
JAKARTA - Pemerintah resmi meluncurkan program biodiesel B50 dengan pencampuran biodiesel kelapa sawit sebesar 50 persen ke dalam bahan bakar minyak (BBM) jenis solar. Program ini dinilai mampu mengurangi ketergantungan terhadap impor solar, meski disisi lain memunculkan kekhawatiran terkait potensi kerusakan mesin.
Merespons keresahan tersebut, Pengamat Energi Center of Reform on Economics (CORE), Muhammad Ishak Razak memastikan belum ada hasil uji jalan (road test) dari sejumlah produsen truk yang menunjukkan kerusakan signifikan akibat penggunaan B50.
"Untuk mesin logistik, secara umum B50 tidak serta-merta merusak mesin diesel modern, dan hasil road test dari beberapa produsen truk belum menunjukkan gejala kerusakan berarti," ujar Ishak kepada inilah.com, Jakarta, Sabtu (11/7/2026).
Sebelum implementasi penuh diterapkan, industri otomotif sebelumnya sempat meminta masa transisi agar teknologi kendaraan dan infrastruktur pendukung benar-benar siap. Persoalan yang kerap muncul ternyata bukan berpusat pada kerusakan mesin secara langsung, melainkan dampak serius terhadap komponen pendukung.
Penggunaan campuran biodiesel yang lebih tinggi membawa konsekuensi berupa peningkatan kebutuhan perawatan, khususnya bagi kendaraan logistik. Beberapa kendala teknis yang patut diwaspadai meliputi:
"Risikonya akan lebih besar pada pada truk tua karena seal dan selang berbahan karet konvensional bisa mengembang atau retak terkena biodiesel pekat, sehingga perlu diganti ke material sintetis," jelasnya.
Selama operator kendaraan disiplin melakukan perawatan berkala, penggunaan B50 belum terbukti menimbulkan kerusakan langsung. Langkah perawatan wajib meliputi percepatan jadwal penggantian filter dan oli, serta pemeriksaan rutin terhadap kondisi seal dan injektor.
"Kalau jadwal perawatan dipenuhi, sejauh ini belum ditemukan pengaruh langsung terhadap kerusakan mesin. Namun jika diabaikan, risikonya bukan mesin langsung rusak, melainkan meningkatnya downtime kendaraan dan biaya perawatan," paparnya. ***