
“Prinsip hidup adalah terus berjuang” demikian bekal hidup pria yang dikenal ramah dan mudah tersenyum ini. Terus berjuang, bergiat, apapun profesi atau pekerjaan yang dilakukan semua karna ridho Allah, merupakan motivasi didalam hidupnya.
Siapa yang tidak kenal dengan Dr. Ahmad Effendi, pria berkaca mata yang ahli dalam dunia medis ini sudah malag melintang di Kota Dumai sejak tahun 1998 lalu. Berbekal kekuatan istri yang senantiasa memberikan motivasi hidup bagi dirinya maka tidak pernah terlontar kata yang menjadikannya putus asa.“Menurut saya hidup adalah terus berjuang, bergiat, apapun profesi atau pekerjaan kita, tentunya dalam upaya mencari ke ridhaan Yang Maha Esa. serta selalu bersyukur atas apapun yang diberikan oleh Allah SWT. Karena saya percaya segala yang ada pada kita adalah pemberian terbaik menurut ukuran Tuhan dan bukan menurut ukuran manusia.” Sebut pria yang memiliki dua orang putri dan dua orang putra tersebut.Memiliki satu istri dari ribuan juta wanita sholeha diatas dunia menjadikannya tabah dan tidak mudah mengeluh dalam berjuang menghadapi kehidupan yang keras. Triwarni Binti Badri, yang menjadi ibu dari dua pasang anaknya ini tersebut, terlahir dari keturunan Jawa Timur menjadikan pasangan pria berkaca mata ini setia menemani dalam suka dan dukanya.“Saya terlahir dari keturunan Tionghoa dan istri dari jawa Timur, kendati beda suku dan budaya kami mampu menaungi hidup berdua dalam berjuang menjalani kerasnya hidup dirantau orang ini,” kata Ahmad yang kini duduk sebagai wakil rakyat Kota Dumai.Terlahir pada 27 Oktober 1969 silam, Ahmad diberikan hidayah pada tahun 1995 untuk menganut agama Islam. Berkeyakinan akan kekuasaan Allah SWT menjadikannya sulit ditakhlukkan oleh kezaliman dan kejahatan dalam kehidupan sehari-harinya.“Saya yakin akan kekuasaan dan azab Allah, sehingga untuk berbuat zalim dan berbuat tidak benar saya takut akan siksanya yang amat pedih,” sebutnya.Ditambahkan politisi partai PAN ini, dalam menggeluti dunia politik dirinya berusaha untuk terus jujur dan tetap pada jalan kebenaran. “Saya selalu mengingat Allah disetiap langkah dan perbuatan saya, itu modal untuk tidak berbuat hal-hal yang negatif,” ungkapnya.Ditempah Kehidupan Keluarga yang MiskinDilahirkan di Bagan Siapi-api pada 27 Oktober 1969 silam saat itu masih masuk wilayah Kabupaten Bengkalis, Ahmad Effendi ditempah oleh kehidupan keluarga nelayan yang miskin sehingga menjadikannya kepala keluarga yang kuat dalam menaungi kerasnya roda kehidupan.“Keluarga saya nelayan, sehingga banyak keterbatasan keluarga yang memaksa saya untuk merantau ke Sumatra Barat sambil menikmati bangku SMA saya bekerja untuk biaya sendiri Alhamdulillah bisa melanjutkan kepada perguruan tinggi ilmu kedokteran melalui ujian Sipenmaru yang diselenggarakan pemerintah,” sebutnya.Dikisahkan Bendahara Partai PAN ini, usai meraih gelar sarjana dirinya bekerja sebagai Pegawai Tidak Tetap (PTT) saat menjalani profesi dokter dan bekerja untuk pemerintah di puskesmas Tanjung Samak , Kecamatan Rangsang tahun 1994 sampai 1997 dan tepat pada tahun 1998 melakukan Hijrah ke Kota Dumai untuk mencoba keuntungan hidup lebih baik. Berbekal ilmu medis yang masih minim, dirinya mencoba bekerja sepenuh hati dan ikhlas dalam menolong dan menangani pasian menjadikannya dokter yang hebat dan dikenal banyak masyarakat Kota Dumai.“Saya dibiayai oleh pemerintah saat itu namun Alhamdulillah saya bisa menyelesaikan kuliah dengan nilai yang cukup baik dan usai mendapatkan gelar di Sumatra Barat saya mencoba nasib sebagai Pegawai Tidak Tetap (PTT) saat menjalani profesi dokter dan bekerja untuk pemerintah di puskesmas Tanjung Samak , Kecamatan Rangsang tahun 1994 sampai dengan 1997 dan tepat pada tahun 1998 baru saya Hijrah ke Kota Dumai, dan mengawali karir dengan profesi sebagai dokter medis bayaran dari salah satu klinik di Dumai,” kisahnya.Suami dari Triwarni ini mampu bertahan hidup dengan bayaran Rp3000 per pasien didalanya termasuk biaya hidup transportasi dan uang makan untuk keluarga. Berkat keyakinan dan kerja keras kini Ahmad berhasil memiliki satu Klinik Rawat Inap Padu Serasi yang berdiri megah di tengah-tengah Kota Dumai.“untuk mendapatkan ini semua saya bekerja dengan keras dengan uang honor Rp3000 per pasiennya pada 1998 saya mencoba hidup dengan keluarga dan untuk mengurangi kos dari honor saya berjalan kaki dari rumah ke tempat kerja dengan jarak yang lumayan jauh,” jelasnya.Anggota DPRD Dumai ini menyebutkan semua pekerjaan hendaknya dikerjakan dengan niat yang baik, keyakinan dan kerja keras serta keikhlasan, karna hanya dengan demikian bisa diraih suatu kesuksesan hidup.“Saya duduk di Legislatif demi Masyarakat Dumai, alhamdulillah dengan segala keterbatasan dana dan dukungan saya ditakdirkan duduk sebagai wakil rakyat periode 2009 sampai 2014 mendatang,” kata Ahmad.Menurut ketua fraksi PAN DPRD Dumai ini juga, profesi dokter bukan hanya milik keluarga yang mampu atau terdidik saja, tapi dapat dimilikki oleh siapa saja, asal dengan tekad dan kerja keras bisa mendapatkannya. saya bisa mencicipi pendidikan kedokteran karena dibantu oleh pemerintah saat itu dengan biaya terjangkau dengan sistem penerimaan mahasiswa baru ( sipenmaru ) tahun 1987 silam." tandasnya.***