Belajar dari sejarah aspirin

Telah lebih dari 100 tahun penggunaan aspirin sebagai obat NSAID (Nonsteroidal anti-inflammatory drugs) pertama dengan manfaat terapeutik obat ini meliputi senyawa analgesik (penahan rasa sakit atau nyeri minor), antipiretik (pereda demam), dan anti-inflamasi (anti-peradangan).

Bayer merupakan perusahaan pertama yang berhasil menciptakan senyawa aspirin (asam asetilsalisilat), ide untuk memodifikasi senyawa asam salisilat ini dilatarbelakangi oleh banyaknya efek negatif dari senyawa ini terutama efeknya terhadap kerusakan lambung. Pada tahun 1853, ahli kimia Charles Frédéric Gerhardt mensintesis asetil klorida dengan natrium salisilat untuk menghasilkan senyawa aspirin untuk pertama kalinya, pada paruh kedua abad ke-19, ahli kimia akademis lainnya telah berhasil menentukan struktur kimia senyawa aspirin ini dan merancang metode sintesis yang lebih efisien.

Hingga pada tahun 1897, seorang kimiawan muda Felix Hoffman yang bekerja di bawah perusahan Bayer mengembangkan aspirin sebagai obat NSAID pengganti untuk menutupi efek negatif dari asam salisilat yang masa itu beredar luas. Pada akhirnya di tahun 1899, Bayer telah menjuluki obat ini sebagai aspirin dan menjualnya di seluruh dunia.

Kata ‘aspirin’ adalah nama dagang dari perusahaan Bayer, bukan merupakan nama generik obat. Popularitas aspirin tumbuh selama paruh pertama pada abad ke-20. Popularitas aspirin ini menurun setelah pengembangan acetaminophen/parasetamol pada tahun 1956 dan ibuprofen pada tahun 1962.

Pada tahun 1960 dan 1970-an, John Vane bersama Co-worker lainnya menemukan mekanisme dasar efek aspirin, sementara uji klinis dan studi lain dari tahun 1960 ke tahun 1980-an dikembangkan khasiat aspirin sebagai anti-platelet (agen anti-pembekuan) yang mengurangi risiko penyumbatan pembekuan darah seperti penyebab penyakit stroke dan jantung koroner. Hingga kini penjualan aspirin dihidupkan kembali dalam dekade terakhir abad kedua puluh, dan tetap kuat selama dua puluh tahun dengan digunakan secara luas sebagai pengobatan pencegahan untuk serangan jantung dan stroke.

Keseluruhan produksi di seluruh dunia sekitar 50.000 ton per tahun mencerminkan pentingnya zat ini bahkan hari ini (merek paten yang terkenal: aspilet®). Kekuatan penelitian dan pengembangan obat yang di miliki oleh perusahan Bayer telah memberikan nilai yang sangat ekonomis untuk molekul sederhana ini. Hingga akhir tahun 2013 perusahan bayer yang berpusat di Jerman itu telah mempunyai aset lebih dari 38.460 juta euro (senilai lebih dari 600 triliun rupiah) dan terus berkomitmen dalam Research and Development (R&D) sebesar 3.200 juta euro (senilai lebih dari 50 triliun rupiah).

Dua raksasa Asia

Berbeda dengan Jerman yang membangun pengobatan medis yang dimulai dari molekul sintesis modern, dua raksasa asia yakni India dan Cina adalah sedikit negara di dunia yang mengembangkan sistem penuh dari obat tradisional. Pendekatan pengobatan tradisional India, misalnya sistem ayurvedic merupakan pengobatan berbasis herbal yang pada umumnya efektif untuk penyakit kronis dan pencegahan.

