
ETIMOLOGI
Melayu (ملايو) merujuk kepada mereka yang bertutur bahasa Melayu (بهاس ملايو) dan mengamalkan adat resam orang Melayu. Perkataan Melayu mungkin berasal dari pada nama sebuah anak sungai yang bernama Sungai Melayu di Hulu Sungai Batang Hari, Sumatera. Di sana letaknya "Kerajaan Melayu" sekitar 1500 tahun dahulu sebelum atau semasa adanya Kerajaan Srivijaya.Sehubungan itu, dari segi etimologi, perkataan "Melayu" itu dikatakan berasal daripada perkataan Sanskrit "Malaya" yang bermaksud "bukit" ataupun tanah tinggi. Ada juga sumber sejarah yang mengatakan bahawa perkataan "Melayu" berasal dari "Sungai Melayu" di Jambi.
Istilah "Melayu" ditakrifkan oleh UNESCO pada tahun 1972 sebagai suku bangsa Melayu di Pesisir Timur Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Semenanjung Malaysia, Thailand, Indonesia, Filipina, dan Madagaskar. Bagaimanapun menurut Perlembagaan, istilah "Melayu" hanya merujuk kepada seseorang yang berketurunan Melayu yang menganut agama Islam. Dengan kata yang lain, bukan semua orang yang berketurunan dari pada nenek moyang Melayu adalah orang Melayu. Istilah "Melayu" untuk merujuk kepada nama bangsa atau bahasa adalah suatu perkembangan yang agak baru dari segi sejarah, yaitu setelah adanya Kesultanan Melayu Melaka. Walaupun demikian, tidaklah sehingga abad ke-17 bahwa istilah "Melayu" yang merujuk kepada bangsa semakin digunakan secara meluas. Sebelum itu, istilah "Melayu" hanya merujuk kepada keturunan raja Melayu dari Sumatera saja.
Penggunaan istilah "Melayu" muncul buat pertama pada kira-kira 100-150 Masihi dalam karya Ptolemy, Geographike Sintaxis, yang menggunakan istilah "maleu-kolon". G. E. Gerini menganggap istilah itu berasal daripada perkataan Sanskrit, yaitu malayakom atau malaikurram, yang merujuk kepada Tanjung Kuantan di Semenanjung Malaysia. Sebaliknya, Roland Bradell menganggap tempat itu merujuk kepada Tanjung Penyabung.
Istilah Malaya dvipa muncul dalam kitab Purana, sebuah kitab Hindu purba, yang ditulis sebelum zaman Gautama Buddha sehingga 500 Masihi. Dvipa bermaksud "tanah yang dikelilingi air" dan berdasarkan maklumat-maklumat yang lain dalam kitab itu, para pengkaji beranggapan bahwa Malaya dvipa ialah Pulau Sumatera.Istilah "Mo-lo-yu" juga dicatat dalam buku catatan perjalanan pengembara Cina pada sekitar tahun 644-645 Masihi semasa zaman Dinasti Tang. Para pengkaji bersependapat bahawa perkataan "Mo-lo-yo" yang dimaksudkan itu ialah kerajaan yang terletak di Jambi di Pulau Sumatera, serta juga Sriwijaya yang terletak di daerah Palembang.
Konon Melayu diambil dari nama sebuah kerajaan tertua di Sumatera yang disebut Kerajaan Melayu, dimana kerajaan itu terletak ditepi Sungai Batanghari (sekarang masuk Propinsi Jambi). Lalu diperkuat dengan adanya prasasti Kedukan Bukit yang berasal dari Bukit Siguntang, Palembang. Prasasti yang diperkirakan merupakan catatan tertua tentang bahasa Melayu. Para petualang Cina juga menuliskan kata Mo-lo-yeu. Bahasa Melayu Kuno juga tumbuh subur di Kerajaan Sriwijaya yang menyebar hingga selatan Thailand dan Filipina, dan karena perdagangan serta perniagaan, bahasa Melayu mencapai bumi Papua. Ini dibuktikan bahwa sejak lama masyarakat Maluku dan Papua sudah mengenal bahasa Melayu sejak ratusan tahun silam.
