NAMA Lubuk Jambi mungkin tidak terlalu dikenal di jagat nasional. Bahkan, tidak muncul dalam peta Indonesia. Namun, ibukota Kecamatan Kuantan Mudik, Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau, itu punya karakteristik tersendiri. Masyarakatnya hidup berkebun karet dan menangkap ikan di sungai. Sebagian besar penduduknya beragama Islam dan penganut ajaran Muhammadiyah. Tak pelak lagi, pendidikan telah menjadi darah daging bagi masyarakat Kuantan Mudik.

Kuantan Mudik kini telah dipecah menjadi empat kecamatan yakni Gunung Toar, Hulu Kuantan, Pucuk Rantau dan Kuantan Mudik sendiri. Namun karakteristik masyarakatnya tetap sama. Ketika Partai Amanat Nasional (PAN) didirikan pada 1998, masyarakat Lubuk Jambi dan sekitarnya menyambut dengan gegap gempita. Maklum, partai yang lahir dari kawah reformasi ini dideklarasikan dan diketuai oleh Prof. DR. H.M. Amien Rais, MA, mantan Ketua Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah. Maka, dengan cepat PAN tersosialisasi ke masyarakat melalui jaringan Muhammadiyah.

Hasilnya, PAN berhasil mendudukkan tiga orang wakilnya di DPRD Kabupaten Indragiri Hulu (kemudian dua orang ditarik ke DPRD Kuantan Singingi setelah pemekaran). Sejak itu, PAN tidak pernah kosong menempatkan wakilnya di DPRD Kuansing dari daerah pemilihan Kuantan Mudik. Siapapun calon legislatifnya, baik berasal dari Kuantan Mudik atau dari kecamatan lain, dapat dipastikan akan duduk di DPRD Kuantan Singingi. Masyarakat Lubuk jambi dan sekitarnya tidak peduli siapa orangnya, yang penting mereka tetap memilih PAN.

Mengapa demikian? Ternyata masyarakat setempat tidak memperhatikan calon anggota dewan yang akan dipilih. Mereka memilih PAN karena partai ini dilahirkan oleh tokoh-tokoh Muhammadiyah dan memakai jaringan Muhammadiyah. Amien Rais bagi mereka adalah tokoh besar Muhammadiyah yang menjadi panutan. Jadi, PAN, Amien Rais dan Muhammadiyah, bagi masyarakat Lubuk Jambi dan sekitarnya adalah tiga kutub yang tidak dapat dipisahkan. Sebab, benang merahnya sudah terjalin sejak dari awal partai ini berdiri.

Sejarah mencatat, Amien Rais adalah inspirator dan pelopor tumbuhnya gelombang reformasi di Indonesia. Ia menjadi lokomotif gerakan reformasi. Amien Rais , diantara kaum reformis lainnya, adalah sosok intelektual-pejuang yang gigih menggulirkan ide perlunya suksesi kepemimpinan nasional. Isu suksesi ini bisa dikatakan sebagai pemicu kesadaran kaum intelektual, terutama mahasiswa untuk menggulirkan gerakan reformasi, disamping karena krisis perbankan dan rendahnya mutu kabinet terakhir Soeharto.

Setelah Orde Baru runtuh, Amien Rais yang saat itu menjabat yang saat itu menjabat Ketua PP Muhammadiyah mengalami dilema serius. Apakah akan kembali menjalani aktifitas dakwahnya melalui Persyarikatan Muhammadiyah atau meneruskan tugasnya sebagai salah seorang tokoh reformasi. Dua sahabatnya : Syafii Maarif dan Yahya Muhaimin, mendorong terjun ke politik untuk menuntaskan reformasi. Akhirnya, Amien Rais terjun ke gelanggang politik dengan mendirikan PAN.

Sosok Amien Rais memang fenomenal. Sebagai seorang akademisi, intelektual, pemikir Islam, da’i dan aktivis Muhammadiyah, ia dikenal sebagai sosok yang berani berbicara lantang apa adanya. Bahasa politik Amien Rais yang mudah dicerna oleh masyarakat, berterus terang, tidak berbelit-belit, lugas, tetapi tidak meninggalkan dimensi intelektualitasnya, adalah menjadi kekayaan bahasa Amien Rais. Semua itu tidak terlepas dari karakter pribadinya.

Sebagai politisi, Amien Rais selalu punya motivasi moral tertentu hingga ia bisa bersikap melawan arus atau mengambil peran tertentu yang kontroversial. Ada penilaian bahwa Amien adalah seorang pribadi yang honest (jujur dan terus terang), namun juga sincere (tulus hati), dua sikap penting sebagai politisi hingga bisa bicara ceplas-ceplos karena tidak bisa membendung jeritan hatinya menyaksikan penderitaan orang lain.

Amien Rais juga bukan tipe seorang yang ambisius dan haus kekuasaan. Buktinya, ketika sudah terpilih sebagai Ketua MPR RI, tokoh kelahiran Solo, Jawa Tengah, ini menolak untuk dicalonkan menjadi Presiden RI. Amien justru menunjuk Abdurrachman Wahid atau Gus Dur sebagai presiden. Padahal, desakan dan peluangnya untuk jadi presiden lebih besar. Begitupun ketika Amien Rais diminta untuk tetap menjadi Ketua Umum PAN pada Kongres II di Semarang, 2005. Amien memilih lengser dan menyerahkan kepemimpinan PAN kepada tokoh muda, Soetrisno Bachir. Padahal, jika dia mau, Amien bisa terpilih kembali jadi Ketua Umum PAN.

Sosok dan karakter Amien Rais inilah yang menjadi idola dan panutan bagi kader dan simpatisan PAN sampai hari ini. Bagi kader-kader PAN yang baru bergabung belakangan, sosok Amien Rais memang tidak terlalu menjadi panutan. Namun bagi kader-kader PAN yang sejak awal berdiri dan ikut merasakan pahit getirnya membesarkan partai, sosok Amien Rais tidak dapat dipisahkan. Bagi mereka, roh PAN itu ada pada Amien Rais. Mereka tidak dapat membayangkan bagaimana nasib PAN bila Amien Rais meninggalkan PAN atau Amien Rais tidak ada lagi.

Meskipun PAN masih diperhitungkan, namun perkembangan partai ini tidak terlalu menggembirakan. Target dua digit tidak tercapai. Perolehan kursi di DPR RI tidak signifikan. Pada Pemilu 1999, PAN memiliki 34 kursi, dan meningkat menjadi 53 kursi pada Pemilu 2004 ketika dipimpin Amien Rais. Pada Pemilu 2009 saat PAN dipimpin Soetrisno Bachir, kursi PAN turun menjadi 46 kursi. Nah, ketika dipimpin Hatta Rajasa, kursi PAN hanya naik dua kursi menjadi 48 kursi. Padahal, partai yang bertarung di Pemilu 2009 menciut sampai 12 partai.

Karena itu, tantangan PAN ke depan makin berat. Sebagai partai modern, PAN tidak harus tergantung sosok seseorang. Tapi, kenyataan menunjukkan, bahwa besar kecilnya partai di Indonesia masih sangat tergantung kepada sosok pimpinannya. Figur Amien Rais masih melekat di tengah-tengah kader dan simpatisan PAN. Selama ini, apa yang menjadi sikap Amien Rais, selalu diikuti kader dan simpatisan PAN. Seperti yang terjadi di Lubuk Jambi, Kabupaten Kauntan Singingi, Provinsi Riau. ***Fendri Jaswir adalah Wakil Ketua DPW PAN Riau Bidang Infokom Politik PAN Riau.