
JAKARTA - Rentetan serangan militer dan embargo ekonomi pasca memanasnya konflik akhir Februari lalu membuat pemerintah Iran menutup rapat pintu kepercayaan terhadap Amerika Serikat. Penutupan akses Selat Hormuz yang saat ini melumpuhkan sebagian lalu lintas pelayaran global ditegaskan oleh Teheran sebagai reaksi imbang atas agresi yang merongrong kedaulatan mereka.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian secara terbuka mengkritik rekam jejak diplomasi Washington yang kerap berujung pada ingkar janji.
Mempertanyakan Dasar Kesepahaman
Sikap keras Teheran ini berakar dari pengalaman negosiasi masa lalu yang justru diikuti dengan gempuran militer mematikan dan rentetan sanksi ekonomi.
"Kami tidak memiliki kepercayaan terhadap pihak Amerika dan tidak tahu atas dasar apa kesepahaman dapat dicapai dengan mereka," tegas Pezeshkian, Minggu (27/9/2026).
Konflik terbuka ini berkobar hebat menyusul serangan pasukan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari 2026 yang mengakibatkan gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ayatollah Ali Khamenei. Sejak insiden tersebut, Pezeshkian menyebut AS sebagai pihak agresor, mengingat Iran tidak pernah menginisiasi serangan ke negara manapun dalam kurun waktu 200 tahun terakhir.
Blokade Akses Sebagai Respons Alami
Terkait terhentinya urat nadi pelayaran komersial di Selat Hormuz, Pezeshkian menolak keras anggapan bahwa Iran adalah pihak yang sengaja memicu krisis global. Ia menuding Washington yang terlebih dahulu bertindak menutup jalur akses bagi negaranya.
"Ini adalah respons wajar ketika jalur akses menuju Iran diputus," paparnya.
Pezeshkian menguraikan bahwa militer negaranya hanya menargetkan pangkalan pasukan AS di wilayah negara-negara Islam, karena operasi yang menyerang kedaulatan Iran diluncurkan dari titik-titik tersebut.
Soroti Krisis Kemanusiaan dan Keamanan Regional
Selain masalah agresi bersenjata, Pezeshkian menyoroti dampak sanksi yang menghalangi akses rakyatnya terhadap obat-obatan dan bahan baku industri. Ia menyamakan taktik embargo ini dengan upaya memutus pasokan makanan dan air bersih bagi masyarakat sipil di Gaza, Palestina.
Menghadapi intervensi militer lintas benua ini, Pezeshkian menyerukan agar negara-negara Islam di Timur Tengah menyelesaikan masalah keamanan secara mandiri. Ia meminta Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman untuk duduk bersama dan menyelesaikan perbedaan mereka melalui jalur dialog terbuka.***