JAKARTA, GORIAU.COM - Gubernur Bank Indonesia (BI), Agus Martowardojo,  mengungkapkan ekonomi nasional tahun 2015 diperkirakan tumbuh pada kisaran 5,4-5,8 persen. Ini lebih baik dari tingkat pertumbuhan ekonomi tahun lalu.

Namun secara spasial, kata Agus, perlambatan ekonomi terutama terjadi di sejumlah daerah penghasil SDA tambang, antara lain, Provinsi Aceh, Kalimantan Timur, Riau, dan Papua. Sementara itu, kinerja daerah yang mengandalkan sektor manufaktur seperti Jawa dan Jakarta masih tumbuh relatif cukup kuat.

''Pertumbuhan ekonomi tersebut terutama akan ditopang oleh ekspansi investasi pemerintah sejalan dengan peningkatan kapasitas fiskal untuk mendukung kegiatan ekonomi produktif, termasuk pembangunan infrastruktur, sebagaimana APBN 2015 yang telah disetujui DPR," ujarnya, Selasa 17 Februari 2015.

Agus mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan IV tahun 2014 meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya. Meskipun secara keseluruhan perekonomian ekonomi Indonesia 2014 melambat.

"Pertumbuhan ekonomi triwulan IV tahun 2014 sebesar 5,01 persen (yoy) yang meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 4,92 persen (yoy) mengindikasikan bahwa siklus perlambatan ekonomi yang berlangsung sejak beberapa tahun terakhir telah melewati titik terendahnya," tuturnya.

Agus memaparkan, perbaikan pertumbuhan ekonomi tersebut terutama didorong oleh meningkatnya permintaan domestik, khususnya investasi bangunan dan konsumsi pemerintah. Sementara itu, konsumsi rumah tangga masih tetap kuat, meskipun sedikit melambat sejalan dengan kebijakan stabilisasi ekonomi.

Di sisi eksternal, lanjutnya, kinerja ekspor mencatat kontraksi yang cukup dalam, terutama akibat melemahnya permintaan negara berkembang dan menurunnya harga komoditas.

"Meskipun pada triwulan IV-2014 sudah mulai membaik, secara keseluruhan pada 2014 pertumbuhan masih melambat menjadi 5,02 persen, lebih rendah dari tahun sebelumnya, sejalan dengan lemahnya pertumbuhan ekonomi global dan kebijakan stabilisasi makro ekonomi," ujarnya.

Secara spasial, kata Agus, perlambatan ekonomi terutama terjadi di sejumlah daerah penghasil SDA tambang, antara lain, Provinsi Aceh, Kalimantan Timur, Riau, dan Papua. Sementara itu, kinerja daerah yang mengandalkan sektor manufaktur seperti Jawa dan Jakarta masih tumbuh relatif cukup kuat. ***