PEMILIHAN Gubenur Riau (Riau-1) tahun 2018 sudah di depan mata. Saat ini mulai bermunculan nama-nama calon yang digadang-gadangkan untuk berkontestasi di atas panggung Pilgubri menuju Riau-1. Bahkan calon yang akan diusung oleh tim masing-masing sudah mulai disosialisasikan ditengah-tengah masyarakat. Paling tidak ada beberapa nama yang mulai santer dibicarakan, baik oleh partai politik maupun masyarakat luas : Arsyadjuliandi Rachman (gubernur sekarang), Firdaus ST MT, HM Harris, Syamsuar, Achmad, Indra M Adnan, Lukman Eddy, Septina Primawati dan Instiawati Ayus.

Tidak berhenti sampai di situ, bursa calon Riau-1 yang akan maju dalam perhelatan politik lokal melalui Pilgubri 2018 terus bergulir, sebagaimana berita anyar dengan dimunculkannya nama Bupati Kepulauan Meranti, Irwan Nasir yang sekaligus ketua DPW PAN Riau, juga didorong untuk berkontestasi menuju Riau-1, sebagaimana ungkapan Rianto, Ketua Komisi III DPRD Bengkalis yang dilansir oleh beberapa media lokal : ''Saatnya yang muda memimpin Riau. Saya meyakini sosok ketua DPW PAN Riau ini mampu menerima amanah sebagai Gubernur Riau kedepan''.

Dikotomi Tua dan Muda

Pada prinsipnya, saya juga sepakat dengan pendapat yang mengatakan, bahwa berbicara mengenai kepemimpinan sesungguhnya persoalan intinya tidak terletak pada tingkat usia tua ataupun muda, tetapi faktor krusialitasnya terletak pada kompetensi yang dimiliki seseorang. Apalagi yang dipahami sebagai pemimpin tua ataupun muda itu parameter yang digunakan sebenarnya masih menjadi perdebatan: Dipahami sebagai semangatnya-kah atau usianya? Terlepas dari itu, yang jelas dalam konteks ini, tentu saja ruang-peluang untuk menjadi pemimpin harus terbuka bagi siapa saja dan bagi semua golongan yang tentunya memenuhi kualifikasi kecakapan serta memiliki kemampuan tanpa mempersoalkan dan tanpa ''direweli'' oleh dikotomi tua ataupun muda.

Keteladanan Kaum Muda

Namun apapun itu dan terlepas dari dikotomi di atas yang jelas harus diakui, memang tidak sedikit orang yang berasumsi bahwa pemimpin muda dianggap tidak dapat memimpin dengan baik : Masih memiliki jiwa arogan yang sangat tinggi, ''mentang-mentang'', egois dan pengalaman yang minim sehingga dikhawatirkan akan banyak menemui kendala karena kurang memiliki kematangan dan pengalaman sebagai pemimpin. Namun bila kita coba berfikir secara objektif, asumsi demikian sebenarnya tidak dapat dijadikan patokan indikator penilaian yang 100% benar : Seorang pemimpin muda belum tentu, tidak punya potensi untuk memimpin dengan baik.

Sebab, dalam konteks sejarah perpolitikan kontemporer di negeri ini, kita harus mengakui dengan jujur bahwa kaum muda memiliki peran menentukan dalam setiap moment-moment krusial menuju perubahan kearah yang lebih baik. Ini menunjukkan dengan jelas, bahwa kaum muda identik dengan spirit perubahan kearah yang lebih baik yang termanifestasikan dengan jujur dalam mengakselerasikan terwujudnya perubahan.

Betapa tidak, berbekal spirit perubahan yang dimilikinya, kaum muda telah tercatat dalam lembaran sejarah sebagai komunitas yang berada di garda terdepan dalam menggelegarkan panggung perpolitikan Indonesia. Faktanya, disana ada Jenderal Sudirman yang diangkat menjadi Panglima Tentara Keamanan Rakyat saat berusia 31 tahun. Ada Sutan Sjahrir, PM pertama RI waktu itu masih berumur 36 tahun. Ada Mohammad Natsir menjadi PM pada usia 42 tahun, Burhanudin Harahap menjadi PM pada usia 32 tahun. Ada Soekarno, presiden pertama RI saat itu baru berumur 44 tahun dan Hatta menjadi wakil presiden saat berumur 43 tahun. Dalam konteks ini rasanya kita semua sepakat, bahwa para tokoh-tokoh yang disebutkan di atas telah memberikan perubahan yang signifikan bagi bangsa Indonesia meski berusia muda.

Bahkan dalam sejarah perpolitikan Islam, Nabi Muhammad sendiri pun pernah mengambil keputusan kontroversial dengan mengangkat Usamah bin Zaid yang masih berusia 18 tahun menjadi panglima perang dalam memimpin puluhan ribu tentara dan hasilnya, pulang dengan gemilang kemenangan dalam menaklukan Romawi. Bahkan dari Hongkong, ada Joshua Wong, tokoh sentral oposisi Revolusi Payung di Hongkong, masih berusia 19 tahun, namun berhasil menggerakkan jutaan pelajar dan mahasiswa dalam mendorong agar Hongkong terlepas dari Beijing.

Dus, aktivitas politik kaum muda yang diidentikkan sebagai pendobrak dan penerobos kebekuan konstelasi perpolitikan nasional maupun tingkat lokal, di pandang cukup untuk membuka ruang mengundang simpati dan dukungan dari rakyat. Betapa tidak, aktivitas politik kaum muda dengan disiplin keilmuan yang dimilikinya, tak sekedar hanya bertengger di pola pikirnya saja dengan arogansi keilmuan yang dimilikinya. Tapi, aktivitas politik kaum muda kerap berkorelasi dan memiliki jejak kerakyatan dalam memecahkan aneka problematika sosial-kemasyarakatan yang terjadi.

