
MENYENANGKAN. Perasaan ini tak dapat disembunyikan usai gelar sarasehan pedalangan lalu berlanjut nonton wayang semalam suntuk di Gedung Olaharaga Badminton, Jalan Melati Indah, Pekanbaru, Sabtu (7/12/2013), berlangsung sukses. Sebuah kegiatan diluar pakem ngumpul dengan tokoh dalang dan sinden se Provinsi Riau.
Nonton wayang sejalan dengan teori, semakin malam makin riuh, dan terus membludak. Bahkan terlihat penuh sesak. Yang tak mau sempit-sempitan, memilih nonton di luar gedung, lewat layar lebar yang sudah disiapkan.
Menariknya, pertunjukan wayang yang identik generasi tua itu, tapi kali ini justeru ramai remaja dan anak- anak. Boleh jadi disebabkan daya magnet yang dimiliki dalang bocah.
Ya karena dalangnya memang masih usia anak-anak. Sehingga yang nonton juga ikut dipadati oleh anak-anak usia Sekolah Dasar.
Ia adalah Aditya Saputra, dalang bocah yang baru berumur 10 tahun, asal Batam, Kepulauan Riau. Generasi langka milik bangsa. Di pulau Jawa sendiri titisan seperti Aditya juga sulit ditemukan. Justeru bocah hebat ini muncul di tanah Melayu Kepulaun Riau, Sumatera.
Penampilannya memang luar biasa. Ia terlihat cekatan memainkan para tokoh perwayangan dengan tata bahasa sangat runut. Cara memainkan wayang juga sangat mahir bak dalang kondang Ki Anom Suroto. Begitu piawainya, tokoh wayang yang dimainkan seperti orang hidup.
Terbukti, penonton mampu dibuat hanyut dan sorak sorai dan tepukan tangan gemuruh tak henti henti menyeriangi alur cerita yang disajikan. Seni drama dan tutur berkolobarasi menghasilkan tontonan yang menghibur tapi mendidik.
Sudah menjadi prinsip saya setiap menggelar acara apapun harus maksimal dan sukses. Dan alhamudlillah, acaranya benar-benar sukses.
Bahkan Ketua Persatuan Pedalangan Indonesi (Pepadi) Pusat, Ekocipto yang ikut hadir dan Ketua Pepadi Provinsi Riau, Suradi Paijan, serta pamateri RHR Dodi Sarjana, Pemimpin Redaksi Tribun Pekanbaru Group Kompas, memberi apresiasi tinggi atas acara yang digelar.
Sarasehan lesehan dikerubungi dalang dan pesinden, ini pertunjukan yang langka, kata Mas Dodi dengan wajah sumringah.
Pujian yang luar biasa juga datang dari dari penonton, atas penampilan Aditya yang begitu mengagumkan. Wah, ini tidak sembarangan. Pasti ini dapat wahyu sehingga menitis jadi dalang. Dia kan masih bocah tapi kok sudah seperti Dalang Ki Anom Suroto, ungkap Mbah Tubari salah satu Dalang dari Siak Kecil Bengkalis.
Secara pribadi saya memendam mimpi untuk Aditya ini. Kelak bisa menjadi generasi yang mengharumkan bangsa. Bicara seni adalah bicara rasa dan kekaguman terhadap kedamaian. Di alam senilah dunia ini sejuk, mengekalkan silaturahmi dan toleransi. Media seni ini bisa merangkul semua pihak, dapat mencairkan suasana yang panas menjadi teduh, apalagi di saat demokrasi Indonesia saling ego kekuatan dominan atau mayoritas.
Saya sangat yakin Aditya ini sosok bocah yang akan menjadi sosok besar dan kuat yang bisa mendamaikan bangsa. Di Tanjung Samak pulau perbatasan antara provinsi Riau dengan Kepri Aditya juga sempat mencuri hati masyarakat, memotivasi untuk menyatu, begitu juga saat tampil di Bengkalis, Rokan Hilir dan Rokan Hulu.
Ketum Pepadi Pusat yang terpukau nonton sampai pagi di sebelah tempat duduk saya berbisik: bocah ini istimewa kita carikan waktu yang tepat untuk tampil di Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
Wah sangat luar biasa tanggung, bagaimana kalau diset sekalian bisa tampil di istana di depan presiden, saya menimpali disambut jabat tangan sebagai pertanda setuju. Insya Allah, semoga terkabul, amin.
Pagi hari setelah mendalang semalam suntuk sebelum ia pulang ke Batam, Aditya bersama kedua orang tuanya mampir di rumah kediaman saya. Sutoto dan Suratmi, ayah dan emak Aditya memang berdarah seni. Bapak ahli kendang emaknya pesinden. Mereka sememang keluarga berdarah seni dari turunan kakeknya.
Sebuah apresiasi yang tinggi, begitu mengetahui, Aditya yang sibuk keliling mendalang, ternyata juga juara kelas. Bahkan saat naik ke kelas 5 SD, ia rangking satu.
Terus kapan belajarnya. Dengan polos ia menjawab: Saat belajar ya belajar dan saat Dalang ya Mendalang. Itu aja. Ujarnya polos. Jelas tidak sesederhana itu. Ini bukti ia spesial.