Meskipun teknik obat modern telah menemukan bentuknya sendiri di India, formulasi obat tradisional masih banyak digunakan dan formulasi yang lebih ilmiah tervalidasi bermunculan luas dipasaran.Dalam pengembangannya, banyak tanaman yang digunakan dalam sistem pengobatan India telah dianalisis dengan metode analisis modern dan komponen aktif telah diisolasi. Kajian yang signifikan terhadap kimia obat ini terus dikembangkan untuk memperoleh molekul obat yang lebih berkhasiat. Salah satunya adalah kurkumin yang merupakan senyawa yang diperoleh dari kunyit, diantaranya adalah bacosides dari Brahmi (Bacopa monnieri) danforskolin dari Coleus forskohlii. Obat sintetik modern pertama untuk dikembangkan di India adalah urea stibamine pada tahun 1922 oleh Dr. UN Brahmachari terhadap leishmaniasis visceral yang merupakan wabah kesehatan yang parah selama awal abad ke-20, dan itu merupakan obat yang sangat luarbiasa untuk menyelamatkan sebagian besar dari populasi yang hidup. Secara historis, itu adalah obat kedua yang dikembangkan terhadap penyakit menular setelah salvarzan (untuk melawan Syphillis) sebelum penisilin atau sulfa.

Dari penemuan yang menakjubkan dari Dr. UN Brahmachari ini, industri farmasi di India tumbuh sangat signifikan. Industri farmasi India saat ini diakui sebagai pemimpin global dalam produksi obat generik berkualitas tinggi dan berada di peringkat ketiga dunia dalam hal pembuatan produk farmasi.Perubahan dalam lingkungan peraturan pada tahun 2005 memicu strategi baru, yang memungkinkan ekspansi ke lini penemuan obat baru. Ini dimulai dengan munculnya India sebagai tujuan favorit untuk outsourcing "Chemistry" (misalnya: GVK, Syngene, Chembiotek,dll). Untuk langkah berikutnya, dalam sebuah evolusi penemuan obat baru adalah kolaboratif dengan "agen kontrak" baik institusi penelitian yang berada di bawah pemerintah maupun swasta dari perusahaan kimia lokal (dicontohkan di India Torrent, Jubilant Life Sciences, dll) dapat memfokuskan diri mengkaji bahan kimia yang ditemukan dengan efek biologi yang lebih terfokus dan sistematik, sedangkan perusahaan farmasi besar atau biotek mitra harus berperan dalam membawa kekuatan mereka disiplin lain yang diperlukan penemuan obat baru ini. Dengan kata lain hampir semua stakeholder bahu-membahu dalam proses evolusi penemuan obat ini.

Contoh lebih lanjut dari proses evolusi adalah pembentukan Public-Private Partnership( PPP) model dimana beberapa farmasi India yang besar diinvestasikan dalam membangun "Reseach Foundation” yakni Yayasan Penelitian non-profit yang bertujuan untuk mendorong penemuan obat di bidang yang diminati dengan bisnis mereka (misalnya Yayasan Penelitian Dr. Reddy, Ranbaxy Research Foundation, dll). Meskipun banyak peluang, perusahaan farmasi dan bioteknolog India telah mampu menumpuk jajaran lebih dari 120 entitas kimia baru (new chemical entities/NCES) saat ini berkembang dalam berbagai tahap perkembangan fase praklinis dan klinis. Apabila keadaan ini berhasil dipertahankan oleh India bayangkan bagaimana India akan memproklamirkan diri menjadi negara maju di Asia.

Penelitian dan pengembangan obat di Indonesia

Berbeda dengan Indonesia, riset untuk pengembangan obat hanya berkisar pada riset formulasi dengan membuat `me-too product` (meniru) dari obat baru yang telah habis masa patennya dengan meluncurkan obat generik maupun obat generik bermerek. Banyak alasan yang telah dikeluarkan mulai dari ketidakmampuan SDM, keterbatasan dana riset, kekuarangan fasilitas penunjang hingga ketiadaan kebijakan yang pasti oleh pemerintah dalam riset dibidang penemuan obat ini.

