
DENGAN telah ditetapkannya dua pasangan calon presiden - calon wakil presiden yaitu prabowo Subianto - Hatta Rajasa dan Joko Widodo - Jusuf Kalla tak perlu lagi menunggu hasil survey kira- kira berapa ronde, jelas dapat dipastikan Pemilu Presiden 9 juli 2014 hanya akan berlangsung satu putaran.
Dua pasangan ini adalah putera bangsa terpilih dan teruji dengan segala sisi plus minusnya. Prabowo luar biasa, Jokowi hebat. Kedua pasangan ini juga memiliki kepiawaian dalam memimpin. Sekarang keduanya sedang beauty kontes untuk memikat hati rakyat Indonesia. Dua pasangan inilah yang diharapkan oleh bangsa yang besar ini akan membawa kedaulatan dan kemakmuran bagi rakyat dan negara kesatuan Republik Indonesia.
Pasangan Prabowo Subianto mendapat sokongan 6 partai antara lain Gerindra, PPP, PAN, PKS, Golkar dan PBB dengan akumulasi suara sah Nasional dari 6 parpol pada Pemilu legislatif 2014 sebanyak 61.137.746 atau 48,93 persen dengan perolehan kursi DPR RI 292 atau 52 persen. Gerindra 73 kursi, PPP 39, PAN 49, Golkar 91.
Sementara pasangan Joko Widodo- Jusuf Kalla diperkuat 4 parpol masing- masing PDIP, Nasdem, PKB dan Hanura. Jika dikumpulkan dati 4 parpol tersebut memperoleh suara sah Nasional 49.962.738 atau 39,97 persen. Dengan perolehan  207 kursi atau 37 persen. PDIP 109 kursi, Nasdem 35, PKB 47ditambah Hanura 16.
Ada satu parpol yang mengambil sikap netral disaat orang bersikap dengan pilihannya. Bersyukur tidak semua partai mengikuti langkah partai yang saat ini berkusa. Andai saja semua partai  netral maka tidak ada parpol yang punya calon presiden, tak dapat dibayangkan bagaimana regenerasi kepimpinan bangsa selanjutnya. Padahal partai yang  menang pemilu tahun 2009 dan kini harus puas melorot diurutan keempat pada pemilu 2014 perolehan suranya masih dua digit yaitu 10,19 persen serta mendapat 61 kursi DPR RI.
Mencermati data yang diperoleh dua pasangan tersebut maka Prabowo- Hatta Rajasa lebih unggul dalam perolehan dukungan maupun penguasaan kursi di parlemen dibandingkan dengan pasangan Jokowi- Jusuf Kalla. Andai saja dukungan itu kongruen dengan kepatuhan kader dan simpatisan masing-masing parpol pendukung maka Pasangan calon presiden yang disingkat Prajasa ini akan memenangkan pada pilihan tanggal 9 juli mendatang.
Hanya saja apakah dukungan elite Parpol akan dipatuhi oleh pengurus dan simpatisan Parpol. Inilah yang sekarang sudah berlangsung dengan babak seru. Terungkap dimedia betapa banyak parpol pecah suara alias tidak bulat. Terkadang kesepakatan elite parpol tak sebangun dengan kadernya. Begitu sebaliknya kemauan kader tak dapat juga seragam dengan ketua parpolnya. Apalagi harga 1 suara ketua dengan simpatisan parpol tidak ada bedanya 1 kepala satu suara.
Belajar dari pemilukada betapa terjadi hal yang mengejutkan, disejumlah daerah baik pilihan gubernur, Bupati/Walikota ketika dukungan dari banyak partai memang ada yang dengan mudah meraih kemenangan, tetapi dibeberapa daerah meski didukung oleh banyak parpol  namun akirnya yang kalah juga tidak sedikit. Ambil saja contoh pemilukada DKI antara petahana Fauzi Bowo melawan Jokowi. fenomena lain, dukungan parpol hanya sebagai syarat ke KPU  untuk tiket, sebab pemilukada lebih kepada pertarungan figur, sosok bukan dilihat dari parpolnya.
Deklarasi pencalonan Prajasa berlangsung meriah di rumah Polonia Jakarta Timur, rumah yang sejarahnya pernah di huni oleh proklamator bangsa Indonesia Soekarno, sementara Jokowi-JK di Gedung Joang 45 Jakarta Pusat. Kedua pasangan ini sama-sama mendapat tepuk tangan dan dielu-elukan dari pendukungnya. Keduanya menjadi sorotan ratusan juta rakyat Indonesia.
