SEORANG calon legislatif (caleg) menulis komitmennya di selembar brosur yang dicetak mewah. Ada belasan komitmen yang akan diperjuangkannya nanti jika terpilih menjadi anggota dewan. Mulai dari masalah perbaikan infrastruktur, peningkatan pendidikan, pelayanan kesehatan, sampai kepada upaya mendongkrak ekonomi masyarakat.

Brosur yang dilengkapi dengan biodata dan foto caleg tersebut dibagi-bagikan kepada ibu-ibu ketika sosialisasi dilakukan. Tentu saja brosur itu dibaca oleh ibu-ibu arisan atau wiridan. Namun, bukan komitmen caleg yang dicermati, tapi lebih banyak mengamati asal usulnya. ''Komitmen ini bagus pak, tapi jika kami pilih bapak, kami dapat apa?,'' komentar salah seorang diantaranya.

Si caleg berusaha memberikan penjelasan. Dia pura-pura tak tahu maksud pertanyaan ibu tersebut. Dengan tangkas, caleg yang sudah berpengalaman di DPRD ini menjelaskan komitmennya satu per satu. Intinya, jika terpilih nanti, dia akan mewujudkan komitmen itu. ''Insya Allah, jika terpilih saya akan perjuangkan komitmen ini,'' ujarnya.

Si caleg menyatakan tidak akan menjanjikan dan memberikan apa-apa. Kalau toh nanti ada selembar jilbab murah, itu hanya sekedar buah tangan tanda berputih hati. ''Ini bukan sogokan, tapi hanya sekedar buah tangan, dan saya ikhlas memberikannya,'' katanya.

Di tempat lain, ibu-ibu arisan nyeletuk. ''Pak, sudah banyak yang datang ke kami. Tapi bapak jangan marah jika suaranya tak banyak nanti. Jangan pula jilbabnya diminta lagi,'' tuturnya polos. Si ibu ini mengaku sudah dapat bahan baju, rebana, bahkan sembako dari caleg lain.

Si caleg tak mau patah semangat. Dengan santai dia menjawab, ''Ibu-ibu tak perlu mengembalikan. Jika ibu yakin dengan saya, silahkan nanti dipilih,'' ujarnya. Dia mengingatkan agar ibu-ibu tidak memilih semua caleg yang telah memberinya hadiah. ''Kalau ibu-ibu pilih semua, batal suaranya,'' kata si caleg.

Itulah sekilas gambaran umum masyarakat kita menjelang Pileg 2014. Masyarakat seperti tidak peduli dengan visi misi dan komitmen caleg. Mereka juga tidak peduli dengan etika dan moral caleg. Bagi mereka yang terpenting adalah apa yang mereka dapatkan dari caleg saat ini.

Macam-macam yang mereka minta. Untuk kepentingan umum, misalnya, semenisasi jalan, pembangunan rumah ibadah dan sekolah, pos ronda, posyandu dan rebana. Ada juga untuk kepentingan pribadi seperti jilbab, baju seragam, sembako dan uang. ''Nanti kalau bapak duduk, lupa dengan kami. Lebih bagus sekarang aja pak,'' ujar mereka.

Memang, kepercayaan masyarakat dengan caleg dan DPR serta DPRD sudah turun ke titik nadir. Pasalnya, boleh jadi karena polah anggota dewan itu sendiri. Lihatlah, banyak kasus korupsi yang menimpa wakil rakyat. Amat jarang anggota turun ke lapangan untuk menampung aspirasi warga, termasuk ketika reses. Tidak sedikit pula wakil rakyat lupa dengan konstituennya setelah duduk di kursi empuk.

Semua itu membuat masyarakat muak dan apatis. Karena itu, ketika musim caleg tiba, mereka melampiaskan kemarahan itu kepada caleg. Mereka meminta apa saja kepada caleg. Tidak peduli apakah caleg itu punya uang atau tidak.

Pokoknya, caleg dianggap orang punya uang dan siap membantu serta memberi apa saja. Mereka capek mendengar kata-kata berjuang, sehingga muncul plesetan dalam bahasa Minang, ''Bajuang..bajuang, bajuden mano?.'' Artinya, mereka sudah capek berjuang, tapi hasilnya tak ada. Karena itu mereka minta yang pragmatis yakni beras, baju dan uang alias ''berjuang''.

Padahal, politik transaksional ini, akan mengakibatkan biaya tinggi. Biaya itu akan mereka kembalikan setelah mereka duduk. Jika ditengok gaji dan tunjangan mereka, sulit untuk mengembalikannya. Karena itu, mereka akan melakukan hal-hal yang menyerempet bahaya, termasuk korupsi.

Lebih dari itu, mereka tak akan turun menjumpai konstituennya. Sebab, tidak ada rasa tanggungjawab karena suara sudah dibeli. Mereka akan kembali lima tahun mendatang ketika akan kembali membeli suara masyarakat.

Namun mereka lupa bahwa perbuatan politik uang (money politik) dan sebagainya itu, merupakan perbuatan haram yang hukumannya masuk neraka. Kata Ustad Arifin Ilham dan Ustad Yusuf Mansyur di salah satu televisi, yang menyogok dan penerima sogok, sama-sama menikmati duit haram. Tentu anak-anaknya akan makan duit haram selama lima tahun. ***

Penulis adalah politisi dan wartawan.