
PEKANBARU - Langkah awal Kapolda Riau, Irjen Pol Arman Achdiat di Bumi Lancang Kuning langsung diwarnai dengan penegasan sikap. Lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) tahun 1992 ini menginstruksikan seluruh jajarannya untuk mengedepankan empati dan pantang menyakiti hati warga dalam memberikan pelayanan di lapangan.
Irjen Arman resmi memegang tongkat komando kepolisian daerah tersebut setelah dilantik oleh Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto, Sabtu (3/10/2026). Ia hadir ke Riau untuk menempati posisi yang ditinggalkan Komjen Pol Herry Heryawan yang kini mendapat promosi jabatan sebagai Kepala Badan Pemelihara Keamanan (Kabaharkam) Polri.
Mengawali masa jabatannya, jenderal bintang dua ini menyatakan kesiapannya untuk langsung bekerja mengeksekusi berbagai program serta arahan pimpinan tertinggi Korps Bhayangkara. Menurutnya, kehadiran fisik personel kepolisian di tengah permukiman penduduk harus diiringi dengan rasa kepedulian yang nyata.
"Kalau kita bicara polisi harus dekat dengan masyarakat, berarti kita harus ada empati, responsif, peduli dan loyalitas kepada masyarakat," sebutnya, Minggu (4/10/2026).
Ia secara khusus mengingatkan agar personel kepolisian tidak melakukan tindakan yang dapat mencederai kepercayaan publik yang selama ini sudah dibangun. Kepercayaan tersebut hanya bisa dipertahankan lewat dedikasi pelayanan yang tulus.
"Sebagai polisi jangan sakiti masyarakat, kita sendiri kan juga tidak ingin disakiti. Berikan pelayanan terbaik kepada masyarakat," tegasnya.
Untuk memastikan standar pelayanan ini terpenuhi, Irjen Arman menyiapkan skema evaluasi internal di tubuh kepolisian daerah yang dipimpinnya. Anggota polisi yang terbukti kehilangan empati atau tidak peka terhadap kondisi dan keluhan warga akan ditarik sementara guna menjalani pembinaan mentalitas serta pelayanan.
"Kalau seorang polisi tidak punya jiwa seperti itu, ya mungkin mohon maaf, untuk era sekarang, ya minimal kita berikan pembinaan dululah untuk bisa jadi seorang polisi yang bisa dipercaya masyarakat. Bagaimana bisa dipercaya kalau tidak dicintai," urainya.
Selain persoalan kualitas pelayanan internal, mantan Perwira Tinggi Badan Intelijen Keamanan (Baintelkam) Polri ini menyoroti pentingnya menghargai tatanan adat tempatan. Seluruh personel diwajibkan untuk menjadikan kearifan lokal Riau sebagai pedoman dalam berinteraksi dengan warga sehari-hari maupun ketika melakukan penegakan hukum.
"Bagaimana keinginan masyarakat, menjaga aturan dan norma yang ada di Bumi Lancang Kuning ya harus kita jadikan pedoman, apa yang sudah jadi tatanan harus kita tegakkan," pungkasnya.
Rekam jejak Irjen Arman selama 34 tahun mengabdi di institusi Polri menjadi bekal dalam memimpin Riau. Sebelum mendapat penugasan khusus di Badan Intelijen Negara (BIN) sejak Januari 2025, perwira tinggi ini memiliki banyak pengalaman di bidang reserse dan lalu lintas. Ia tercatat pernah menduduki sejumlah posisi pimpinan wilayah, mulai dari Kapolres Sumedang, Kapolres Karawang, hingga menjabat sebagai Direktur Lalu Lintas Polda Jawa Tengah. ***