JAKARTA - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin mengingatkan generasi muda bahwa kemerdekaan Indonesia bukan sekadar warisan sejarah untuk dikenang. Pada puncak peringatan Hari Santri di Jombang, ia menegaskan pentingnya aksi nyata, persatuan, dan kontribusi seluruh elemen masyarakat dalam membangun masa depan bangsa.

Pesan ini disampaikan di tengah tantangan dinamika zaman yang menuntut kebersamaan masyarakat akar rumput hingga tingkat nasional. Gus Kikin menilai perjuangan pendahulu saat merebut kemerdekaan harus menjadi pemacu semangat bagi generasi penerus.

"Inilah momentum penting dimana perjuangan mempertahankan kemerdekaan menjadi motivasi bagi kita. Kita sudah diwarisi negara merdeka, dan sekarang kita harus berpikir apa yang harus dilakukan untuk mengisinya," tegas Gus Kikin, Jumat (23/10/2026).

Modal Utama Rawat Kedaulatan Bangsa

Ia menilai ukhuwah atau persaudaraan adalah modal krusial bagi rakyat Indonesia agar tidak mudah terpecah belah oleh perbedaan. Persatuan tersebut menjadi syarat mutlak untuk membawa kehidupan bangsa ke arah yang lebih harmonis.

"Mudah-mudahan dengan kebersamaan, kita mendapat rida dari Allah untuk menjadikan negara ini baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur," harapnya.

Lebih lanjut, Gus Kikin mengajak masyarakat merenungkan kembali esensi Resolusi Jihad. Peristiwa bersejarah itu menjadi bukti nyata bahwa proklamasi tidak lantas membuat perjuangan bangsa berhenti, melainkan memicu babak baru perlawanan fisik.

Fakta Sejarah Resolusi Jihad

Kedatangan pasukan Inggris ke Surabaya pascaproklamasi langsung memantik perlawanan hebat dari masyarakat sipil. Semangat mempertahankan tanah air saat itu tidak hanya didominasi oleh para pemimpin bangsa, tetapi justru berurat akar di kalangan warga biasa.

"Tidak ada yang mundur. Begitu melihat Inggris masuk ke Surabaya, masyarakat langsung mengadang," bebernya.

Ia juga memaparkan peran besar Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari yang menggerakkan umat Islam lewat fatwa jihad pada 9 November 1945. Seruan keagamaan tersebut sukses membakar keberanian kaum santri jelang pertempuran besar di Surabaya.

"Fatwa jihad wajib bagi umat Islam untuk mempertahankan negara yang sudah merdeka," jelasnya.

Tanpa adanya perlawanan gigih dari masyarakat di medan tempur, kemerdekaan yang baru direbut berpotensi hilang kembali oleh kekuatan militer asing. Pengorbanan tersebut harus diwariskan bukan sekadar memori masa lalu, melainkan pedoman berbangsa masa kini.

"Kalau arek-arek Suroboyo tidak mau mempertahankan, niscaya kita kembali dijajah," pungkasnya. ***