BEKASI - Kisah inspiratif ini datang dari Tiurma Ida Purba. Wanita berusia 24 tahun ini mencoba membangun sekolah gratis untuk anak-anak dari keluarga miskin di desa Cibadak, Bekasi melalui buku berjudul Sekolah 0,1 Hektare yang dia tulis bersama rekannya, Ariska Amir.

"Proses dari bulan Juni 2015 tadinya mau sendiri tapi karena ini berhubung bukunya segmentasi umum jadi aku ketemu ka Ariska Amir. Tadinya dia apply untuk jadi relawan RBB tapi karena kita punya kesamaan hobi nulis maka aku coba ajak dia nulis bareng," kata Tiur kepada merdeka.com di SMK Yadika 8, Bekasi.

Tiur menjelaskan, ide pembuatan buku ini datang setelah dia melihat Desa Karangindah, Bojongmangu, Cibadak yang masih memprihatinkan. Salah satunya fasilitas pendidikan di desa tersebut masih jauh dari memadai.

Di mana hanya ada satu sekolah setingkat SD terdekat dari desa itu yang kondisinya masih memprihatinkan. Dengan bangunan yang sudah retak-retak, tak ada pintu, bahkan plafon sudah tidak layak sehingga bisa tiba-tiba rubuh.

Sedangkan setiap anak harus menempuh jarak 2-3 kilometer unik mencapai sekolah tersebut. Ditambah dengan kondisi tanah yang labil dan jalan yang berbatu dan berbukit.

"Bahkan mereka kadang musim hujan harus lepas sepatu untuk sampai ke sekolah itu. Dan tanahnya labil jadi kalau musim hujan tanahnya lembek, kalau musim hujan bisa sampai retak-retak. Di sana tidak ada kendaraan jadi mereka jalan kaki," imbuhnya.

Dengan begitu, pembangunan Sekolah 0,1 Hektare ini dipercaya bisa membantu anak-anak desa Cibadak agar bisa meraih pendidikan dengan lebih mudah. Selain itu, para orangtua tidak perlu merasa terbebani dengan biaya, karena setiap anak tidak akan dikenakan biaya jika bersekolah di Sekolah 0,1 Hektare.

"Jadi kita berharap dengan sekolah ini mereka tidak usah jauh-jauh. Karena bahkan balitanya juga tidak sekolah. Pembangunan sekolah tahun ini untuk perizinan. Jadi targetnya tahun 2017-2018 itu TK dan SD sudah terbentuk," jelas wanita berdarah Batak ini.

Sayangnya, biaya yang diperlukan untuk pembangunan sekolah di desa Cibadak masih tergolong besar, yakni sekitar Rp 700 juta. Sehingga dia harus berpikir keras agar targetnya bisa tercapai, salah satunya dengan gerakan Satu Buku Satu Anak.

"Gerakan Satu Buku Satu Anak adalah gerakan yang dicetuskan oleh Rumah Belajar Bekasi (RBB) untuk mengajak orang berbagi 1 Buku 1 Anak kepada setiap anak desa di pelosok bekasi dan di seluruh Indonesia. Jadi satu orang beli 2 buku dimana satu buku disimpan dan satu buku lagi untuk diberikan ke anak di desa. Tapi disumbangkan melalui RBB," papar Tiur.

Melalui gerakan ini, Tiur mencoba agar masyarakat tidak hanya bisa menyumbang untuk pembangunan sekolah, namun juga bisa memotivasi anak-anak desa di seluruh Indonesia agar mau memperbaiki pendidikannya dan RBB bisa meluas hingga ke pelosok Indonesia.

Saat ini buka Sekolah 0,1 Hektare telah tersedia di Gramedia Mal Taman Anggrek, Central Park, Ciputra, Mal of Indonesia, Kelapa Gading Mal, Plaza Bintaro, Artha Gading, Sunter, Emporium Pluit, Mal Serpong, Mal Mal Metropolitan Bekasi, Gramedia Sumatra Medan Gama serta Gramedia Jogjakarta.

Selain di Bekasi, Tiur akan melaunching bukunya di Yogyakarta dan Malaysia.

"Saat ini sudah ada 500 buku yang sudah didonasikan. Dengan harga buku Rp 37 ribu. Dan uangnya nanti semuanya akan disumbangkan untuk pembangunan sekolah di Cibadak. Harapannya dengan buku ini kita bisa mengundang beberapa donatur untuk membantu," tutupnya.***