Jadi dapat kita simpulkan Arti atau pengertian "Melayu" adalah suatu ras yang punya salah satu ciri fisik yaitu berkulit sawo matang. Ada pendapat yang mengatakan, bahwa ras Melayu merupakan hasil pencampuran antara ras Mongolia yang berkulit kuning, Dravisa yang berkulit hitam, dan Arian yang berkulit putih. Dalam pengertian ini, semua orang yang berkulit coklat (sawo matang) di seluruh nusantara digolongkan sebagai ras Melayu. Dengan demikian masyarakat Indonesia yang sebagian besar berkulit sawo matang termasuk kelompok ras Melayu. Mereka tersebar di pulau-pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Nusa Tenggara. Oleh karena itu sering terdengar sebutan-sebutan Melayu Aceh, Melayu Riau, Melayu Batak, Melayu Bugis, Melayu Dayak, Melayu Ambon, dan sebagainya.
Asal Usul Orang Melayu
Penakrifan orang Melayu merupakan satu pekerjaan yang sukar. Sekiranya menurut penakrifan orang Melayu sebagai orang yang bertutur dalam Bahasa Melayu, penakrifan ini merangkumi kebanyakan orang di Malaysia, Indonesia, dan sebahagian dari negeri Thai dan Filipina. Tetapi, di Indonesia moden, orang Melayu ditakrifkan hanya sebagai salah satu daripada beratus-ratus kaum/suku di negara itu.
Orang melayu dapat dipahami sebagai masyarakat yang mendiami pesisir Timur Sumatra. Orang-orang melayu yang mendiami pantai Timur Sumatra menurut dugaan ahli arkeologi dan ahli sejarah termasuk kelompok Deutro-Melyu yang datang ke Riau sekitar abad ke tiga dan ke empat sebelum Masuhi sedangkan kelopok Proto Melayu datang lebih Kurang pada 2500 tahun sebelum masehi.
Orang-orang melayu berabad-abad telah bermukim di pesisir Sumatra bagian tengah dengan memeluk kepercayaan nenek moyang secara turun temurun yakni kepercayaan animisme dan dinamisme dan terdapat sebagaian yang memeluk Agama Hindu Akan tetapi setelah Islam datang, maka orang-orang Melayu terpengaruh dengan Islam, sehingga orang-orang Melayu banyak memeluk Islam. Setelah orang Melayu dipengaruhi oleh Islam, maka pandangan oran-orang Melayu dipengaruhi oleh sistem nilai dan budaya Islam.Sistem nilai dan budaya Islam telah mempengaruhi pandangan hidup orang Melayu yang bermukim di pesisr pantai Timur dan sebagian tengah Sumatra, termasuk yang bermukim di Kabupaten Kabupaten. Atas dasar ini timbul suatu statmen "Melayu Identik dengan Islam", hal ini merupakan suatu proses enkulturasi. Dimana institusi kemaharajaan Melayu-Islam memegamg peranan yang teramat penting dalam proses enkulturasi yang sedang terjadi di dalam kehidupan orang Melayu pesisir pantai Timur dan tengah pulau Sumatra. Institusi kemaharajaan Melayu yang meletakkan konstruksi dan sistem nilai Islam telah mampu mengikis sistem Melayu lama yang merupakan keyakinan animisme, dinamisme dan animisme-Hindusme ke dalam sistem nilai Melayu yang dipengaruhi oleh nilai-nilai dan budaya Islam.
Orang-orang Melayu telah mampu meletakan Islam di atas tradisi dan adat, ini memberikan gambaran struktur kehidupan orang Melayu telah berubah dari tradisi melayu lama kepada melayu bertradisi Islam. Dalan situsi demikian para Ulama mempunyai kedudukan lebih tinggi dari kedudukan raja, pemerintah dan pemuka adat, dukun dan pemuka adat. Para Ulama dalam sejarah kejayaan Melayu telah mampu memainkan peranannya sebagai pembuat kebijakan,hukum, ekonomi, budaya dan seni, sehingga seluruh kehidupan orang Melayu selalu berpegang kepada syari'at Islam.
