
JAKARTA, GORIAU.COM - kepolisian telah menjadikan terorisme komoditi penting dan melestarikannya dengan pola-pola penindakan yang kontra produktif.
Demikian pendapat Direktur The Community Ideological Islamic Analyst (CIIA) Harits Abu Ulya, menanggapi penembakan enam tertuduh teroris di Ciputat, melalui rilisnya, Rabu (1/1/2014).“Karena cara arogan yang eksesif dengan senjata itu akan memantik kebencian dan aksi balas dendam dalam beragam bentuk teror,” katanya.Ia mencontohkan, opini tentang ancaman teroris menjelang Natal, tahun baru dan Pemilu merupakan bentuk penangguhan waktu agar isu terorisme terus berlanjut dan menemukan saat yang tepat untuk digelontorkan.“Itu semua adalah penguluran rentang waktu agar proyek melawan 'terorisme' bisa berjalan kontinyu mengikuti momentum yang ada,” tegas Harits.Sejatinya, kata Harits, itu adalah propaganda untuk melegitimasi perburuan demi perburuan teroris versi Densus 88 dan BNPT dengan Satgas liarnya.Zalim Harits Abu Ulya mengecam keras penembakan enam orang tertuduh terori yang dilakukan oleh Densus 88 di Ciputat pada malam pergantian tahun tersebut. “Negara ini zalim sekali,mengawali tahun 2014 dengan membunuh 6 orang secara demonstratif hanya karena tuduhan terduga teroris,” katanya.Menurut Harits Densus 88 kembali menyiram api kebencian sekaligus menjadi produsen teror demi teror yang akan tumbuh silih berganti pelakunya.“Jika terkait teror Pondok Aren dulu ditetapkan DPO Nurul Haq dan Hendi Albar, sekarang pasti narasi baru akan dibuat untuk menjelaskan peran-peran mereka yang tewas (Dayat Kacamata cs.red),” ujar Harits.Lanjut Harits, penembakan di Ciputat merupakan tindakan amatir aparat keamanan yang dipertontonkan berulangkali. “Ini adalah yang kesekian kalinya aparat Densus 88 terlihat tidak profesional, inikah yang disebut langkah preventif atau pencegahan? Kalau bisa menangkap hidup-hidup Anton, sebelumnya Badri dan Sofyan, Iskandar dan lain-lain, kenapa orang-orang yang dianggap terkait dengan mereka di Ciputat tidak bisa ditangkap hidup?” tanyanya.Bukan Negara CowboyWakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), Hajriyanto Y. Tohari juga melancarkan kritik atas aksi tembak mati yang dilakukan Detasemen Khusus (Densus) 88 Polri terhadap tertuduh teroris.Menurutnya, aksi kekerasan yang dilakukan Densus dengan menembak mati tertuduh teroris tidak efektif memberantas terorisme. “Ini negara hukum, bukan negara para janggo atau negara para cowboy yang gampang mencabut senjata lalu dar der dor!,” kata Hajriyanto, Rabu (1/1).Politisi Partai Golkar ini menyatakan, selama ini sudah banyak tertuduh teroris yang ditembak mati Densus 88 tanpa proses hukum. Namun faktanya para pelaku teror bukan semakin berkurang tapi malah semakin banyak bermunculan.“Ibarat patah tumbuh hilang berganti, esa hiang dua berbilang, lima terduga teroris baru ditembak mati, lahir 10 terduga teroris baru,” ujar Hajriyanto.Kekerasan yang dipertontonkan Densus 88 hanya mampu mengatasi persoalan sesaat. Kekerasan itu tidak akan mampu menuntaskan persoalan terorisme secara keseluruhan.Hajriyanto berharap ada penanganan dan pendekatan yang lebih manusiawi menangani para pelaku teror.“Faktor-faktor lahirnya terorisme itu kompleks sekali. Tidak sederhana. Demikian juga penanganannya tidak cukup dengan menembak mati terduga teroris,” katanya. Seperti diberitakan sebelumnya, penggerebekan tertuduh teroris berlangsung di Jl Ki Hajar Dewantara, RT 04/07, Kelurahan Kampung Sawah, Ciputat. Penggerebekan berlangsung sekitar sepuluh jam lamanya dengan diwarnai hujan tembakan oleh Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri.Lima orang yang dituduh sebagai teroris tewas ditambah satu lainnya ikut meninggal ditembak dalam penyergapan di waktu yang berbeda. Sementara itu, satu tertuduh teroris selamat dan ditahan kepolisian.***