Menurut penulis, hal yang pasti adalah Indonesia sampai saat ini hanya belum memiliki institut riset yang berfokus pada penemuan bahan obat baru ini. Belajar daripada Jerman dan India, untuk memulai sesuatu jangan mengharapkan produk yang langsung dapat di pasarkan. Perlu waktu dan proses yang panjang untuk memulai hingga diperoleh produk yang dapat dipasarkan. Namun demikian produk tidak hanya dipandang dari sesuatu yang dapat di pasarkan tetapi pemahaman kita terhadap penyakit, pendirian aset laboratorium, training penelitian, proses pembelajaran kepada mahasiswa, pemanfaatan teknologi, publikasi ilmiah merupakan sedikit dari sekian banyak produk yang dapat kita ciptakan bila kita membangun banyak institusi riset dalam penemuan bahan obat ini. Sebagai contoh di Amerika Serikat, dana pemerintah untuk penelitian biomedis telah memicu pemahaman kita tentang penyakit manusia, merancang alat diagnostik baru dan efektif hingga membuat perusahaan penelitian ini menjadi sebuah paragon internasional.

Potensi daerah

Sebagai putra dari daerah Riau, penulis sangat perlu mengkaji potensi Riau sebagai pusat penelitian dalam bidang life science ini. Riau yang berbatasan langsung dengan Malaysia dan Singapura merupakan kawasan segitiga pertumbuhan ekonomi yang sangat pesat dan di tambah negara Thailand yang berdekatan sehingga Riau menjadi daerah yang paling strategis untuk menggabungkan kawasan asia tenggara dalam hal ekonomi.

Terlepas dari itu yang paling ironis adalah dalam hal teknologi Riau merupakan daerah yang sangat rendah penggunaan teknologi di kawasan ini. Ketimpangan teknologi yang sangat tinggi ini juga dilihat dari institusi riset yang ada. Sampai hari ini sepengetahuan penulis di Riau tidak ditemukan institusi riset di bidang penemuan obat ataupun biomedis, dan bahkan di Riau belum ada berdiri industri farmasi.

Kita mengetahui bahwa obat-obatan merupakan salah satu bisnis yang paling terbesar di dunia. Berbeda dengan Malaysia yang mempunyai lebih dari 300 institusi riset dibidang life science ini. Semua berlomba untuk menguak pengetahuan tentang penyakit dan menghasilkan produk molekul obat yang dapat dipasarkan. Apabila kita tidak ikut dalam perang teknologi ini maka sudah barang tentulah dengan adanya ekonomi global Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) tahun 2015, maka kita akan sangat jauh ketinggalan dan hanya sebagai penonton saja di Negeri sendiri dan lebih jauh hanya sebagi tempat pasar produk yang telah dihasilkan layaknya teknologi mobil, handpone, komputer dan lainnya. Indonesia pada akhirnya hanya penjadi pasar bukan pemain.

Oleh karena itu, perlunya peran aktif pemerintah baik pusat maupun daerah untuk bersama-sama berperan aktif dalam membangun teknologi penemuan obat ini. Karena tanpa memperkuat pondasi ABG (Academic-Bussiness-Government) rasanya hampir mustahil untuk menjadikan teknologi penemuan obat Indonesia bisa menjadi maju dan menjadi perhatian dunia.([email protected]).

Kamal Rullah adalah Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Riau, Universitas Riau (Unri), Mahasiswa Tingkat Akhir Program Doktoral Fakultas Farmasi Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM) dalam Bidang Kimia MedisinalDiedit oleh * Jufrizal Syacri (Dosen kimia Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI), Mahasiswa Program Doktoral FMIPA – Universitas Gajah Mada (UGM) dalam Bidang Kimia Obat);* Roza Dianita (Mahasiswa Tingkat Akhir Program Doktoral Fakultas Farmasi Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM) dalam Herbal Medicine);* Mohd Fadhlizil Fasihi Mohd Aluwi (Mahasiswa Tingkat Akhir Program Doktoral Fakultas Farmasi Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM) dalam Sintesis Bahan Obat);* Yuandani (Dosen Farmasi Universitas Sumatera Utara (USU), Mahasiswa Tingkat Akhir Program Doktoral Fakultas Farmasi Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM) dalam Farmakologi)