
LUBUKBASUNG – Kematian ikan di Danau Maninjau, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, terus meningkat. Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Agam mencatat tambahan 50 ton ikan mati, sehingga totalnya mencapai 75 ton akibat angin kencang yang melanda sejak Minggu (12/1/2025).
"Kami menerima laporan terbaru dari penyuluh perikanan lapangan, yang mencatat kematian ikan di Nagari Tanjung Sani, Kecamatan Tanjung Raya, pada Sabtu (18/1)," ujar Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Agam, Rosva Deswira, didampingi Penyuluh Perikanan Lapangan, Asrul Deni Putra, di Lubuk Basung, Minggu (19/1/2025).
Menurutnya, ikan yang mati merupakan jenis nila dengan berbagai ukuran dan berasal dari puluhan petak keramba jaring apung milik sejumlah petani. Sebelumnya, 25 ton ikan juga mati di Nagari Bayua, Kecamatan Tanjung Raya, Senin (13/1).
Kematian ikan ini terjadi akibat fenomena upwelling, yaitu pembalikan air dari dasar ke permukaan danau, yang menyebabkan kadar oksigen menurun drastis. "Angin kencang yang terjadi pada Minggu (12/1) sore menyebabkan kondisi air berubah, membuat ikan stres hingga akhirnya mati," jelasnya.
Bangkai ikan mulai mengapung di permukaan sejak Senin (13/1), dan kejadian serupa kini meluas ke wilayah lain. "Kami terus melakukan pemantauan di lapangan untuk memastikan data terbaru," tambahnya.
Rosva mengimbau para petani untuk tidak membuang bangkai ikan ke dalam danau agar tidak mencemari air. "Kami meminta petani mengumpulkan dan menguburkan ikan mati untuk menjaga kualitas lingkungan danau," katanya.
Sebagai langkah antisipasi, pihaknya telah mengeluarkan surat Nomor 500.5.3.3/435/DKPP/2024 tentang Prediksi Cuaca Ekstrem dan Upaya Pencegahan Kematian Ikan di Danau Maninjau, yang diterbitkan pada 21 November 2024. Surat tersebut telah disampaikan kepada wali nagari dan Camat Tanjung Raya untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat.
"Kami sudah memberikan peringatan agar petani lebih waspada terhadap cuaca ekstrem yang dapat mempengaruhi budidaya ikan," pungkasnya. (ant)