Sejauh mana dukungan dan suara akan diraup oleh kedua pasangan faktor beauty kontes sangat menentukan. Sikap, kiprah, sepak terjang kedua pasangan sangat mempengaruhi pada pemilih. Ibarat babak drama, kini penonton sudah mengamati setiap gerak- gerik kedua pasangan secara seksama.
Beda halnya jika diibaratkan perang, maka kedua pasangan juga sudah masuk gelanggang dengan prajurit dan persenjataan lengkap untuk serangan darat dan udara. Namun saya lebih senang dengan sebutan ala beauty kontes, mengesankan kepiawaian, kecerdasan dan kehebatan bukan memamerkan kekerasan atau kesombongan. Sehingga akan membuat suasana pemilu presiden yang damai dan bermartabat.
Komisi pemilihan umum (KPU) telah menetapkan lima kali jadwal debat capres dan cawapres di lima stasiun televisi. Debat terbuka untuk publik ini tentu akan dijadikan ajang kontestasi kedua padangan dalam penyampaian visi dan misinya. Prajasa-Jokowi-JK akan head to head beradu secara elegan dan terbuka, rakyat akan menonton adu hebat, adu "kuat" antara kedua pasangan, siapa pandai memikat insya Allah akan mempengaruhi elektabilitas lalu dicoblos.
Jika kontestasi kedua pasangan berhasil tampil memukau dan menarik hati, maka dipastikan juga akan mempengaruhi tingkat partisipasi pemilih. Tingkat partisipasi pemilih besar maka legitimasi terhadap presiden terpilih akan menjadi lebih kuat.
Membuka data tingkat partisipasi pemilih Riau pada pileg tahun 2014,  data KPU Riau menunjukkan tingkat partisipasi masih belum mencapai target baru sebesar 69,47 persen. Sementara target oleh KPU RI mematok secara nasional 70 persen . Menariknya justeru tingkat partisipasi pemilih terendah justeru di kota Pekanbaru yakni 58,13 persen dan tertinggi malahan di Rokan Hulu mencapai 78,50 persen. Maknanya semua pihak harus berkomitmen atas suksesnya pilpres, perkotaan tidak jaminan tingkat partisipasinya tinggi. Sebaliknya pedesaan justeru lebih peduli.
Semoga dengan beauty kontes Prajasa-Jokowi-JK, melalui serangan darat dan udara, akan mempengaruhi tingkat partisipasi pemilih. Dan yang paling utama KPU harus mengunakan metode yang mujarab untuk mengajak setiap warga negara untuk peduli pilpres. Jangan sampai terjadi kepedulian rakyat terhadap pilpres lebih rendah dibandingkan Pileg.
Menjelang  tahaban pilpres 31 Mei 2014, penetapan nama-nama pasangan calon capres dan cawapres membuat hiruk pikuk politik, menandakan kemeriahan pesta rakyat Indonesia. Kedua capres panen dukungan dari berbagai masyarakat dari berbagai komponen bangsa. Prabowo didukung Ahmad Dani yang musisi, Jokowi digandrungi Slank group band, Prabowo didukung Rafi Ahmad sang aktor dan presenter, begitupun Jokowi diperkuat Roy Marten aktor senior.
Di Barisan Prabowo ada tokoh bangsa Mahfud MD, para purnawirawan berpangkat  jenderal  seperti Jenderal Widodo AS tak ketinggalan para elite parpol non koalisi Hari Tanoesudibyo dan Fuad Bawazier. Di barisan Jokowi ada Anies Baswedan, jenderal Wismoyo Arismunandar, luhut panjaitan dan Poempida Hidayatullah.
Dukungan para tokoh, akademisi, elite parpol non koalisi, purnawirawan TNI/ Polri, atlet hingga artis merata untuk kedua pasangan. Tidak hanya itu media cetak dan elektronik meski secara kode etik tidak boleh berat sebelah, namun secara kasat mata publik dapat menilainya. Dalam celetukan di kedai kopi terdengar jika anda pendukung Prabowo lihatlah TV One, dan kalu anda menyukai Jokowi bukalah Metro TV.
Atas demokrasi  kita dipaksa dalam barisan yang berbeda, Dukungan boleh terbelah, pilihan boleh tidak sama,  tetapi kita tetap satu dengan semboyan damailah Indonesia.
Bagus Santoso adalah Anggota PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) Riau dan Ketua Komisi D DPRD Riau.