
JAKARTA - Deru baling-baling helikopter modifikasi milik Pasukan Bela Diri Jepang (JSDF) kini tak lagi menghiasi langit Kalimantan Barat. Unit militer asing tersebut secara resmi menyudahi operasi udara dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang telah berlangsung selama dua pekan terakhir.
Kementerian Pertahanan (Kemhan) Jepang mengambil keputusan penarikan armada tersebut pada Selasa (29/9/2026). Seluruh prajurit beserta perlengkapan tempur yang dialihfungsikan untuk misi kemanusiaan ini bersiap untuk bertolak kembali ke negara asalnya.
"Setelah selesainya operasi pemadaman kebakaran yang direncanakan hari ini, unit tersebut akan mengakhiri kegiatannya di Indonesia dan kembali ke Jepang segara setelah persiapan selesai," urai pernyataan tertulis resmi dari Kemhan Jepang.
Penghentian misi ini dilakukan setelah otoritas Indonesia memberikan informasi langsung kepada pihak Tokyo. Dalam laporannya, Pemerintah Indonesia memastikan bahwa serangkaian operasi pemadaman udara oleh pasukan Jepang telah memberikan dampak signifikan dalam memutus rantai penyebaran titik api.
Pemerintah pusat juga menyatakan kesiapannya untuk menangani sisa-sisa kebakaran secara mandiri tanpa bantuan pihak luar. Bersamaan dengan pemberitahuan tersebut, apresiasi mendalam dan rasa terima kasih turut dilayangkan atas sokongan tenaga dan logistik yang diterjunkan Jepang di tengah krisis udara.
Jejak operasi armada dari Negeri Matahari Terbit ini bermula dari instruksi Menteri Pertahanan Jepang pada 28 Agustus 2026, menyusul hasil konsultasi dengan Menteri Luar Negeri terkait parahnya eskalasi karhutla di Indonesia.
Menindaklanjuti perintah tersebut, lebih dari 300 personel diberangkatkan dari Pangkalan AL Kure, Hiroshima pada 1 September 2026. Mereka mengarungi lautan menggunakan kapal angkut JS Kunisaki, dengan membawa tiga unit helikopter angkut berat CH-47 Chinook serta dua unit hovercraft.
Rombongan besar ini merapat di Pelabuhan Kijing, Mempawah pada 10 September 2026. Tak butuh waktu lama, unit udara CH-47 langsung membelah langit Pontianak dan Kabupaten Ketapang sejak 16 September 2026, menumpahkan ribuan liter air untuk menjinakkan kobaran api hingga misi dinyatakan rampung. ***