
ROKAN HILIR - Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Perwakilan Provinsi Riau bersama Anggota Komisi IX DPR RI, dr Maharani menggelar sosialisasi Program Bangga Kencana. Kegiatan yang berlangsung di Kabupaten Rokan Hilir pada Kamis (22/10/2026) ini bertujuan memperkuat pemahaman masyarakat tentang perencanaan kehidupan berkeluarga. Langkah ini sekaligus menjadi strategi utama pemerintah dalam percepatan penurunan angka stunting di daerah tersebut.
Anggota Komisi IX DPR RI, dr Maharani menegaskan bahwa perencanaan perkawinan merupakan fondasi awal untuk mewujudkan keluarga yang lebih layak dan sejahtera. Ia mendorong masyarakat untuk mempersiapkan berbagai aspek sebelum menikah, mulai dari kesiapan mental, finansial, hingga kehamilan yang matang.
"Perencanaan kehamilan sangat penting, termasuk menjaga jarak agar ibu tidak mengalami stres dan tidak ada lagi kehamilan yang tidak direncanakan," urainya.
Menurutnya, pelayanan keluarga berencana (KB) bisa menjadi solusi konkret yang hadir langsung di tengah masyarakat. Tugas Komisi IX DPR RI saat ini adalah mengawal serta memastikan kebijakan Program Bangga Kencana benar-benar memberikan manfaat nyata bagi warga.
"Keluarga adalah fondasi utama dalam membangun bangsa dan negara yang tangguh," tegasnya.
Dalam sosialisasi tersebut, warga Rokan Hilir juga mendapatkan edukasi mendalam terkait intervensi pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Langkah pencegahan stunting ini dimulai sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun agar generasi mendatang tumbuh sehat dan cerdas.
Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Riau, Mhd Irzal turut menekankan krusialnya perencanaan dalam membangun keluarga berkualitas. Masyarakat diminta untuk mewaspadai serta menghindari konsep 4 Terlalu dalam merencanakan kehamilan.
"Hindari terlalu muda melahirkan, terlalu tua melahirkan, terlalu sering melahirkan, dan terlalu dekat jarak kelahiran," paparnya.
Mhd Irzal mengapresiasi tingginya partisipasi masyarakat setempat, terutama dengan seimbangnya jumlah kehadiran peserta laki-laki dan perempuan. Kondisi ini membuktikan bahwa pemahaman Program Bangga Kencana telah menjadi tanggung jawab bersama, bukan hanya dibebankan kepada pihak perempuan dalam sebuah rumah tangga. ***