil argumentasi diatas, kita dapat mengevaluasi dan menarik kesimpulan mengapa ''Golongan Putih'' yang tidak dikehendaki didalam Pemilu dan Pemilukada dimanapun, akan berpotensi meningkat terus. Rakyat tidak lagi sebodoh yang diperkirakan.

Tranportasi dan komunikasi yang canggih sekarang ini sudah cukup kuat untuk diserap oleh rakyat dan berpikir serta menilai kualitas dari para Caleg yang akan mereka pilih. Bilamana para caleg yang sudah terindikasi dengan salah satu argumentasi diatas maka tidak menutup kemungknan Golput merupakan pilihan artenatif. Tentu saja masih banyak argumentasi lainnya lagi yang dapat menimbulkan sifat skeptisme dikalangan masyarakat yang akhirnya banyak yang beridiri dibelakang Golput.

Jakarta, 29 Desember 2013

Penulis adalah warga Riau bermukim di Jakarta.