SETELAH Perang Dunia Kedua, para elit teknisi bermunculan di negara-negara berkembang seperti India, Pakistan, Brazil, Cina dan Irak yang telah dididik sebagai ilmuwan di dunia industri. Mereka mengira bahwa dengan mendorong proyek jenis usaha di bidang energi nuklir, elektronik, farmasi, atau penelitian ruang angkasa, mereka bisa melompati tingkat muram rendahnya pembangunan negara mereka. India, misalnya memulai program energi nuklir yang memobilisasi ribuan teknisi dan biaya ratusan juta dolar tetapi gagal untuk memenuhi kebutuhan listriknya.

Apakah para ilmuwan dan pemimpin nasional sama-sama gagal untuk mengerti bahwa pembangunan tidak selalu bertepatan dengan kepemilikan senjata nuklir ataupun kemampuan untuk meluncurkan satelit. Sebaliknya, pembangunan pada hakekatnya membutuhkan teknologi pertanian modern, sistem industri, dan pendidikan. Para elit teknisi naif dan percaya bahwa spin-off dari energi nuklir atau teknologi antariksa sekalipun entah bagaimana akan mengubah negara mereka ke negara-negara industri abad ke-20.

Sebaliknya, ada biaya ekonomi dan politik yang berat yang harus ditanggung. Di India misalnya, program tersebut menyebabkan pengembangan senjata nuklir yang hanya mendorong Pakistan untuk melakukan hal yang sama, sementara banyak kebutuhan dasar manusia seperti kesehatan dan pendidikan tidak diberi dukungan yang dibutuhkan.

Dalam pandangan saya, skenario ini berarti bahwa kita di negara-negara berkembang seharusnya tidak mengharapkan untuk mengikuti model penelitian yang mengarah pada perusahaan ilmiah daripada Amerika Serikat atau tempat lain. Sebaliknya, kita perlu beradaptasi dan mengembangkan teknologi sesuai dengan kondisi negara dan daerah, memperkuat pendidikan, dan memperluas peran serta para ilmuan-ilmuan muda sebagai penasihat di pemerintah dan industri.

Dengan cara ini, kita dapat mencegah kesia-siaan pikiran ketika para ilmuwan tidak dihubungan dengan masalah-masalah negara dan daerah yang dapat dilihat dari support keuangan yang buruk dari pemerintah dalam hal research yang berbasis teknologi. Lebih parah lagi, ketika para ilmuan dan pemerintah tidak ambil peduli perananannya masing-masing.

''Sehingga yang terjadi adalah negara dan daerah tidak mampu menciptakan teknologinya sendiri tetapi hanya sebatas sebagai user teknologi daripada negara lain''.

Sebagai contoh di Brasil, penggunaan etanol sebagai bahan bakar adalah salah satu contoh bagaimana pendekatan ini dapat dijalankan. Dengan mendorong penggunaan luas etanol yang dihasilkan dari tebu yang merupakan tanaman tradisional di negara tersebut sebagai bahan bakar untuk menggantikan bensin.

Pemerintah Brasil mampu mengganti setengah dari bensin yang digunakan oleh mobil dalam negeri (sekitar 200.000 barel etanol per hari) dengan sumber energi terbarukan. Dengan demikian, Brasil menjadi pelopor di daerah yang telah diabaikan oleh negara-negara industri. Seluruh teknologi dari pertanian ke fase industri dikembangkan atau diperbaiki oleh para ilmuwan lokal dan teknologi. Pada saat itu juga, para ilmuwan Brasil harus meyakinkan pemerintah bahwa pendekatan ini secara teknis layak, meskipun itu telah diabaikan di negara industri. Untuk melakukan hal ini, kita harus menjawab pertanyaan tentang teknologi motor, masalah lingkungan, dan trade-off adalah antara membudidayakan tanaman untuk pangan versus bahan bakar.

Dari contoh diatas, walaupun hanya dari pemikiran yang sederhana dan sepele hanya sebatas pemanfaatan tebu tetapi telah mentelaah sains dan teknologi mulai dari pada mekanik dalam hal ini yang berbau mesin sampai teknologi lingkungan, sains murni, budidaya, ekonomi, sosial dan lain sebagainya.

Pendapat saya, dari situ kita mulai tetapi dengan arah yang jelas dan mantap. Sekarang mari kita tinjau tanaman khas daerah Riau, sepengetahuan saya sebagai anak Riau, nenas merupakan tanaman yang berpotensial tetapi sampai sekarang bukan malah berkembang tetapi hilang dari Riau sendiri.

''Ini yang menjelaskan ketika sains dan teknologi dapat mengubah nilai suatu benda''

Sebagai contoh lain, ketika saya banyak meneliti pada bidang obat dan herbal (farmasi), bagaimana satu pokok tanaman dapat bernilai sepuluh hektar kayu dengan sains dan teknologi. Banyak tanaman khas daerah yang mampu dikembangkan sebagai komoditi utama pembuatan herbal. Saya contohkan yang paling mudah kita kenali yakni bumbu dapur seperti kunyit, lengkuas, temu lawak, cabe dan lain-lain.

Pada akhir tulisan pendek ini, saya berharap adanya perubahan pemerintah dalam memandang para ilmuan lokal terutama ilmuan dalam bidang ilmu dasar dan teknologi untuk bersama-sama membangun negara dan daerah. Sebab kita prihatin sekarang banyaknya para ilmuan dan mahasiswa yang telah beralih fungsi sebagai praktik politik praktis dan melupakan tujuan murni yakni menuju negara maju dalam konteks berpendidikan dan berwatak.

''Menuju negara maju dan bertamadun bukan diukur bagaimana dia menggunakan teknologi tetapi bagaimana menciptakan teknologi''. ***

Kamal Rullah adalah kandidat Ph.D pada Faculty of Pharmacy, Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) Malaysia.

Riwayat Pendidikan

2012 – Now : Ph.D (Dr) Candidate
   Faculty of Pharmacy, Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) Malaysia
2009 – 2011: Master of Science (M.Sc) (GPA : 4.00 )
   Riau University, Kimia Kosentrasi Kimia Organik Sintesis
2007 – 2008: Apoteker (Apt) (GPA : 3.62 )
   Andalas University, Apoteker Program
2003 - 2007: Sarjana Farmasi (S.Farm) (GPA : 3.68)
   Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Riau, Riau University