PEKANBARU - Seekor harimau sumatera berukuran sekitar dua meter berhasil dievakuasi oleh tim gabungan dari sekitar kawasan konsesi Hutan Tanaman Industri (HTI) di Desa Sungai Ara, Kecamatan Pelalawan, Kabupaten Pelalawan. Penangkapan predator tingkat atas ini dilakukan guna menelusuri rentetan insiden fatal yang merenggut nyawa dua warga setempat pada Juli 2026 lalu.

Saat ini, satwa dilindungi tersebut telah dipindahkan ke Kebun Binatang Kasang Kulim di Kabupaten Kampar. Pemindahan ini bukan untuk keperluan wisata, melainkan sebagai bagian dari observasi dan penitipan sementara selama tim ahli medis satwa mengidentifikasi rekam jejak biologisnya.

Kabid Teknis BBKSDA Riau, Ujang Holisudin menjelaskan bahwa pihaknya tengah melakukan serangkaian pengujian asam deoksiribonukleat (DNA) terhadap satwa tersebut. Langkah ilmiah ini sangat diperlukan untuk mencocokkan identitas harimau dengan jejak forensik pada lokasi penyerangan sebelumnya.

"Kami belum mengumumkan secara resmi penangkapan harimau tersebut karena proses pemeriksaan dan uji DNA masih berlangsung," urainya, Senin (19/10/2026).

Lebih jauh, ia memaparkan bahwa validasi medis ini menjadi penentu status penanganan satwa ke depannya. Jika hasil uji laboratorium mengonfirmasi bahwa harimau tersebut terbukti sebagai pemangsa manusia (man-eater), maka protokol penanganan khusus akan diterapkan. Sebaliknya, jika terbukti tidak terlibat dalam penyerangan, persiapan evakuasi untuk pelepasliaran kembali ke habitat aslinya akan segera dilakukan.

"Dapat kami sampaikan, selama menjalani pemeriksaan, harimau tersebut ditempatkan di kandang tertutup dan tidak dibuka untuk kunjungan masyarakat umum," tegas Ujang.

Langkah evakuasi dan pengujian medis ini merupakan respons otoritas terkait atas eskalasi konflik antara manusia dan satwa liar di teritori Pelalawan. Sebelumnya, kawasan sekitar Desa Sungai Ara menjadi sorotan usai dua orang dilaporkan tewas akibat serangan satwa liar. Korban pertama adalah seorang anak di bawah umur berinisial JZ (12), yang merupakan anak dari salah satu pekerja kamp di kawasan konsesi.

Korban ditemukan dalam kondisi tak bernyawa pada Minggu (7/7/2026) menjelang subuh, tepat di luar kamar mandi area kamp pekerja dengan luka serius di bagian leher.

Hanya berselang beberapa hari, insiden maut kembali terjadi. Pada Rabu (10/7/2026), seorang karyawan perusahaan bernama Eko Prastio (29) turut menjadi korban. Pria ini dilaporkan hilang saat sedang mencari sinyal telepon seluler pada malam hari di area yang minim penerangan. Titik kejadian kedua ini terpaut jarak sekitar 6,5 kilometer dari lokasi jatuhnya korban pertama.

Pencarian terhadap Eko memakan waktu hingga keesokan harinya. Jasadnya baru berhasil dievakuasi oleh tim pencari gabungan pada Kamis (11/7/2026), dengan kondisi tubuh yang telah terseret jauh ke dalam rimbunnya kawasan hutan. (wpb)