Tak cukup sampai disitu. Ada lagi yang lebih menarik. Saat Aditya masih dalam kandungan. Bahkan bisa dikatakan belum menjadi janin, sang Ayah, Sutoto, hampir saban malam berdoa agar bisa dikaruniai anak laki-laki dan kelak bisa menjadi Dalang.
"Anak pertama dan kedua perempuan. Saya minta sama Allah, agar anak ketiga diberi laki-laki. Hampir tiap malam saya berdoa. Kalau nanti dapat laki-laki, saya mau dia jadi Dalang," cerita Sutoto sambil ngemil hidangan di ruang tamu.
Kemudian begitu tau istrinya hamil lagi. Ia makin kuat berdoa agar janinnya laki-laki. Ntah kebetulan atau memang karena kekuatan doanya yang ulet meminta kepada Allah hampir saban malam, maka lahirlah jabang bayi laki-laki yang kemudian diberi nama Aditya Saputra.
Sejak itu, Aditya pun sudah langsung dikenalkan dengan lagu-lagu Jawa. Begitu Aditya nangis atau merengek-rengek, maka lagu-lagu sinden itu selalu dilantunkan untuk menenangkannya. Mainannya juga berbau-bau wayang. Memang luar biasa keluarga ini membentuk Aditya. Bahkan setiap ada tayangan wayang di televisi, buru-buru Aditya yang belum mengerti apa-apa, di letakkan di depan televisi.
Begitu menginjak umur dua tahun, Aditya sudah pegang-pegang wayang. Cerita-cerita wayang sudah menjadi konsumsi wajibnya. Tak ada waktu tanpa wayang. Wayang, wayang, wayang. Orangtuanya memang gigih sekali agar anaknya bisa menjadi Dalang.
Keluarga besar mereka ini memang memiliki keturunan Dalang. Mbahnya Dalang dan ibunya sinden. Sutoto awalnya sempat risau, sampai anak kedua, masih saja dikaruniai perempuan. Sehingga tradisi Dalang khawatir terputus.
Maka ia pun tak putus-putusnya minta kepada Allah, agar dikarunia anak laki-laki. Untuk kemudian sudah diniatkannya agar bisa menjadi Dalang. Dan kini sudah benar-benar jadi Dalang.
Saya pikir ini sebuah sikap, prilaku dan kegigihan yang layak ditauladani. Sesuatu itu tidak selalu datang dengan sendirinya, tapi butuh perjuangan: doa, usaha dan kerja keras.
Kalau doa saja, tanpa diikuti usaha dan kerja keras, sama saja bohong. Usaha dan kerja keras, tanpa diikuti doa, seperti orang buta yang meraba-raba. Keduanya harus seiring seirama. Jika dilakukan sungguh-sungguh dan niat tulus, Insya Allah hasilnya bisa seperti Aditya.
Sutoto tidak sebatas berdoa agar anaknya kelak bisa menjadi Dalang, tapi diikuti dengan kerja keras mulai memperkenalkan hal-hal berbau wayang sejak masih bayi dan terus dilakukan dengan konsisten. Hasilnya, terwujud jadi Dalang.
Umur Taman Kanak-kanak, Aditya sudah bisa tampil sebagai Dalang. Dan kini sudah menginjak umur 10 tahun, ia sudah menguasai semua tingkatan Dalang: Dalang Sabet, Catur, dan tingkat tertinggi dalang Ngabehi.
Ia pun terpilih sebagai Dalang dengan penampilan terbaik tingkat nasional dan predikat tertinggi Dalang Ngaben pada festival Dalang bocah Nusantara 5 di Solo Juli 2013. Pesertanya 125 Dalang yang berasal dari 25 kota se-Indonesia.
Ini mengajarkan kita bahwa sesuatu itu tidak bisa Bim Salabim Abrakadabra langsung jadi. Untuk mencapainya butuh proses dan prosesnya bisa panjang penuh liku. Lihatklah bagaimana seorang Sutoto menginginkan seorang anak laki-laki.
Mungkin hampir tiap malam ia bangun salat tahajud bermohon kepada Allah agar diberikan anak laki-laki. Begitu anak laki-lakinya lahir, bagaimana ia dengan talaten membentuk anaknya bisa kelak menjadi Dalang, seperti yang diinginkan.
Semangatnya itu yang layak ditauladani. Bukan pekerjaan mudah harus bangun malam-malam untuk menunaikan salat tahajud. Ya, tapi itulah perjuangan bagaimana ia berjuang agar bisa mendapatkan anak laki-laki.
Namanya berjuang tidak pernah mudah. Hasilnya bisa sesuai harapan dan bisa meleset. Tapi soal hasil tak masalah. Yang masalah itu tidak berjuang sama sekali.
Tapi Sutoto sudah memberi tauladan buat kita semua. Ingin jadi hebat, tak bisa Bim Salahim, tapi butuh perjuangan yang dibarengi doa tulus dan ikhlas. Insya Allah hasilnya seperti Aditya, jadi pedalang hebat.
Selamat!!! ***Penulis adalah Ketua Komisi D DPRD Provinsi Riau