
PEKANBARU - Ancaman cuaca ekstrem mulai mengintai Provinsi Riau seiring masuknya masa peralihan dari kemarau panjang menuju musim penghujan. Hujan diprediksi akan turun dengan volume yang sangat lebat dalam waktu singkat, memicu potensi banjir bandang tanpa sepenuhnya menghapus bayang-bayang kebakaran lahan.
Peringatan tersebut disampaikan Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru, Warjono usai membedah prakiraan cuaca bersama Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau. Pertemuan yang digelar di Kantor Gubernur Riau pada Rabu (23/9/2026) ini difokuskan untuk merancang langkah mitigasi kebencanaan dari tingkat provinsi hingga desa.
Warjono menyebutkan, wilayah pesisir dan kawasan utara Riau telah lebih dulu merasakan perubahan cuaca dengan intensitas hujan yang mulai stabil. Secara bertahap, tutupan awan hujan ini akan bergerak menyelimuti wilayah lainnya.
"Sebagian wilayah utara seperti Rokan Hulu, Rokan Hilir dan sebagian Bengkalis sudah mulai memasuki musim hujan. Pada bulan depan, curah hujan akan bergeser ke wilayah selatan, meliputi Kampar, Kuantan Singingi, Indragiri Hulu dan Indragiri Hilir," urainya.
Puncak tingginya intensitas hujan di Bumi Lancang Kuning diperkirakan bergulir sepanjang November hingga Desember mendatang. Fenomena tahun ini dinilai memiliki karakter anomali karena durasinya yang relatif sempit namun membawa debit air yang berlimpah.
Ia mengilustrasikan kondisi curah hujan kali ini ibarat jatah air dari langit untuk enam bulan, namun tumpah seluruhnya hanya dalam kurun waktu empat bulan. "Sehingga intensitasnya akan sangat deras dalam waktu singkat," bebernya.
Limpahan debit air yang turun dalam hitungan jam berpotensi memicu luapan sungai dan merendam kawasan permukiman rawan banjir. Kendati demikian, masuknya musim basah tidak lantas memadamkan kewaspadaan terhadap amukan api di lahan gambut.
Warjono menekankan bahwa jeda hari tanpa hujan atau panas terik yang menyelingi musim penghujan bisa dengan cepat mengeringkan semak belukar dan sisa tebangan. Kondisi lahan kering di masa peralihan kerap menjadi pemicu kebakaran yang luput dari pantauan.
"Jadi ada dua hal yang perlu kita waspadai. Di musim hujan masih ada potensi karhutla, sementara di sisi lain kita juga mulai beralih kepada kewaspadaan terhadap cuaca ekstrem," pungkasnya. ***