JAKARTA - Langkah tim nasional menuju partai puncak Divisi 1 Grup A FIFA ASEAN Cup 2026 ditentukan pada laga pamungkas. Skuad asuhan John Herdman wajib meraih poin penuh saat bersua Bangladesh di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, Kamis (1/10/2026) pukul 19.30 WIB.
Pertandingan ini menjadi jalan satu-satunya bagi Tim Garuda untuk menantang Thailand di final. Saat ini, Indonesia berada di posisi kedua klasemen dengan empat poin. Angka tersebut sama dengan perolehan Malaysia yang bertengger di puncak, namun Indonesia tertinggal dalam urusan produktivitas gol.
Malaysia memiliki selisih gol +3, sementara Indonesia +2. Aturan prioritas head to head tidak dapat diterapkan karena kedua tim bermain imbang 0-0 pada pertemuan sebelumnya. Kondisi ini mewajibkan skuad Merah Putih untuk menang dengan selisih gol sebesar mungkin.
Pilihan lain untuk lolos adalah menang tipis atas Bangladesh, dengan catatan Malaysia bermain imbang atau kalah saat melawan Singapura. Jika Indonesia meraih hasil imbang atau menelan kekalahan, peluang melaju ke final atau sekadar perebutan tempat ketiga dipastikan tertutup.
Bangladesh dipastikan tersingkir setelah menelan kekalahan pada dua laga awal. Meski demikian, Ketua Umum PSSI, Erick Thohir memperingatkan para pemain untuk tidak lengah menghadapi tim yang diperkuat oleh Hamza Choudhury tersebut.
"Artinya, Bangladesh juga tidak boleh dipandang sebelah mata," ingat Erick melalui keterangan tertulis yang dirilis Antara, Rabu (30/9/2026).
Ia meminta seluruh pemain mengeluarkan daya juang maksimal di lapangan hijau. "Timnas harus fight dan mudah-mudahan Malaysia dan Singapura juga fight sama-sama. Kita lihat nanti hasilnya," tuturnya.
Perjalanan menuju laga penentu ini diwarnai hasil imbang tanpa gol melawan Malaysia pada Senin (28/9). Dalam pertandingan tersebut, Indonesia harus bermain dengan 10 orang di lapangan. Kegigihan skuad ini mendapat sorotan khusus, termasuk apresiasi dan catatan evaluasi taktik dari Indra Sjafri.
Erick turut memuji kerja keras yang ditunjukkan oleh anak asuh John Herdman. "Kalau saya lihat dalam konteks yang saya lihat kemarin, dengan pemain kurang satu, pemain-pemain harus kita apresiasi. Mereka terbang jauh, bertanding jauh, dan memberikan kekuatan semaksimal mungkin," paparnya.
Terkait derasnya sorotan publik terhadap performa tim, ia memandang hal tersebut sebagai kewajaran dalam kompetisi tingkat tinggi. "Saya rasa ya kembali. Kalau kita lihat pelatih Thailand, pelatih Malaysia, pelatih Vietnam pasti juga penuh kritik. Memang sepak bola seperti itu, cukup kejam," pungkasnya.***