
Oleh Fakhrurrazi *
Aceh identik sebutannya dengan Serambi Mekkah, dengan beragam argumen yang diutarakan, bagaimana tidak jika kita lacak peradaban intelektualitas manusia di Aceh. Aceh adalah wilayah pertama yang menjadi pusat perkembangan tradisi intelektualitas Islam. Di Aceh pula wacana intelektual Islam di Nusantara mulai menemukan bentuknya, dengan munculnya ulama yang produktif menghasilkan karya-karya mereka seperti Hamzah Al Fansuri, Syamsuddin As Sumatrani, Nuruddin Ar Raniry dan Abdurrauf As Singkili.
Sejarah Intelektualitas Islam di Aceh sebenarnya sangat lengkap begitulah disebut dalam sebuah buku yang fonomenal “Indonesia dalam arus Sejarah; Kedatangan dan peradaban Islam”. Para Ulama yang menyebarkan ilmunya sangat tangguh, memiliki kapabilitas dan intelektualitas yang tinggi seperti yang kita kenal lewat buku-buku sejarah dewasa ini.
Menurut Prof. Dr. Azymardi Azra, pada abad XVII kita mengenal dua fase intelektualitas, fase pertama adalah Hamzah Fansuri dan Syamsuddin As- Sumatrani dengan corak wahdatul wujud yang kental, terlepas dari soal setuju atau tidak dengan pemikiran mereka, berbagai kajian tentang pemikiran dua ulama ini sepakat menyimpulkan kebesaran mereka. Meskipun Hamzah Fansuri, khususnya sangat dipengaruhi pemikirannya ibnu Arabi seperti disimpulkan Naquib Al-Attas (1970).
Fase kedua intelektualitas Aceh pada abad XVII ini diwakili oleh tokoh-tokoh ulama pemikir yang merupakan sufi dan ahli fikih sekaligus, seperti Nuruddin Ar-Raniry dan Abdurrauf As-Singkili. Ar-Raniry selain menghasilkan banyak karya dalam bidang ilmu tasawuf, juga menulis karya monumental fikih Ibadah pertama dalam bahasa melayu, yaitu As-Sirathal Mustaqim.
Sementara Syekh Abdurrauf As-singkili menghasilkan kitab Fiqih Muamalah pertama dalam bahasa melayu yaitu Mir’at at-Thullab dan tafsir tiga puluh juz pertama dalam bahasa melayu Turjuman al-Mustafid. Karya-karya mereka beredar dalam jangka waktu yang sangat lama sehingga memiliki pengaruh besar dalam pembentukan tradisi intelektual-sosial Islam di Aceh.
Penting dikemukakan bahwa, Syekh Abdurrauf as Singkili juga menghasilkan karya-karya sufistik, salah satunya adalah Daqa’iq al-Huruf yang merupakan penjelasan sufistik tentang simbolisme huruf dan angka.
Menurut Ann Marie Schimmel seorang sarjana terkemuka dalam kajian Sufisme, Syekh Abdurrauf As Singkili telah berhasil menyajikan eksposisi dan eksplanasi sufisme secara brilian, jenius dan autentik. Selain itu, sebagai wujud dari kapasitasnya dalam penguasaan bahasa arab, Abdurrauf As singkili juga menulis sebuah karya berbahasa Arab berjudul Tanbih al Mansyi al Mansub ila Thariq al Qusyasyi.
Berdasarkan kajian yang dilakukan oleh Fathurrahman (1991), kitab ini merupakan rujukan penting di dunia melayu dan Islam Asia Tenggara, sejauh menyangkut reinterpretasi doktrin wahdatul wujud. Seperti kita ketahui, doktrin ini telah menyebar luas di aceh sehingga menimbulkan perdebatan sengit antara Nuruddin Ar-Raniry dan para pengikut Hamzah Fansuri dan Syamsuddin As sumatrani. Melalui Tanbih al Masyi inilah, Abdurrauf As Singkili mencoba berdiri ditengah-tengah untuk meredakan konflik intelektual tersebut.
Berdasarkan sejarah perkembangan ilmu pengetahuan di atas hari ini Aceh terus berbenah diri dan melihat sejarah sebagai motivasi untuk terus melangkah ke arah yang lebih baik dan berkemajuan. Hal ini terbukti dengan semakin banyaknya dayah-dayah (pesantren) yang ditinggalkan oleh ulama terdahulu tersebut, di setiap tempat dan pelosok daerah Aceh ada lembaga-lembaga pendidikan, begitu juga dengan perkembangan perguruan tinggi yang semakin hari jumlahnya makin bertambah dan tentunya melahirkan sekaligus mencetak intelektual (cendikia) yang siap memberi kontribusi kepada masyarakat dan bangsa. Dapat dikatakan pengaruh yang sangat kuat dalam sosio-cultural masyarakat Aceh adalah pesantren (dayah) dan perguruan tinggi.
Cuplikan sejarah ketinggian ilmu para ulama Aceh (masa kesultanan) secara implisit menjadi indikator adanya lembaga pendidikan atau perguruan tinggi Islam yang sangat megah hingga terdengar keluar negeri, dan ketika itu pelajar lintas negara pun berdatangan, menimba ilmu pada guru besar atau ulama Aceh.
