
PEKANBARU – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) terus meluas di Provinsi Riau hingga menghanguskan 1.161,64 hektare lahan di 11 kabupaten dan kota. Menghadapi ancaman bencana kabut asap yang membayangi masyarakat, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyiagakan dua helikopter patroli untuk mendeteksi sebaran titik api dari udara secara cepat.
Dua armada udara berjenis Bell 206 B3 dengan registrasi PK-FPA dan Bell 206 L4 bernomor registrasi PK-ZGK tersebut kini telah bersiaga penuh. Helikopter ini bermarkas di Pangkalan Udara (Lanud) Roesmin Nurjadin Pekanbaru untuk mendukung operasi pencegahan.
"Kita mendapatkan bantuan dua unit helikopter patroli dari BNPB. Keduanya sudah berada di Lanud Roesmin Nurjadin Pekanbaru," ungkap Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Riau, Jim Gafur, Minggu (8/3/2026).
Patroli udara menjadi langkah krusial untuk menemukan sumber api sebelum membesar dan merambat ke permukiman atau kawasan hutan lindung. Begitu petugas melihat adanya titik api, informasi tersebut akan langsung diteruskan kepada tim darat agar pemadaman bisa segera dieksekusi.
"Helikopter ini akan melakukan patroli udara di wilayah yang dinilai rawan terjadi Karhutla. Jika ditemukan titik Karhutla, maka akan langsung dilaporkan kepada tim gabungan untuk dilakukan upaya pemadaman," jelasnya.
Selain pemantauan udara, upaya menekan potensi kebakaran juga dilakukan melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Pemerintah pusat telah mengirimkan pesawat khusus penyemai garam untuk memicu hujan buatan. Operasi ini difokuskan di kawasan pesisir Riau yang mulai mengalami penurunan curah hujan drastis.
Berdasarkan catatan BPBD, krisis lingkungan ini telah memunculkan 1.974 hotspot atau titik panas di Riau sepanjang awal tahun. Kabupaten Pelalawan menjadi wilayah dengan kerusakan terparah, yakni luasan lahan terbakar mencapai 681,5 hektare, disusul Kabupaten Bengkalis seluas 228,51 hektare, dan Kabupaten Siak 65,32 hektare.
Sementara itu, luasan lahan terbakar di delapan wilayah lainnya meliputi Kabupaten Indragiri Hilir seluas 64,70 hektare, Kabupaten Kampar 38,45 hektare, Kota Dumai 34,12 hektare, Kota Pekanbaru 17,45 hektare, Kabupaten Kepulauan Meranti 13,40 hektare, Kabupaten Rokan Hilir 12 hektare, Kabupaten Kuantan Singingi 3 hektare, serta Kabupaten Indragiri Hulu 2,7 hektare. ***