PEKANBARU - Gelombang almamater kuning memadati ruas Jalan Jenderal Sudirman ketika sekitar 200 mahasiswa Universitas Lancang Kuning (Unilak) menggelar aksi unjuk rasa di depan gerbang utama Kantor Gubernur Riau. Kedatangan mereka membawa deretan atribut mulai dari bendera, spanduk tuntutan, hingga mobil komando untuk menyoroti keadilan alokasi anggaran daerah bagi masyarakat luas.

Unjuk rasa yang digelar Selasa (20/10/2026) tersebut fokus pada kepastian akses program Beasiswa Riau Cerdas. Massa menilai masyarakat butuh transparansi terkait kuota, besaran anggaran, serta tahapan seleksi beasiswa agar pemerataan pendidikan benar-benar dirasakan oleh keluarga kurang mampu.

Sekretaris Jenderal BEM Unilak, Akbar menyampaikan bahwa mahasiswa turun ke jalan untuk mengawal hak-hak masyarakat yang bersumber dari kekayaan alam daerah. Ia mempertanyakan mekanisme penyaluran Dana Bagi Hasil (DBH) yang dinilai belum terbuka sepenuhnya kepada publik.

"Jika benar daerah kita hanya menerima porsi bagi hasil sebesar satu persen dari pusat, skema ini harus dijelaskan secara transparan. Kami meminta pemerintah provinsi berani memperjuangkan keadilan sumber daya alam ini demi kesejahteraan warga Riau," ujar Akbar dari atas mobil komando.

Selain isu pendidikan dan tata kelola anggaran, massa juga mendesak ketegasan sikap pemerintah daerah terkait maraknya perbincangan tentang isu LGBT. Mahasiswa meminta Pemprov mengambil kebijakan preventif dan pengawasan yang jelas demi melindungi generasi muda, dengan tetap berpedoman pada hukum yang berlaku.

Aspirasi dari ratusan mahasiswa ini direspons oleh Perwakilan Pemprov, Dr Syahrial Abdi, AP, MSi yang keluar dari gedung untuk menemui massa. Ia menjelaskan bahwa Gubernur Riau, SF Hariyanto tidak dapat hadir di tengah-tengah massa karena sedang menjalankan agenda dinas di luar daerah.

"Terima kasih atas kepedulian mahasiswa yang hadir hari ini. Aspirasi mengenai beasiswa, DBH, maupun persoalan sosial lainnya sudah kami dengar dan akan segera kami laporkan kepada pimpinan," terang Syahrial.

Menjelang petang, aksi yang turut diwarnai pembacaan puisi oleh perwakilan mahasiswi Unilak ini diakhiri dengan komunikasi virtual. Perwakilan mahasiswa melakukan panggilan video langsung dengan Gubernur Riau, SF Hariyanto untuk menyampaikan tuntutan mereka sebelum akhirnya membubarkan diri secara kondusif pada pukul 18.10 WIB.

(wpa)