
PEKANBARU - Ancaman kabut asap di Bumi Lancang Kuning sedikit mereda seiring turunnya suhu di sejumlah lahan rawan. Terjadi penurunan drastis pada kemunculan titik panas (hotspot) di Provinsi Riau, menyisakan 13 titik api Selasa (22/9/2026). Angka ini memberikan sedikit ruang napas di tengah tingginya sebaran api yang masih mengepung daratan Pulau Sumatra.
Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Anggun R merincikan, dari total belasan titik panas yang tertangkap radar satelit di wilayah Riau, porsi sebaran terbesar bertengger di wilayah Kabupaten Indragiri Hulu. Meski angkanya terjun bebas dibandingkan rekapitulasi sebelumnya, kewaspadaan terhadap ancaman pembakaran lahan tetap diberlakukan secara ketat.
"Total titik panas di wilayah Sumatra hari ini mencapai 1.149 titik, sedangkan Riau terpantau 13 titik," terangnya.
Meski Riau berhasil menekan kemunculan api dari lahan gambut dan kawasan hutan, situasi di beberapa provinsi tetangga masih mengkhawatirkan. Sumatra Selatan menduduki posisi puncak sebagai penyumbang titik panas terbesar di Pulau Andalas dengan temuan melampaui tujuh ratus titik.
Berikut rincian data sebaran titik panas di Pulau Sumatra berdasarkan rekam jejak satelit:
Menurunnya jumlah kemunculan api di Riau memberikan angin segar bagi kualitas udara lokal dan menekan risiko infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) di tengah masyarakat. Namun, otoritas cuaca menegaskan bahwa pengawasan di area langganan karhutla, seperti Indragiri Hulu, tetap krusial agar sisa panas tidak meluas memicu titik baru.
Di samping mendata titik koordinat panas, otoritas pemantau iklim terus meneliti pergerakan udara dan kelembapan atmosfer secara presisi. Langkah ini dibutuhkan untuk memetakan arah angin dan melihat kemungkinan perpindahan asap lintas provinsi yang dapat tiba-tiba mengganggu jarak pandang di wilayah Riau. ***