DERITA petani karet di Pulau Bengkalis tak pernah habis-habisnya. Baru saja, lepas dari musibah kekeringan yang melanda hampir tiga bulan lebih, kini petani harus menghadapi dua cobaan sekaligus, yakni musim hujan dan harga karet yang terus melorot.

Berbicara musim kering yang melanda seluruh wilayah Riau, selain menyebabkan kebakaran hutan dan lahan, sehingga menghasilkan kabut asap yang menyumbat hidung dan merusak paru-paru, juga ada kerugian lain yang harus ditanggung masyarakat. Kalau sudah tiba musim kemarau, pohon-pohon besar seperti halnya karet akan meranggas, daun-daunnya berguguran ke bumi, bisa dikatakan 'musim gugur' ala Indonesia. Musim gugur ini otomatis berdampak pada produksi susu turun (ups jangan pikiran ngeres dulu, susu yang dimaksud adalah susu sadapan karet), tidak hanya turun, bahkan susu sama sekali tidak keluar dari kulit karet.

Musim kemarau ditambah musibah kebakaran lahan dan hutan, mengakibatkan petani karet harus mengambil sikap untuk menggantungkan pisau sadapan atau pisau toreh selama satu bulan lebih. Untuk apa capek-capek pergi menakek, toh susu yang dihasilkan hanya dua atau tiga tetes, bahkan tidak menetes. Daripada buang-buang tenaga, petani istirahat dulu, hitung-hitung cuti tahunan dan karet pun butuh istirahat. Libur menoreh berarti memberikan kesempatan bagi pohon karet untuk recovery dan mengumpulkan sari pati, kelak pas ditoreh akan mengeluarkan susu banyak.

Musim semi tiba (bukan seperti musim semi di Jepang), pucuk daun muda pohon-pohon karet yang sebelumnya meranggas mulai tumbuh. Secercah harapan petani kembali bersinar, dengan tumbuhnya daun muda, sebentar lagi petani pun bisa menoreh getah. Namun apa nak dikata, di kala petani tengah semangat-semangatnya menoreh, mengharapkan tetesan susu getah, tersiar berita harga karet turun sampai ke level Rp5.500. Tentunya berita pahit seputar harga karet ini membuat gairah petani kendur. Petani benar-benar dihadapkan dengan persoalan tak menyenangkan. Di satu sisi, jika terus-terusan libur, berarti mesin uang keluarga tak berjalan, Di sisi lain, tuntutan perut harus segera dipenuhi.

Penderitaan petani karet semakin menusuk, ketika diterpa musim hujan yang turun tidak menentu --malam dan pagi, lagi-lagi petani harus gantung pisau karet, lagi-lagi mesin uang keluarga tak bergerak, lagi-lagi kepala pusing. Lain halnya dengan petani yang punya kebun kelapa, bisa menyabet kelapa kemudian dijual ke penampung. Tapi, bagi petani yang hanya mengandalkan karet, terpaksa harus mengencangkan perut. Kepala semakin pusing, ketika hape berdering dari anaknya yang kuliah di Pekanbaru minta kiriman.

Harga karet yang terus-menerus turun membuat petani semakin terhimpit. Bayangkan saja, saat ini harga kebutuhan pokok meroket. Seperti harga 1 kilo beras kualitas buruk saja mencapai Rp10 ribu, gula Rp11 ribu per kilo dan cabe Rp25 ribu per kilo. Butuh 2 kg hingga 4 kg karet untuk mendapatkan barang-barang tersebut.

Berbagai tuntutan muncul saat itu menambah si petani semakin pusing, dari persoalan anak minta uang jajan, sebentar lagi menghadapi puasa, anak siap-siap minta baju lebaran dan seragam baru (walau waktunya masih lama lagi). Ditambah lagi, isteri malu nak ke kedai karena utang sudah segunung, tapi apa boleh buat satu-satunya solusi terpaksa harus menebalkan muka untuk mengutang di kedai.

Sebelumnya, ketika harga karet bertahan di level Rp10 ribu sebelum turun ke level Rp8 ribu petani masih semangat. Aroma busuk yang menyeruak pada ojol (karet, red) dan menusuk hidung, seakan tertutupi oleh harga yang lumayan, bahkan aroma busuknya itu sangat mempesona. Tapi kini, pesona aroma busuk ojol itu mulai memudar seiring lesunya harga karet.

Seorang wanita petani karet, berkeluh kesah, "Ngopo to Mas, ojol harga ne kok turun. Padahal, pemilu wes siap, pak dewan wes tak dipilih. Tapi ojol kok malah ora munggah. Endi janjinya arep sejahtera ne warga,". (Ngapa mas, harga karet kok turun. Padahal pemilu sudah selesai, pak dewan sudah dipilih. Tapi harga karet tak naik. Mana janjinya untuk mensejahterakan warga).

Ternyata, turunnya harga karet membuat petani marah kepada pemerintah yang dinilai tidak mampu mengontrol harga karet. Bahkan petani mulai mengaitkan dengan janji-janji manis para Caleg yang dipilih pada 9 April lalu. Maklum saja bila petani menuntut Caleg, sebab saat kampanye kemarin, para Caleg mengeluarkan berbagai jurus jargon rayuan, "Berjuang untuk rakyat. Membangun bersama rakyat. Siapa menanam, pasti menuai. Mensejahterakan masyarakat dan lain-lain".

Sebenarnya petani sudah tahu persis dengan janji-janji para Caleg saat kampanye, yakni janji tinggal janji. Tapi sekedar melampiaskan rasa kesal, petani menuntut para Caleg terpilih dan anggota legislatif yang masih menyisakan masa jabatan untuk bertindak cepat mengatasi persoalan ekonomi.

Sebenarnya, masalah harga karet berkaitan erat dengan hukum pasar. Semakin banyak permintaan maka harga produk (komoditi) akan ikut naik, tapi jika permintaan lesu maka harga komoditi juga turun. Bisa jadi, turunnya harga karet berkaitan dengan krisis rebutan pulau antara China versus Korea, China versus Jepang, China versus Filipina dan perkembangan teranyar antara konflik Rusia dengan USA dan negara-negara Barat soal Ukraina.

Petani hanya bisa berharap getahnya laku di pasaran, harga getah bisa kembali naik ke level Rp8 ribu/kg dan terus merambat ke level Rp10 ribu/kg. Semoga aroma busuk ojol kembali mempesona.***

Penulis adalah staf Humas Setda Bengkalis