Bahkan yang unik lagi, sebagian besar orang Madagaskar (pulau besar dilepas pantai Afrika) berciri fisik serupa dengan orang-orang Indonesia, ditilik dari bentuk wajah, rambut lurus, kulit kuning hingga sawo matang. Serta mempunyai bahasa yang mirip dengan Dayak Maanyan di pedalaman Kalimantan. Sedangkan masyarakat Nusa Tenggara Timur dan Maluku merupakan percampuran antara ras Melayu dengan ras Melanesia. Filipinapun juga bisa dibilang ras Melayu.
Sebenarnya siapa yang disebut Melayu? Mungkin pertanyaan ini membingungkan sekaligus menimbulkan pemahaman yang berbeda dalam setiap negara. Dalam pemahaman Malaysia, Singapura dan Brunei mungkin, yang disebut Melayu adalah orang yang berbahasa, berbudaya Melayu dan beragama Islam. Sedangkan suku-suku Bidayuh, Murut, Kadazan dll disebut sebagai Bumiputera juga. Disana juga pendatang-pendatang asal Jawa, Minangkabau, Bugis, Banjar, Buton, Madura dan Bawean (yang disana disebut Boyan) yang berasimilasi dengan Melayu juga disebut sebagai Melayu dan pada akhirnya anak cucunya menjadi Melayu betulan. Meski sebagian masih menerapkan beberapa adat istiadat leluhurnya.
Bagaimana dengan di Indonesia sendiri? Mungkin agak rancu, karena sebagian besar orang Indonesia tergolong ras Melayu. Menurut pemahaman yang saya ketahui, seperti kasus di pulau Kalimantan yang disebut Melayu ada dua kelompok, yakni :
1. Pendatang Melayu asal Sumatera, Kepulauan Riau dan Semenanjung yang bermukim dipesisir barat Kalimantan, dan2. Penduduk asli (Dayak) yang menganut agama Islam, dan berpindah ke tepi-tepi sungai serta menganggap dirinya sebagai Melayu. Meskipun pada masa sekarang ini, orang Dayak yang masuk Islam tetap mempertahankan ke-Dayak-annya. Hal yang sama juga terjadi di Kepulauan Riau, dimana jika Suku Laut masuk Islam, maka dia disebut masuk Melayu dan mengadaptasi semua segi budaya Melayu. Meski sejatinya dari bahasapun mereka termasuk dialek Melayu.
Sedangkan pemahaman Indonesia Timur tentang Melayu berbeda lagi. Di masa silam, yang disebut Melayu adalah orang-orang setempat yang menganut Kristen dan mengadaptasi bahasa Melayu sebagai pengganti bahasa leluhurnya. Contohnya adalah kampung Melayu yang ada di Larantuka, Flores yang awalnya adalah pemukiman orang-orang penganut Katolik yang lari dari Makassar pada abad ke-17. Suku-suku yang disebut 'Melayu' di Kalimantan sendiri sebenarnya adalah keturunan suku-suku Dayak yang masuk agama Islam atau bercampur dengan pendatang-pendatang Melayu asal Sumatera dan suku Jawa. Percampuran Melayu, Dayak Bukit, Dayak Lawangan, Ngaju, Maanyan dan Jawa menghasilkan apa yang disebut sebagai Suku Banjar saat ini (terbagi atas 3 sub-suku seperti Banjar Hulu Sungai, Banjar Batang Banyu dan Banjar Kuala yang lebih 'Melayu'). Sedangkan suku-suku hasil pe-Melayu-an Dayak lainnya selain Banjar adalah suku Kutai, Tidung, Pasir, Berau dan sebagainya yang berbudaya campuran Melayu dan lokal, berbahasa Melayu lokal serta masih berkerabat dekat dengan suku-suku Dayak sekitarnya. Kini, orang Dayak yang masuk Islam tetap dengan menyebut dirinya Dayak (semisal Dayak Bakumpai atau Lamandau), bukan lagi Melayu atau Banjar.