Mengapa? Karena ide-gagasan dan pemikiran kaum muda menyangkut kehidupan sosial kemasyarakatan diyakini masih segar dan mengandung kebaruan untuk kemajuan : Progresif. Dalam konteks ini, di sepakati atau tidak, nilai lebih kepemimpinan kaum muda adalah lebih tulus, jernih dan memiliki kemenyatuan dengan kehidupan rakyat. Kendati demikian, memang betul ada juga beberapa kaum muda yang mengorientasikan aktivitas politiknya untuk sekedar memetik keuntungan : Sebuah riba politik! Namun dalam pandangan subjektif Saya hal demikian terjadi hanya kasus per kasus saja sifatnya.

Kepemimpinan Kaum Muda dalam Perspektif MSDM

Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM) merupakan suatu proses yang terdiri atas perencanaan, pengorganisasian, pemimpin dan pengendalian yang berkaitan dengan analisis pekerjaan, evaluasi, pengembangan, kompensasi, promosi, dan pemutusan hubungan kerja guna mencapai tujuan yang ditetapkan (Panggabean, 2007:15). Dalam konteks ini, tentu saja bicara soal kepemimpinan tidak sesederhana seperti kita memperdebatkan dikotomi antara tua dan muda yang sebenarnya hanya terletak pada persoalan siapa yang duluan lahir dan siapa yang duluan hidup : Sederhana! Karena berdasarkan pengertian MSDM di atas tentu di perlukan seorang pemimpin yang kaya akan ide-gagasan dengan pola pikir yang cerdas, visoner dan segar yang dibarengi dengan niat yang tulus, berani mengambil keputusan (tidak ragu-ragu) serta lebih bisa diajak berkomunikasi, tidak melulu minta di dengar dan bisa menerima aneka ide gagasan pembaruan dengan irama kerja yang cepat dan tentu pula tidak anti kritik. Ini tentu sangat penting, apalagi di era demokratisasi dan transparansi dewasa ini, masyarakat semakin kritis, tidak sabar dan selalu tampil aktif-artikulatif dalam mendorong dan memantau jalannya roda pemerintahan, sehingga pemimpin yang hanya sibuk memikirkan dan membutuhkan pengakuan serta melulu minta di hormati model gaya pejabat zaman Orde Baru dulu sudah tidak mendapatkan tempat lagi di era Indonesia kontemporer sekarang ini.

Dalam konteks ini, harus objektif kita menilai, bahwa MSDM lebih membutuhkan pemimpin yang muda yang karena kecakapannya dalam melihat masalah akan lebih baik dari pada pemimpin tua. Karena seiring dengan perkembangan kejiwaanya, pemimpin tua relatif lebih mudah tersinggung sehingga sulit untuk menerima kritikan. Bahkan pemimpin tua secara psikologis lebih membutuhkan pengakuan, penghormatan, lebih ingin didengar dan jarang mau mendengar karena kerap merasa sudah ''kenyang asam garam'' kehidupan.

Sementara itu, pemimpin muda lebih banyak menyiapkan strategi karena kaya akan ide-gagasan segar termasuk menjalin komunikasi dan aneka kritikan di pandang sebagai saran konstruktif dalam membentuk, membangun serta memberdayakan Sumber Daya Masyarakat melalui MSDM. Sejarah perpolitikan kontemporer Indonesia telah membuktikannya!.

Penutup

Tak pelak lagi, dengan dimunculkannya nama Irwan Nasir sebagai salah satu calon dalam panggung Pilgubri menuju Riau-1, seolah-olah ingin menegaskan bahwa Indonesia, khususnya Riau sudah semestinya dipimpin oleh pemimpin yang enerjik, segar, kaya akan ide gagasan pembaruan dan memiliki visi progresif yang diwakili oleh kaum muda. Apalagi dalam konteks membangun Riau yang adil dan bijaksana, transparan, membangun pendidikan, ekonomi, sarana dan prasarana, tata kelola pemerintahan yang baik maupun membangun SDM Riau serta SDA di berbagai sektor yang sudah selayaknya dinikmati masyarakat Riau, agar kita di Riau ini tidak seperti ''ayam mati di lumbung padi''.

Oleh karenanya, memahami paparan di atas, Riau khususnya dan Indoneisa pada umumnya, sangat membutuhkan pemimpin muda, karena lebih visioner dan progresif. Keyakinan ini seakan-akan diamini oleh masyarakat luas dengan hadirnya kepemimpinan kaum muda dari hasil Pemilukada secara langsung di berbagai daerah di Indonesia. Betapa tidak, Di NTB ada Gubernur M. Zainul Majdi yang saat dilantik pada tahun 2008, usianya masih 36 tahun dan kini terpilih lagi untuk periode 2013-2018. Kalau di NTB ada Zainul Majdi, di Lampung ada Gubernur Muhammad Ridho Ficardo yang saat menjadi Gubernur usianya baru 33 tahun dan di Jambi ada Zumi Zola Zulkifli (35 tahun). Pertanyaannya adalah, bagaimana dengan Riau? Maka, sudah saatnya yang muda memimpin Riau. Siapa takut?!

* Agusyanto Bakar, SSos.,MSi, Berdomisili di Kabupaten Kepulauan Meranti