Hal serupa juga bisa kita lihat sekarang ini sepeti misalnya kampus Universitas Syiah kuala dan UIN Ar-Raniry dan kampus lain di Aceh yang telah terdengar gaungnya ke negara-negara lain dan banyak pelajar asing yang menimba ilmu pada perguruan tinggi tersebut begitu juga dayah/pesantren seperti Dayah Darussalam Labuhan Haji Aceh Selatan, MUDI Samalanga, Dayah Selimum Aceh Besar, Dayah Tanoh Mirah Bireuen, Dayah Abu Tumin Blang Blahdeh Bireuen, Dayah Babussalam Matangkuli Aceh Utara, Dayah Lhok Nibong dan masih banyak lagi lembaga pendidikan Islam yang memiliki ribuan murid baik dalam maupun luar negeri
Berangkat dari perkembangan ilmu di atas, perkembangan zaman juga menuntut kita untuk harus menelaah ilmu lebih mendalam dan komperhensif sehingga kita bisa menjawab dan mengatasi tantangan zaman, apalagi dewasa ini dihadapkan dengan era globalisasi dan MEA dan semakin komplet dengan beredarnya teori Huntington “konflik peradaban Islam dan barat”.
Dalam menghadapi era ini perlunya melihat kembali ilmu yang sudah diklasifikasi oleh Imam Ghazali yaitu Ilmu yang sifatnya fardhu ain (kewajiban personal) dan Ilmu yang sifatnya kifayah (kawajiban kolektif) disinilah letak peran “pendidikan integratif” atau yang biasa dikenal integrasi ilmu agama dan sains, Islam tidak memisahkan keduanya. Menjadikan agama sebagai dasar fundametal dari ilmu pengetahuan.
Hal ini sebenarnya sudah dipraktekkan oleh Sultan Iskandar Muda yang juga lulusan dari dayah/pesantren, dayah pada masa lalu telah sukses mengintegrasikan pendidikan umum dan pendidikan agama, salah satunya adalah out put dayah/pesantren bukan hanya ulama saja tapi juga mampu menjadi seorang politikus atau negarawan yang berpengaruh. Ini semua menunjukkan bahwa pendidikan dayah saat itu tidak dikotomi.
Prof. Hasbi Amiruddin di mana juga berpendapat bahwa Aceh ketika itu sampai menjadi pusat perhatian umat Islam di Asia Tenggara. Artinya jika persoalan Islam diperselisihkan di negaranya mereka bersepakat merujuk ke Aceh untuk mendapatkan jawaban. Untuk itu, pendidikan yang bersinergi bisa mencetak negarawan dan saintis islami secara bersamaan, dengan selalu mengagungkan dan membesarkan asma Allah “Laa Ila Ha Illa Allah” lewat penelitian-penelitian ilmiah dan kebijakan/perbuatan mereka masing-masing, sehingga merasakan setiap gerak langkah dan ciptaan lainnya adalah milik Rabbul Izzati, memuji Allah.
Dalam era ini maka para pemburu ilmu (santri/pelajar) juga harus cerdas dan peka dengan ilmu yang harus dipelajari dan dikaji agar bisa banyak manfaat untuk bangsa dan akhirat. Sekali lagi menurut Dr. Ahmad Barizi, langkah yang paling stategis dilakukan oleh para pencari ilmu sebagai cendikiawan muslim adalah dengan mengintegrasikan pendidikan dayah/pesantren (agama) dengan perguruan tinggi (umum) dilandasi bertafaqquh (mendalami dan mengkaji) juga dalam lingkup falsafah (kaidah) yang selalu diajari oleh guru kita “Muhafazhatu ‘ala Qadimi shalihu wal Akhzu ‘alal jadidil ashlah (memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik)” sebab inti dari mempelajari ilmu adalah semakin takutnya kita kepada ilahi. Apakah melalui ayat-ayat Qauliyah ataupun dengan mempelajari ayat Qauniyah (alam) yang telah diciptakan ini.
Imam Suprayogo (mantan Rektor UIN Maliki Malang) pernah berkata; Ilmu pesantren (agama) dan ilmu di perguruan tinggi (umum) seperti dua mata uang yang tidak bisa dipisahkan, sama visi-misinya yaitu menjadikan manusia berintelektual yang ulama dan ulama yang berintelektual (bermoral, aman sentosa) sehingga harus ada dayah/ pesantren yang mencetak ulama yang Ilmuwan yang bisa mengintegrasikan kedua ilmu tersebut begitu juga sebaliknya harus ada perguruan tinggi yang bisa mengkaderkan ilmuwan yang ulama.
Akhir kalam “menjadikan intelektual yang ulama dan ulama yang berintelektual” dijadikan sebagai motto perguruan tinggi Islam Indonesia baik negeri maupun swasta. Dan dengan penuh harapan, lembaga pendidikan yang mengintegrasikan pendidikan agama dengan sains dalam cakrawala berpikir luas akan melahirkan tokoh-tokoh yang peduli dan cinta kepada masyarakat dan tanah air seperti, Prof. Mahfudh MD (mantan Ketua MK), Dr. KH. TGH. Muhammad Zainul Majdi (Gubernur Nusa Tenggara Barat) Prof. KH. Yudian Wahyudi Ph.D (Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta).
Marilah, wahai santri/pelajar di hari ini 22 Oktober 2016 kita jadikan momen (Hari Santri Nasional) ini sebagai ajang “kebangkitan Ilmu pengetahuan Islam” demi kejayaan Islam di waktu mendatang dan seperti pungkasan cerita di atas, banyak ulama kita yang telah menghasilkan karya-karya besar pada zamannya masing-masing sehingga memberikan andil bagi perkembangan ilmu pengetahuan sampai sekarang ini. Mudah-mudahan jejak para ulama (cendikiawan) bisa terwarisi kepada kita semua dengan perjuangan dan do’a. Amin.
* Penulis: Mahasiswa pascasarjana Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta Jawa Tengah dan merupakan alumnus Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry, Banda Aceh.