Sedangkan apa yang disebut 'Melayu Betawi' di Jakarta juga majemuk untuk dipertegas. Karena aspek-aspek kebudayaannya yang merupakan perpaduan berbagai daerah, sesuai dengan nenek moyang orang Betawi itu sendiri. Arab, Melayu, Sunda, Cina, Jawa dan Eropa membentuk warna budaya mereka, meski dari bahasa masih dapat ditelusuri kemelayuannya (namun sangat kental dipengaruhi bahasa Sunda dan Jawa) serta cerita-cerita rakyat yang masih berhubungan.
Sebagaimana Cape Malay di Afrika Selatan dan 'Melayu' di Sri Lanka, mereka adalah keturunan dari berbagai tempat di Indonesia dan Malaysia yang dibuang Belanda dari tanah leluhurnya. Mereka kemudian membentuk kelompok Melayu meskipun dari segi fisik mereka lebih mirip India atau Eropa karena perkimpoian campuran.
Cape Malay sendiri banyak yang sudah tidak bisa bahasa Melayu, tetapi ikatan dengan tanah leluhur ini yang tetap membuat mereka sebagai 'Melayu'.
Makna Orang Melayu sendiri kini lebih mengacu pada masyarakat yang menganut budaya Melayu, berbahasa Melayu dan beragama Islam. Mungkin jatidiri Melayu lebih terlihat di Malaysia, Singapura, Brunei dan Thailand Selatan dari di Indonesia yang mana di negara-negara tersebut menjadi bentuk manifesto politik. Sumatera notabene dikenal sebagai Pulau 'Melayu' meskipun ada pengecualian dibeberapa daerah yakni di Aceh, Pedalaman Sumatera Utara, Sumatera Barat, pulau-pulau lepas pantai barat Sumatera dan Lampung yang mempunyai bahasa dan budaya tersendiri meski sama-sama ras Melayunya. Yang disebut Melayu di Indonesia adalah juga orang-orang yang berbahasa Melayu dan berbudaya Melayu serta identik dengan Sumatera dan Kalimantan (Barat).
Orang Melayu merupakan sebutan untuk sejumlah kelompok sosial di beberapa negara Asia Tenggara, yang dalam beberapa aspek kebudayaannya, menunjukkan ciri-ciri persamaan. Di antara kelompok-kelompok sosial itu sampai sekarang ada yang dengan sadar menyebut dirinya sebagai orang Melayu, misalnya orang Patani di Thailand Selatan; orang Kedah, orang Perak, orang Kelantan, orang Pahang, orang Selangor, dan orang Johor, yang semuanya berada di Semenanjung Melayu (Malaysia); dan sejumlah kelompok sosial di Indonesia.
Orang Melayu juga dapat diartikan sebagai suku bangsa. Oleh karena perkembangan sejarah dan perubahan politik, konsentrasi ras Melayu terbesar berada di negara-negara Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam dan Filipina. Dalam kesatuan bangsa di masing-masing negara, Melayu tidak dipandang sebagai ras tetapi sebagai suku bangsa. Akan tetapi sukubangsa Melayu di Indonesia tidak sama pengertiannya dengan di Malaysia dan Singapura.
Jadi, siapa sebenarnya yang disebut Orang Melayu? Mungkin kalau diulik-ulik dari ras, ada dua kelompok Melayu yakni Proto Melayu dan Deutro Melayu. Diklaim selama ini orang-orang ras Melayu sudah datang dari Cina Selatan sejak ribuan tahun lalu. Proto Melayu adalah kelompok Melayu yang datang pertama kali, dan menempati kawasan-kawasan pedalaman Indonesia, contohnya adalah orang Dayak, Batak, Nias, Suku-suku Sakai, Bonai, Talang Mamak, Akit, hutan, dan Suku-suku pedalaman Sulawesi dan sebagainya. Sedangkan Deutro Melayu adalah kelompok yang datang belakangan dan menempati wilayah-wilayah pesisir. Kini yang disebut bangsa atau orang Melayu sekali lagi mungkin adalah orang-orang yang bersuku Melayu, berbudaya Melayu, berbahasa ibu Melayu dan beragama Islam.Jadi, dapat kita simpulkan hal ikhwal asal muasal suku atau Orang Melayu sebagai berikut:
Melayu Proto. Melayu Proto yang juga digelar Melayu asli atau Melayu purba adalah penutur Austronesia dari tanah besar Asia yang berpindah ke tanah Melayu dan kepulauan Melayu, dalam siri penghijrahan yang panjang di antara 2500 S.M dan 1500 S.M[]. The Encyclopedia of Malaysia: Early History, menunjukkan sejumlah tiga teori asal-usul Melayu:
Teori Yunnan, penghijrahan sungai Mekong (diterbitkan 1889). Teori Melayu Proto berasal dari Yunnan disokong oleh R.H Geldern, J.H.C Kern, J.R Foster, J.R Logen, Slametmuljana dan Asmah Haji Omar. Bukti lain yang menyokong teori ini termasuk:
1.Peralatan batu yang ditemui di Kepulauan Melayu adalah sama dengan peralatan dari Asia Tengah. Kemiripan adat Melayu dan adat Assam. Bahasa Melayu & bahasa Kemboja ialah bahasa serupa oleh kerana tanah nenek moyang orang Kemboja berasal dari sumber Sungai Mekong. Teori New Guinea (diterbitkan 1965). Teori Taiwan (diterbitkan 1997). Untuk maklumat lanjut, lihat Bahasa-bahasa Austronesia.
