LONDON, GORIAU.COM - ''Apalah arti sebuah nama''. Itu kalimat terkenal dalam naskah drama klasik Romeo Juliet karya William Shakespeare. Namun Colette Mackintosh, wanita asal London ini, kini baru menyadari sebuah nama ternyata sangat berarti.

Sebab, gara-gara nama, ia nyaris terjerat kasus hukum. Begini ceritanya, suatu hari, Colette baru saja bepergian dari Majorca, Spanyol bersama ayahnya yang berusia 82 tahun, anak tirinya Isabella Mackintosh (16), putra dan putri kandungnya --Harry Scott (14) dan Anastasia Scott (12).

Mereka yang baru melakukan perjalanan panjang, mendarat di Bandara Gatwick, London, Inggris, dan mengikuti proses pemeriksaan penumpang pesawat. Ternyata, nama belakang Colette yang berbeda dengan dua anak kandungnya menerbitkan kecurigaan pihak imigrasi bandara. Ia bahkan dituduh sebagai penculik.

''Penerbangan kami dari Spanyol ditunda cukup lama, saat kami tiba di London sudah larut malam. Itu cukup melelahkan bagiku, dan ingin cepat sampai di rumah. Tetapi malah kami dicegat oleh petugas imigrasi, dan dia membawa anakku Harry untuk diinterogasi,'' ujar Colette seperti dimuat Daily Mail, 29 Juli 2013.

Tentu saja, saat dikonfirmasi apakah Colette adalah ibunya, Harry menjawab ''ya''.

Meski anaknya berusaha meyakinkan petugas, Colette dan keluarganya belum bisa bebas sebelum ada bukti jelas. Terpaksa Colette meminta asisten pribadinya di rumahnya untuk membawa surat nikah serta surat dari mantan suaminya ke bandara.

Dengan surat-surat itu, barulah jelaslah duduk perkaranya. Perempuan 45 tahun itu sebelumnya memakai nama belakang suami pertamanya 'Scott' --sama dengan nama belakang dua anak kandungnya.

Namun, setelah bercerai pada 2004 kemudian menikah lagi dengan pria lain pada 2012 lalu, Colette memutuskan untuk mengikuti nama suami barunya 'Mackintosh'. Dan berkat surat itu Colette pun bebas.

Meski demikian Colette masih tetap jengkel. ''Bayangkan, Anda terjebak di situasi itu, ditonton oleh ratusan orang yang mengantre di belakang Anda. Kami terjebak selama 20 menit. Ironisnya, anak tiriku yang memiliki nama sama denganku sama sekali tak dicurigai. Padahal, dia sama sekali tak mirip denganku,'' kata dia.

''Jelas dia bukan anak kandungku, rambutnya keriting dan pirang. Wajahnya juga tak begitu mirip denganku. Malah anak-anakku yang mirip denganku --tapi punya nama berbeda-- diinterogasi oleh petugas.''

Colette tak menyangka, perubahan namanya berdampak besar bagi hubungannya dan anak-anak kandungnya. Bahkan, ia tak bisa menahan diri untuk bertanya kepada petugas imigrasi, ''Apakah aku harus melalui proses ini setiap kali berpergian dengan pesawat bersama anak-anakku sendiri?''

Dan jawab petugas itu, ''Ya, setiap kali melakukan perjalanan, Anda harus membawa surat nikah, juga surat dari ayah mereka. Barulah kami bisa mempersilakan Anda melewati perbatasan negara dengan anak-anak Anda.''

Kejadian itu jelas menjadi pelajaran yang berharga bagi Colette. Kini ia akan selalu membawa salinan surat nikahnya dan surat dari suaminya yang diselipkan di paspornya.

Mencegah Trafficking

Menurut kantor imigrasi setempat, jika ada wisatawan yang memiliki nama belakang berbeda dengan anak-anaknya, mereka harus membawa bukti bahwa hubungan mereka memang orangtua dan anak.

Juru bicara Departemen Imigrasi dan Keamanan Inggris, The Home Office, ikut angkat bicara mengenai hal itu.

''Persyaratan itu kami diterapkan untuk melindungi anak-anak dan mendeteksi kemungkinan kasus trafficking atau perdagangan manusia. Namun, kami selalu berusaha pemeriksaan itu tak menghambat atau menunda perjalanan,'' katanya.

Selain penyerahan surat, pilihan lain yang bisa dilakukan oleh para orangtua yang memiliki nama belakang berbeda dengan anaknya adalah membuat paspor dengan data nama orangtua mereka.***