Kajian saintifik terbaru oleh HUGO (Human Genome Organization) mengenai genetik bangsa-bangsa Asia menyatakan hipotesis penghijrahan tunggal Asia dari Asia Tenggara mengembara ke arah utara dan secara perlahan-lahan menduduki Asia Timur. Hipotesis ini bagaimanapun hanya berdasarkan bukti variasi genetik yang lebih banyak di kalangan bangsa Asia tenggara berbanding bangsa Asia timur, tanpa mengambil kira sejarah sosio politik kedua-dua rantau tersebut. Kekurangan variasi genetik di kalangan bangsa Asia timur berkemungkinan besar adalah kerana rantau tersebut telah lama bersatu di bawah satu kuasa politik tunggal contohnya di China, Korea dan Jepun yang menyebabkan interaksi manusia yang lebih kerap berbanding di Asia tenggara.Melayu Proto dipercayai bangsa pelaut yang mahir dalam oseanografi dan pertanian. Mereka berpindah dari pulau ke pulau dalam jarak besar di antara New Zealand dan Madagascar, dan mereka berkhidmat sebagai penunjuk arah, kakitangan dan pekerja buruh kepada pedagang India, Arab, Parsi dan China untuk hampir 2000 tahun. Bertahun-tahun kemudian mereka menetap di pelbagai tempat dan menyerap pelbagai budaya dan agama.
2. Melayu Deutero. Orang Melayu terawal kemudiannya secara perlahan-lahan diganti oleh peneroka-peneroka Melayu Deutero dalam gelombang kedua penghijrahan dari tanah besar Asia di sekitar 300 SM. Secara antropologi, etnik Melayu yang kini mendiami semenanjung tanah Melayu dan kawasan pantai kepulauan Melayu adalah dari golongan Melayu Deutero yang berkulit lebih cerah, berbadan lebih besar, dan berambut lebih lurus, berbeza dengan orang Melayu Proto. Masyarakat ini juga memiliki taraf budaya yang lebih tinggi, teknik pertanian dan pengetahuan tentang besi yang lebih maju.] Mereka tidak hidup secara nomad tetapi dalam kampung-kampung yang merupakan unit utama masyarakat. Penempatan utama Melayu Deutero biasanya terletak di lembah-lembah subur, tebing sungai atau pesisir pantai, dan kegiatan utama adalah ekonomi sara hidup yang ringkas berasaskan penanaman padi dan perikanan. Menjelang kurun terakhir sebelum Masihi, penempatan-penempatan di kawasan pantai ini mula terlibat dalam perdagangan dengan dunia luar.
Kemunculan kelompok Melayu Deutero ini secara tidak langsung menyebabkan kumpulan Melayu Proto dan penduduk asli berundur ke pedalaman dan hulu sungai. Kumpulan Melayu Proto yang terkenal hari ini adalah dari suku asli (Sakai, Talang Mamak, dll di Riau, Moken, Jakun, Orang Kuala, Temuan dan Orang Kanaq.***
Penulis adalah guru besar Universitas Riau